2

438 41 11
                                        

"Mi! Tunggu!"

Bukannya berhenti, Memi malah makin cepet ngelangkah. Tapi sia-sia toh mereka sekelas dan pasti ujungnya sama.

"Mi! Dengerin aku dulu."

Kage, yang emang udah dateng duluan ke kelas otomatis langsung pengen ikut campur sama keributan kecil dari dua sahabatnya yang barusan nyampe di kelas tapi langsung gak enak suasananya.

"Enggak usah di jelasin. Aku udah ngerti, jadi jangan dibahas lagi."

"Tapi Mi—"

Tanpa denger lanjutan ucapan Techi, Memi memilih buat kabur keluar kelas setelah nyimpen tas di meja sebelum pacar —ah mantannya itu sadar dia sudah hampir menjatuhkan air mata.

Techi cuma diem merhatiin Memi yang mulai menghilang di balik pintu.

"Kenapa lagi?" Tanya Kage akhirnya.

"Dia tau."

Untuk sesaat ekspresi Kage keliatan kaget, tapi berhasil dikuasai. Sesuai dugaannya, masalah itu cepet atau lambat bakalan ketahuan. Apalagi mereka udah sma kaya gini, waktunya pas banget.

"Terus?"

"Kita terpaksa putus."

"Hhhh... itu emang udah jadi keputusan terbaik sih."

Techi ngelirik sahabatnya dengan tatapan sendu. "Harusnya gue bisa ngelakuin sesuatu."

"Gak. Gak bisa. Kita enggak bisa ngerubahnya, jadi jangan ngelakuin hal yang sia-sia. Putus ya putus, udah."

"Tapi..." helaan nafas pendek Techi hembuskan guna mengurangi rasa sesak yang dirasakannya. "Gak seharusnya kita selesai secepat ini."

"Gue ngerti kok. Makanya mending juga enggak pacaran."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Bel istirahat bunyi, Memi yang emang niat buat ngejauh dari Techi dapet lampu ijo karena Kage secara kooperatif nahan temennya itu buat ngebiarin Memi sendirian dulu. Area taman belakang jadi tempat pas buat Memi menyendiri, selain tempatnya cuma dipake sama murid yang mau baca buku di gazebo-gazebo yang ada, disana juga minim keributan.

Langit cerah gak sama kaya hati Memi yang mendung, berkabut. Suasana hatinya enggak enak sepanjang hari ini. Rasanya pengen kabur-kaburan kaya seminggu yang lalu. Sekarang Memi cuma bisa menenggelamkan kepalanya diantara tangan yang dilipat diatas lutut, menikmati kesendiriannya.

"Memi?"

Sang empunya nama mendongak, hatinya semakin tidak karu-karuan melihat siapa yang berdiri di depannya.

"Bisa kita ngobrol sebentar?"

Memi bingung hendak merespon apa, sangatlah tidak sopan jika begitu saja menolak. Tapi dalam hati kecilnya ia tidak ingin berbicara pada siapapun untuk saat ini.

Beruntung untuk Memi secara ajaib handphonenya berbunyi, menampakan sebuah panggilan datang. Ini adalah pertanda untuknya agar menghindar.

"Maaf kak nanti aja ya." Ucapnya sambil berlalu pergi.

Setelah berjalan agak jauh, Memi menghela nafas lega. Dilihatnya panggilan itu kini menjadi sebuah tanda panggilan tak terjawab. Senyumnya mengembang begitu melihat nama Shimizu Rika tertulis disana, seseorang yang tanpa sadar menyelamatkannya untuk melarikan diri dari orang yang sangat ingin dia tidak ingin ditemui.

"Maaf gak ke angkat. Ada apa?"

"Gue kira ngeganggu, taunya nelpon balik hehehe. Ini... gue mau ngasih tau kalo kita mau ke sma keyaki  besok, jadi team hore buat pertandingan basket."

YOLO!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang