Cinta itu memang indah. Semua bisa berubah jika sudah berurusan dengan cinta. Yang awalnya tidak suka bisa menjadi suka, begitupun sebaliknya. Tapi cinta bisa dikatakan indah jika itu tidak searah. Bagaikan dua kutub magnet yang berbeda tetapi saling tarik menarik. Lalu bagaimana dengan cinta yang tak berbalas?.
Jikalau saja dia dan Gracia tidak bertemu kembali, jikalau saja dia tidak pernah menjatuhkan hatinya kepada gadis itu. Tapi mengenai jatuh cintanya, dia tidak bisa memilih bukan?.
Shani mengelap air matanya yang masih terus mengalir, mengabaikan keberadaan Gracia di sampingnya. Sedangkan Gracia hanya bisa diam dan terus mengelus punggung Shani.
"Kok kamu nangisnya daritadi gak berhenti sih?." Gracia mulai mengubah bicaranya, yang biasanya pakai gue-elo.
Hening masih menguasai suasana diantara mereka. Pasca ditinggal pergi Shani begitu saja, Gracia memilih membiarkan agar Shani sendiri dulu. Hingga pagi ini menjelang, dia masih tak mendapati keberadaan Shani di sekitarnya.
Setelah jadwal minum obat tadi, Gracia menelpon Shani ada dimana dan ya, mereka saat ini berada di taman rumah sakit. Dengan Shani yang tiba tiba menangis saat melihat Gracia.
Tangis Shani sudah sedikit mereda, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Kamu kalo nangis terus, mereka yang lihat kita pasti mikir kamu sedih karena aku punya penyakit mematikan, apalagi aku masih pakai baju biru muda ini." Gracia masih mencoba memancing Shani untuk bicara, tapi tak ada tanggapan sama sekali.
Gracia jadi bingung apa yang sebenarnya terjadi. "Apa terjadi sesuatu saat aku sedang koma kemarin?."
Lagi. Usahanya tak membuahkan hasil, "Kamu jangan diem terus, nanti aku jadi kangen terus." Helaan nafasnya lolos.
Tapi sepertinya kali ini berhasil, terbukti dari Shani yang mulai menoleh menatapnya. Tau gitu tadi bilang kangen aja.
"Kamu kenapa lakuin ini?."
Kernyitan langsung nampak di dahi Gracia. "Ini apa?."
"Kenapa kamu tadi malam malah bangun dan berdebat sama dokter buat mindahin aku tidur?."
"Ya karena kamu keliatan capek banget, dan tidur dalam posisi duduk begitu itu gak baik. Kamu kenapa?."
Shani menghela nafasnya kasar dan memejamkan matanya. Meredam emosi yang entah berasal dari perkara apa. Tatapan Shani yang belum pernah Gracia lihat sebelumnya kini terpampang di depannya.
"Kamu tau seberapa khawatirnya aku sama kamu? Kamu tau gak kalo aku rela begadang demi nungguin kamu bangun?. Tapi kamu sendiri malah gak hati hati sama kondisi kamu."
Gracia kali ini menampilkan wajah sendunya, "maaf, kamu tau kan aku gak maksud gitu."
"Ayah kamu kemarin bicara sama aku."
Flashback
Shani mengikuti David dengan takut takut. Karena ini adalah kali pertama dia bicara berdua dengan ayah sahabatnya. Sesampai di atap rumah sakit, David menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Kamu suka sama Gracia?." Tanpa basa basi David bertanya.
Degupan jantung Shani mulai terpacu, dia tak tau harus menjawab apa. Akhirnya dia hanya menundukkan kepalanya. Desahan lelah nafas David terdengar, kini pria itu melangkah mendekat pada Shani dan memegang pundaknya.
"Om tau apa yang terjadi diantara kalian, om minta maaf karena perbuatan om, Gracia jadi sulit buat buka hatinya."
Kini Shani mulai sedikit berani mengangkat wajahnya dan menatap raut penuh sesal dari David. Cerita pun bergulir.
"Kamu pasti sudah tau jika cinta kamu itu tidak bisa dikatakan benar, tapi om gak mau menghakiminya karena itu milik kamu dan cinta itu suci. Sekarang kamu harus mulai berani mengambil keputusan, karena hati kamu akan tidak sehat jika terus digantung sama anak om."
Shani menggeleng dan tersenyum. "Shani siap kok om nunggu Gracia sampai kapanpun."
"Kalau begitu tanya sendiri kepastian hati kamu buat Gracia sebelum terlambat. Itu hak kamu. Sebelum cinta yang kamu kasih sudah kadaluarsa karena kamu jarang membahasnya."
Langkah Shani tidak menunjukkan sebuah semangat. Lemas. Dia mulai masuk ke ruangan Gracia dan duduk di sebelah bangsal. Memandang Gracia dengan sendu. "Saat aku lagi khawatir sama kamu, ayah kamu datang buat nyadarin aku. Bahwa aku juga harus khawatir dengan diriku sendiri. Aku harus menjaga agar aku tetap waras karena aku ternyata udah gila karena kamu."
"Jadi kapan kamu mau menjawab cinta aku Gre. Please bangun."
Flashback end
Sekilas, Gracia melihat kilatan emosi di wajah Shani. Seolah itu adalah sesuatu yang dia coba untuk kendalikan. "Jadi intinya apa?." Tanya Gracia acuh.
Sebenarnya dia sudah paham akan maksud semua cerita Shani. Dia hanya ingin membuat Shani mengatakannya secara langsung. Cukup lama Shani terdiam, hingga satu tangan Shani jatuh di atas tangan Gracia. "Jadi pacar aku."
Gracia menatap Shani datar, tatapan yang belum pernah Shani lihat dari Gracia. Perlahan Gracia menarik tangannya, "Gue gak bisa."
Shani menatap Gracia penuh tanya. "Kenapa?."
"Pentingkah bahas itu sekarang disaat kondisi gue kayak gini, hem?."
"Dengan kondisi kamu yang kayak tadi malam, itu menunjukkan bahwa kamu sudah baik baik saja. Katakan saja aku jahat, tapi kamu sendiri yang menunjukkan itu." Kekeh Shani.
Ringisan pelan keluar dari bibir Gracia, entah kenapa sakit di perutnya kembali terasa. Dia menarik nafas dalam untuk mengurangi rasa sakitnya. Saat dia berhasil, tatapannya kini tertuju pada Shani yang masih menatapnya.
"Lo bener, gue udah baik baik aja. Tapi maaf, gue tetep gak bisa. Gue hanya gak mau suatu saat kita nyesel setelah ambil keputusan itu, sekali lagi maafin gue."
Seiring dengan langkah Gracia yang mulai menjauh. Setetes airmata jatuh dari pelupuk Shani. Dia tahu dia jahat, tidak pintar memilih suasana. Tapi dia juga ingin sesekali egois demi dirinya. Demi kewarasan semua pikirannya.
Tapi nampaknya dia masih diberi kapasitas kegilaan dengan sebuah penolakan tadi. Malah kini hatinya sudah tidak digantung lagi, tapi sudah ditolak.
Gini yah rasanya patah hati =']
Tbc
Maaf ya, kayaknya saya ingkar janji karena belum bisa namatin. Mungkin beberapa part lagi 😅
Biasalah, saya paling sulit untuk mengakhiri sesuatu.
Vote dan komen jangan lupa
Bonus foto Graciluv😘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.