Hah hah hah
Aku memegang lututku yang terasa lemas sekali. Kembali ku tengok ke belakang, memastikan mereka tidak mengikutiku lagi. Aku pun menghela nafas lega, saat tak melihat bayangan mereka lagi.
Baru saja aku ingin kembali berjalan, kini di depanku sudah berdiri para temanku, ah bukan. Mereka tidak pantas di sebut teman.
Aku berjalan mundur saat mereka semakin mendekat, dengan seringai menakutkan itu.
"Mau kemana lo cupu?."
Aku menggeleng sekuat tenaga.
Dua teman Riska maju, memegangi kedua tanganku. Aku meronta sekuat tenaga, tapi tetap saja tak ada yang berubah.
Prok
Sebutir telur Riska lempar mengenai dahiku. Sakit yang kurasakan tak sebanding dengan rasa kecewaku, terhadap diriku sendiri yang terlihat lemah di hadapan mereka.
"Please stop it ka!!"
"Udah mulai berani lo ya?!!"
Lemparan demi lemparan telur itu ku terima. Belum lagi kini tepung yang lengket akibat telur itu. Aku tidak menangis, karena semakin aku terlihat lemah, mereka akan semakin puas.
Sebelum sebuah tinjuan melayang ke pipi kiriku. Di ikuti oleh tamparan tamparan yang menyakitkan. Lalu diakhiri oleh sebuah tendangan yang mengarah pada perutku, membuat aku seketika terjatuh dan meringkuk kesakitan.
"Tolong .... aku" kataku dengan lemah.
Mereka tertawa puas dan meninggalkanku yang tergeletak tak berdaya.
Aku meringkuk saat kurasakan sakit itu tak kunjung mereda. Lalu kurasakan sebuah tepukan pelan pada pipiku.
"Ayo bangun, gue anterin."
Nadse
Sret
Gracia terbangun dengan nafas tersengal, peluh serasa membanjiri tubuhnya. Jam masih menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Mimpi itu masih sering menghantuinya, tentang masa masa terburuknya sebelum dia bertemu Nadse dan pindah kesini. Saat dimana semua dunianya terasa seperti neraka.
Memorinya terus memutar kejadian demi kejadian saat dia masih bersama Nadse dulu. Mulai saat pertama gadis itu menolongnya dan masa itu, masa dimana dirinya mulai mengenal cinta.
Saat itu semua dunia Gracia seakan di jungkir balikkan. Nadse seakan setetes air yang mengalir saat kemarau panjang. Sebelum Nadse berubah menjadi amat posesif padanya, saat itu juga Gracia sadar bahwa Nadse terobsesi padanya. Itu jelas bukan cinta. Rasa sayang Gracia pada Nadse perlahan berubah jadi rasa takut, tak jarang keduanya bertengkar hanya gara gara Gracia lupa memberinya kabar.
Setelah merasa sedikit tenang, Gracia minum dan beranjak keluar.
.
..
...
Shani merasakan tidurnya terganggu, tempatnya terasa sedikit sempit.
Dia mengerjapkan matanya saat merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya.
"Maaf mengganggu, tidurlah lagi."
Saat Shani hendak membalikkan tubuhnya, Gracia menahannya. "Seperti ini saja sebentar, Shani."
Shani merasakan hidung kekasihnya menempel pada pundaknya. Menghirupnya dalam, dan menelusurinya hingga ke tengkuk Shani.
Saat dia mulai merasa gelenyar aneh itu, Shani segera membalikkan tubuhnya. "Kamu kenapa dini hari kesini, ada apa?."
