"tahta tak selamanya ada"
"kekuasaan ada batasnya"
"bahkan usia tak kan bisa abadi"
Raden Wijaya masih hening dalam kasunyatan, menikmati setiap lembar kenangan pahit yang hadir. "Lepaskan dan ikhlaskan..." gumam Raden Wijaya. Raden Wijaya menyadari bahwa sesuatu yang menyakitkan tidak layak untuk ditangisi apalagi disesali. Dengan kesadaran penuhnya, Raden Wijaya perlahan membuka matanya. Melihat sekeliling dan menghela nafas panjang. Dengan suara lirih Raden Wijaya berkata, "Jalanku masih panjang, dan sudah waktunya aku memantapkan diri membangun kerajaanku."
Langit malam itu terlihat sangat syahdu. Desir angin, dan sinar rembulan menemani Raden Wijaya dalam tapa bratanya. Teringat kembali akan sebuah nasehat dari pamannya, Kertanegara. "Jika suatu saat nanti kau mengemban misi menjadi seorang raja, jadilah seorang raja yang bijaksana namun tegas." Pesan yang kini telah menjadi sebuah amanat untuk dilaksanakan. Raden Wijaya menatap aliran sungai yang tenang kemudian bergumam "Sungai yang tenang bahkan dapat menjadi malapetaka jika Dewata berkehendak."
Tak berapa lama, Raden Wijaya bergegas meninggalkan tempatnya. Berjalan perlahan menuju kudanya. Sementara itu, malam semakin memudar dan perlahan terdengar kokok ayam hutan. Pertanda akan kemunculan surya di ufuk timur. "Lebih baik aku segera bergegas, dan mencari desa terdekat untuk beristirahat," gumam Raden Wijaya seraya melepaskan tambatan kudanya.
Perlahan Raden Wijaya meninggalkan tepian sungai Brantas. Memacu kudanya ke arah timur. Menyongsong surya pagi hari. Menembus lebatnya hutan sampai tak berapa lama, Raden Wijaya melihat perkampungan kecil di pinggir hutan. "Lebih baik aku beristirahat sejenak disana," gumam Raden Wijaya. Segera saja Raden Wijaya mengarahkan kudanya menuju perkampungan tersebut.
Tak lama berselang, Raden Wijaya sudah sampai di perkampungan itu dan segera memasuki candi bentar menuju alun-alun. Disana Raden Wijaya melihat dari dekat hiruk pikuk manusia menjajakan beraneka barang. Begitulah aktivitas pagi hari masyarakat di perkampungan. Namun Raden Wijaya merasa bahagia melihatnya. Sesuatu yang menyenangkan baginya melihat kehidupan berjalan dengan seperti sedia kala. Setelah melewati alun-alun, Raden Wijaya memutuskan singgah sejenak di sebuah kedai kecil. Memesan makanan, dan menikmati seteguk minuman. Raden Wijaya duduk seorang diri, sampai ada seorang Carik yang mengenalinya kemudian berkata "Sendhiko dawuh Gusti Raden, hamba tidak melihat kedatangan Gusti Raden sejak tadi," kata Carik itu. Raden Wijaya terkejut mendengar sapaan Carik tersebut lalu berkata "Tak apa Paman, saya sedang beristirahat saja," sahut Raden Wijaya.
Tak butuh waktu lama hebohlah kedai kecil itu, berbondong-bondong masyarakat berdatang hendak melihat dari dekat raja baru mereka. Raden Wijaya berbincang akrab dengan mereka, sesekali terselip tawa canda yang memecah suasana. Begitu hangat, begitu dekat. Layaknya sebuah keluarga. Begitulah hari itu Raden Wijaya menghabiskan waktunya. Bercengkarama dengan masyarakatnya, menikmati kehidupan selayaknya sedia kala. Tanpa jarak, tanpa ada pengawalan apapun.
"kalian semua adalah keluargaku"
"kita semua bagian dari Majapahit"
"kita semua keluarga, kita semua saudara"
"sudah kewajibanku sebagai seorang raja mengayomi kalian"
"tanpa mengenal kasta, tahta, dan harta...."
"karena kita adalah sebuah keluarga"
Setelah puas berbincang akrab dan berkeliling perkampungan, Raden Wijaya memutuskan untuk bersiap kembali ke Kedaton Majapahit. Dengan segera Raden Wijaya menghaturkan salam, berpamitan kepada seluruh masyarakat dan pejabat perkampungan. Mereka bahagia memiliki seorang raja baru dan tlah berikrar setiap pada Majapahit.
Dengan perasaan lega, Raden Wijaya kemudian menuntun kudanya meninggalkan perkampungan. Sore itu, ketika surya beranjak pergi menuju peraduannya cahayanya mengiringi kepulangan Raden Wijaya menuju Majapahit. Perjalananya kali ini sungguh menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan.
"surya adalah pelindung"
"sekaligus pengayom seluruh manusia"
"tanpa kenal lelah"
"memberikan manfaat bagi seluruh makhluk hidup"
"Majapahit akan menjadi Surya baru di Nusantara"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
MAJAPAHIT
Historical FictionKisah tentang sebuah kerajaan Siwa-Budha yang pernah hadir di bumi Nusantara pada abad 9 Masehi yang kemudian menjadi pemersatu Nusantara dibawah seorang Panglima Perang Gadjahmada. Kini kisah ini akan saya angkat sebagai sebuah cerita sederhana yan...
