"Jika aku penghalangnya. Hancurkan saja! Karena menjadi utuh rasanya pasti lebih menyakitkan."
--Shindu Wijaya--
***
"Ibu gak bercanda, 'kan?"
"Mommy, serius?"
Pandu dan Shindu mengajukan pertanyaan yang sama bersamaan. Mereka belum percaya saja semudah itu menaklukan hati simbah.
Jangan-jangan Shintia bercanda, tapi mana mungkin dia bercanda untuk urusan sepenting ini.
Keduanya penasaran. Sebenarnya apa yang dikatakan Shintia pada simbah, hingga dengan sekali kunjungan saja mereka bisa mengantongi restu simbah.
"Iya, masa yang kayak gini dipakai bercanda sih, sayang .... "
Shindu mengangguk setuju. Benar 'kan mommy-nya tahu pasti kapan harus serius dan apa yang bisa dibuat bercandaan.
"Ibu bilang apa ke Simbah?" Kali ini Pandu yang bertanya lebih dulu. Sedangkan Shindu menunggu jawaban Shintia dengan mata kecilnya yang berkedip penasaran.
"Semuanya, terutama status Ibu sekarang. Mungkin itu yang paling penting untuk simbah nilai."
"Mommy yang sudah cerai, maksudnya?"
Lirih, Shindu memperjelas maksud Shintia. Iya, dia tahu benar simbah tidak akan mengizinkan Pandu untuk kembali tinggal dengan Shintia jika masih ada Rama.
Shintia mengangguk. Membenarkan perkataan Shindu, kemudian coba meremas jemari dingin Shindu lebih erat.
Bagaimana pun juga perceraiannya adalah luka bagi Shindu. Walau Shindu sendiri yang menginginkannya, namun tidak mungkin jika anak itu tidak terluka.
Shindu hancur. Dan Shintia tahu betul soal itu.
Kali ini Shindu sadar ada hikmah di balik kehancuran keluarganya. Dia yakin ada keluarga baru yang lebih indah yang menantinya.
Walau Rama tidak selalu di sisinya, dan seberapa jauh pun mereka terpisah, Rama tetap Ayahnya. Tidak ada yang bisa merubah fakta itu, termasuk keluarga lain Rama, termasuk anak lain yang Rama dapatkan dari istri yang lebih dia cintai.
Shindu tetap putra dari Rama Wijaya.
Dan ketika mereka tidak diizinkan Tuhan untuk berkumpul sebagai keluarga seperti dulu. Ada Pandu yang Tuhan kirimkan untuk menggantikan Rama. Sebagai seorang kakak yang selalu Shindu dambakan.
Namun, sebanyak apapun Shindu bersyukur untuk keluarga barunya. Tetap saja, rasa bahagia itu tidak akan terasa utuh jika di luar sana masih ada sosok yang harus terluka karena kebenaran yang mereka sembunyikan.
Shindu tidak menginginkannya.
Karena tepat saat Shindu merasakan genggaman Shintia pada jemari kurusnya yang mengerat. Shindu tahu jika ada sesuatu yang Shintia sembunyikan dari dirinya.
Kali ini Shindu memilih untuk diam. Selain karena merasa bersalah, ada rasa lain yang entah datang dari mana. Sulit bagi Shindu untuk menafsirkannya, rasanya begitu berat. Seolah Shindu menjadi penghalang atas kebahagian Shintia dan Pandu
"Kamu masih libur 'kan, sayang? Coba besok sowan Simbah, beliau pengen nanya langsung sama kamu."
Pandu mengangguk patuh, masih dengan senyum bahagianya.
"Shindu ikut, Mas."
"Tidak, sayang!"
Mata Pandu melebar kaget, senyumnya pudar saat Shintia menaikan nada suaranya hanya untuk menjawab permintaan Shindu yang sepele.
KAMU SEDANG MEMBACA
Solo, Please Help Me (Complete)
Historia CortaSolo, Please Help Me... berkisah tentang Shindu. Si pesimis lemah yang pulang ke Solo setelah lahir dan besar di negeri orang. Shindu datang ke Solo dengan sebuah misi, sebuah tujuan terbesar yang pernah dia usahakan dalam hidupnya. Karena semua ya...
