CITA-CITA ADILUHUNG KERTANEGARA

1.4K 78 1
                                        

"Kertanegara....."

"sebagai bagian dari Wangsa Rajasa"

"akan ku lanjutkan cita-citamu..."

Raden Wijaya kemudian memberi nama ekspedisi itu "ekspedisi pamalayu". Sesuai dengan ekspedisi yang pernah dilakukan Kertanegara sebelum Singhasari dihancurkan Jayakatawang. Karena bagi Raden Wijaya, bahwa cita-cita seorang Kertanegara layak untuk dilanjutkan. Ketika segala rupa persiapan ekspedisi telah selesai, berkatalah Raden Wijaya pada para pemimpin pasukan dan juga utusan "kalian tlah ku berikan wewenang penuh, dan ingatlah pesanku, JANGAN SAMPAI ADA PERTUMPAHAN DARAH JIKA MEMANG TIDAK DIPERLUKAN." 

Raden Wijaya memastikan bahwa para pasukan dan utusan mematuhi segala perintahnya. Pandangan matanya tajam, menegaskan bahwa tidak ada toleransi jika melanggar perintahnya. Lalu, para pasukan dan utusan serempak menjawab "sendhiko dawuh Gusti Raden, kami siap menjalankan perintah." Dengan demikian, bersegeralah para pasukan berangkat.

Mereka terbagi dalam dua bagian besar, bagian merah menuju Jawa Tengah, sedangkan putih menuju Jawa Timur. Kedua gelombang pasukan itu berjumlah masing-masing seratus ribu pasukan yang terdiri atas pasukan berkuda, pasukan tombak, pemanah, dan juga telik sandi. Mereka menyebar ke segala penjuru, memasuki desa-desa dan bekas wilayah kerajaan Kadiri, Singhasari, Daha dan Panjalu. 

Sementara itu, Raden Wijaya sedang berbincang dengan Permaisuri. "Adinda, sedang apakah gerangan wajahmu terlihat sangat berseri?" tanya Raden Wijaya. Permaisuri pun menjawab "Dinda sedang mengandung Kanda, teryata Dewata Agung telah mendengar permohonan Dinda untuk segera memiliki momongan" jawab Permaisuri. Sontak Raden Wijaya bergembira dan tersungging senyum di wajahnya seraya berkata "benarkah yang kau katakan Dinda?" Raden Wijaya tak kuasa menahan tangis sekaligus kebahagiaannya. Guratan kebahagiaan terpancar dari kedua insan manusia ini. Pertanda bahwa Dewata Agung merestui keberadaan Majapahit dengan kehadiran seorang pewaris tahta dalam kandungan Permaisuri.

Hari itu adalah hari paling bersejarah dalam awal perjalanan panjang kerajaan Majapahit. Cita-cita leluhur yang terlaksana, sekaligus kehadiran seorang pewaris tahta Majapahit. 

Sementara itu, pasukan merah telah mencapai beberapa wilayah terdekat dan mulai menjalin hubungan diplomatis. Wilayah pertama yang mereka capai adalah Bhumi Ksatrian Trenggalek. Tak hanya hubungan diplomatis saja, melainkan para pasukan Majapahit ini menawarkan perlindungan, juga hubungan perdagangan. Selain itu, mereka juga turut serta memberikan kesempatan bagi para pemuda untuk bergabung menjadi bagian dari pasukan Majapahit.

Tanpa kekerasan, tanpa kerusuhan, segalanya berjalan damai adanya. Karena mereka tlah mengenal sosok Raden Wijaya semasa muda di Singhasari. Maka tak kan ada ragu lagi menjadi bagian dari kerajaan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya. Dengan keikhlasan satu per satu wilayah menyatakan diri menjadi bagian dari Majapahit.

Begitu pula dengan daerah lain di timur Pulau Jawa seperti Tuban, Gresik, Malang, hingga Madura. Satu per satu pun menyatakan diri ikut serta dalam pemerintahan Raden Wijaya. Sosok yang memang telah akrab bagi mereka. Tiada ragu, tiada cela dan tanpa paksaan. Para utusan juga tidak mengalami kendala dalam menyampaikan keinginan Raden Wijaya. Para Adipati terdahulu dibawah Singhasari, Daha, Panjalu dan Kadiri segera menyatakan diri bergabung.

"terlihatlah peran seorang pemimpin sederhana"

"dia dibesarkan dengan beragam ujian..."

"ditempa dengan perihnya penderitaan"

"jiwa ksatria yang memancarkan pandhita"

"tanpa cela..."

Perjalanan terus bergulir seiring waktu, tanpa terasa sudah seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi bagian dari Majapahit. Kerajaan kecil itu kini sudah menjadi besar, dan perlahan namun pasti, Majapahit telah meluaskan pengaruhnya. Sebuah usaha yang tidak mudah dalam menjalankannya. 

Sementara itu, Raden Wijaya menunggu kepulangan para pasukan ekspedisi dan telah bersiap menerima segala laporan tentang kisah perjalanan mereka. Hampir satu tahun sudah perjalanan panjang mereka tempuh, menelusuri segala sudut wilayah. 

"beritakan padaku sebuah berita baik"

"dan Dewata Agung pasti kan tersenyum melihatnya"

"Cita-cita adiluhungmu tlah terlaksana"

"meskipun hanya ini yang mampu ku lakukan"

"kelak lewat penerusku, pasti kan terlaksana segala cita-cita adiluhung ini"

"karna aku hanyalah Ksatria Pambukaning Gapuro"

"kan ada masanya kelak Ratu Adil bagi Majapahit"

***

MAJAPAHITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang