Wajah Gracia langsung pias saat melihat gadis itu. Apalagi kini gadis itu kian mendekat dan menatap tautan tangan Gracia dan Shani.
Gadis itu tersenyum miring, "Udah ada yang baru ternyata, pantesan gue ditinggalin."
Shani menoleh pada Gracia, menatap penuh tanya, siapa sebenarnya gadis itu. Kini genggaman tangan Gracia semakin erat.
"Kenapa lo bisa ada disini Nadse?."
Gadis yang ternyata bernama Nadse itu tersenyum. "Tentu saja gue mau ngulang masa masa indah kita itu dong. Lo jangan pura pura lupa siapa yang nolong lo dari jurang menyedihkan itu."
Tanpa menghiraukan Nadse lagi, Gracia segera menarik Shani menjauh dari sana. Saat sampai di kelas pun, Gracia masih diam saja.
Shani menggenggam tangan Gracia dan mengelusnya. "Aku siap dengerin apapun cerita kamu."
Gracia menoleh, menatap Shani dengan sendu. Kenapa semua jadi rumit begini sih, saat dia mulai membuka hatinya untuk Shani, kenapa seseorang dari masa lalunya datang dan mengorek kembali kenangan yang sudah Gracia coba untuk pendam.
Gracia membalas genggaman tangan Shani, "Dia Nadse, orang yang nolongin aku dari pembullyan waktu aku masih di Manado."
"Terus?." Tanya Shani
"Dia juga yang ngajak aku belajar buat beladiri, dan saat aku pindah ke sini dia belum aku kasih kabar."
Shani menghela nafasnya, "Kamu harusnya gak boleh lupa sama orang yang udah berjasa buat kamu. Nanti pulang omongin baik baik ya sama Nadse."
Keraguan terlihat nampak di wajah Gracia, lalu dengan gugup dia mengalihkan pandangannya. "Di..a juga mantan aku."
Ke kagetan tak dapat Shani sembunyikan, bahkan kini genggaman tangannya mengendor. Jadi Nadse itulah penyebab Gracia menggantungkannya selama ini, mungkin Nadse juga masih ada sampai sekarang di hati Gracia.
Gracia menarik wajah Shani agar menghadapnya. "Dengar Shani, dia udah mantan. Yang terpenting adalah kita sekarang, percaya sama aku ya."
Sekuat tenaga Shani menarik kedua sudut bibirnya, memaksakan tersenyum hanya agar Gracia merasa tenang. "Aku percaya kok."
Gracia kemudian tersenyum, setelah meneliti keadaan kelas yang masih sepi, dengan cepat dia mencium pipi Shani. Sontak saja Shani memukul pundak Gracia.
"Kalo ada yang liat gimana?." Kata Shani cemas.
"Tenang aja, toh kita udah biasa lebih dari itukan?" Gracia menaik turunkan alisnya.
Melihat Shani yang menunduk malu, Gracia malah memberondong Shani dengan ciuman ciuman kecil di pipinya.
Shani menahan wajah Gracia saat gadis itu hendak menciumnya lagi. "Udah iihh, malu tau."
Gracia tertawa, dia kemudian memegang kedua pipi Shani dan menariknya. "Aduh cantik banget sih, pacar siapa nih kalo boleh tau." Goda Gracia.
Pipi Shani semakin memerah, bukan karena godaan Gracia. Tapi karena pipinya habis di tarik. Iya itu kok penyebabnya.
"Pacarnya Riswan lah, siapa lagi." Balas Shani.
Mendengar itu Gracia langsung mencium cepat bibir Shani. "Ayo bilang lagi."
Shani kini menunduk, padahal dia sudah sering di cium Gracia. Tapi kenapa rasanya masih deg deg ser ya.
"Cieee anaknya malu ciee." Goda Gracia.
"Apaan sih, udah diem. Bu Nat udah dateng tuh."
Benar saja, semua siswa kini sudah memasuki kelas. Ternyata dia tak mendengar bel karena sibuk menggoda Shani.
"Silahkan keluarkan buku paket matematikanya." Perintah Bu Nat.
Gracia menoleh pada Shani yang sibuk mengaduk isi tasnya.
"Duuh kayaknya tadi pagi udah aku masukin deh." Gerutu Shani pelan.
"Yang tidak membawa buku, silahkan maju ke depan." Kata Bu Nat tegas.
Shani menghela nafasnya pasrah, dia hendak berdiri mangakuipada Bu Nat. Sebelum Gracia menaruh buku paket miliknya di meja Shani dan maju ke depan.
"Maaf bu, saya lupa tidak bawa." Kata Gracia.
"Sebagai hukumannya, kamu bersihkan seluruh kaca di koridor ini. Laksanakan."
Gracia hormat, mengundang kikikan pelan dari teman temannya. "Siap komandan."
Setelah Gracia keluar, Shani menatap buku paket itu dengan sendu. Keraguannya pada Gracia sirna saat itu juga, bodohnya dia karena sempat mengira Gracia masih mencintai Nadse.
Saat membalik halaman berikutnya, ada sebuah tulisan dengan pensil. Shani membacanya.
'Shani kayak sedih, kenapa ya?.'
'Shani cantik banget kalo senyum, pusing gue lihatnya'
Senyum langsung terbit di bibir Shani saat membacanya. Ternyata saat mereka jauh jauh an, Gracia masih memperhatikannya. Ah, Shani jadi malu.
Apalagi saat Shani menoleh keluar, dia melihat Gracia sedang mengelap kaca kelas mereka. Tak ada raut kesal di wajah Gracia, bahkan saat matanya menangkap Shani. Gracia semakin melebarkan senyumannya, lalu merogoh sakunya mencari sesuatu. Shani mengernyit.
Tapi kemudian Kernyitan itu berubah jadi senyum malu malu, saat Gracia mengeluarkan jari jempol dan telunjuknya dari saku dan membentuk love sign.
"Shani!!, kamu senyum sama siapa??" Tegur Bu Nat.
Seketika wajah Shani berubah gugup dan menunduk, Gracia yang memperhatikannya dari luar tertawa puas melihat Shani ketahuan.
Tbc
Pendek dulu deh ya, yang penting kan update dua kali 😂
Vote dan Komen jangan lupa
Keyhole💖
