"Ayah."
Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir Gracia. Membuat seorang paruh baya yang daritadi menatap ponselnya kini mendongak. Tatapan terkejutnya tak bisa dihindari lagi. Lidahnya ikut mendadak kelu saat dirinya seakan tertangkap menggunakan narkoba.
"Gracia."
Hanya itu yang mampu David keluarkan. Entah kenapa dia mendadak seperti ini. Rasanya campur aduk, sama seperti yang dirasakan oleh Gracia.
Tanpa berkata apapun lagi, Gracia segera berbalik. Diikuti Shani di belakangnya. David pun ikut beranjak dan mengikuti langkah sepasang kekasih tersebut.
"Tunggu Gracia, ayah bisa jelasin." teriak David, tapi Gracia terus saja melangkah dan masuk ke mobilnya.
Dug dug dug
David mengetuk kaca mobil Gracia berkali kali. "Gracia turun dulu ya, ayah mau jelasih semuanya."
Tapi terlambat, sang anak yang hatinya terlanjur perih langsung menancapkan gasnya. Meninggalkan sang ayah yang kini kelabakan mengikuti laju mobil Gracia.
"Gre, tenangin diri kamu dulu ya. Ayo kita minggir dulu, gak baik Gre nyetir sambil emosi." bujukan Shani disampingnya seolah angin lalu bagi Gracia.
Dia mengemudikan mobilnya tak tentu arah. Dia tahu ayahnya mengikutinya, terus berusaha mengejar lajunya yang seperti syuting film fast and furious. Hingga kini mereka memasuki daerah pegunungan, yang kanan kiri jalan dipenuhi oleh pepohonan yang rindang.
Hingga pada belokan selanjutnya David berhasil mendahului Gracia. Langsung saja David menghentikan mobilnya, membuat Gracia mau tak mau harus ikut berhenti dan keluar dari mobilnya.
PLAK!!
Gracia seketika terhuyung ke belakang saat pipinya menerima tamparan keras itu. Membuat Shani yang disebelahnya ikut tersentak.
"APA SIH MAU KAMU HAH? MAU KURANG AJAR SAMA AYAH?" Sentak David setelah melayangkan satu tamparan pada pipi Gracia.
Sedangkan Gracia? Dia syok saat pipinya dihantam tamparan yang keras dari ayahnya. Bahkan kini sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. "A..ayah nampar aku?"
David meremas wajahnya kasar. "Itu karena kamu gak mau dengerin penjelasan ayah. Apa susahnya berhenti dan dengerin ayah dulu?" suara David mulai melembut.
"Dengerin penjelasan apa? Dengerin kalau ternyata orang yang paling aku sayangi dan hormati, ternyata adalah orang yang tega ngancurin hati aku sampe sebegininya?" kini airmata sudah mulai berkumpul di pelupuk mata Gracia.
"Ayah lakuin itu karena ayah gak mau kamu tenggelam dalam Dosa Gre, ayah sayang sama kamu." jrlas David.
Gracia menggeleng. "Aku gak percaya kalau ayah sampe tega begini sama aku, urusan Dosa itu cuma Tuhan yang tahu. Sejak kapan ayah jadi petugas pajak akhirat?"
Tangan David terangkat lagi hendak melayangkan pukulan pada Gracia, Tapi dia urungkan. "Sejak kapan kamu jadi ngebantah sama ayah? Hanya karena satu wanita kamu berontak sama ayah?"
Airmata Gracia sepenuhnya jatuh kini. Shani dari samping yang melihatnya jadi ikut sakit. Dia lalu memilih menjauh sedikit ke belakang. Memberikan ruang bagi ayah dan anak yang bersitegang. Dadanya ikut sesak melihat Gracia memperjuangkannya sampai begini.
'Tuhan, tolong menangkanlah cinta kita.'
"Aku gak pernah ngebantah ayah, aku selalu nurutin semua mau ayah. Tapi apa ayah pernah mikir kebahagiaan aku? Ayah pikir hanya dengan uang aku bisa bahagia? Aku butuh orang yang mengasihiku ayah. Yang mengasihiku seperti ayah, dan Shani adalah orangnya."
