Mencintaimu?
Mana bisa secepat itu
Tunggu aku mengenalmu
Tunggu agar hatiku percaya
Bahwa cintamu akan membuat hatiku bahagia memilikimu.
***
Demi Lovato; Give Your Heart A Break
Juna benar mengantarku pulang. Motor yang membawa kami sudah sampai di depan gerbang rumahku. Aku berusaha turun dengan hati-hati. Aku menghadap Juna, ia membuka kaca helmnya. Menampakan mata dengan sorot dingin.
"Makasih.." ucapku padanya.
Juna hanya mengangguk. Ia lalu menurunkan kaca helmnya. Dan sepertinya ia akan menyalakan motornya. Entah keberanian dari mana, aku mencegah hal itu. Aku menyentuh pergelangan tangannya. Juna menoleh dan membuka kaca helmnya lagi. Dari matanya seperti meminta penjelasan dariku.
"Kamu nggak mau mampir dulu?" Aku bertanya padanya. Juna menggeleng, tanpa aku duga ia malah membuka kancing helmnya. Sekarang aku bisa melihat wajah rupawannya. Aku jadi deg-degan sendiri. "Nanti gue chat. Tapi harus dibales" katanya. Dan menutup kepalanya dengan helm.
"Iya. Aku tunggu chat kamu" balasku menunduk malu. Sepertinya dia tau jika aku tak pernah membalas pesannya selama ini. Juna dan kuda besinya sudah menghilang dari pandanganku. Seperkian detik aku mengulas senyum atas perlakuannya padaku hari ini. Ia menolongku dari Edo dan Sheyla tadi pagi. Lalu sore ini ia mengantarku pulang dengan selamat.
Apa aku mulai nyaman Juna berada di dekatku? Tapi hilangkan dulu pikiran itu, belum saatnya aku berspekulasi secepat itu. Mungkin ini hanya rasa terima kasihku padanya.
~~~~~~
Pagi ini jadwal kelasku adalah pelajaran olahraga. Aku dan Kinan berjalan beriringan menuju lapangan indoor.
"Malas banget deh harus olahraga.. hem" keluhku. Aku sungguh sangat-sangat malas dengan olahraga.
"Olahraga itu biar sehat, Lily. Jangan males" sahut Kinan. Aku hanya nyengir menanggapinya.
"Eh, nanti temani gue ngumpulin tugas ke Bu Dira ya, Kin"
"Siyap!" Balas Kinan dengan suara toa-nya. Kebiasaan banget memang anak ini.
Aku lihat teman-temanku sudah berada di dalam lapangan semua. Mereka sudah mengambil posisi untuk pemanasan. Aku dan Kinan langsung ikut bergabung bersama mereka. Selesai pemanasan. Kami diberi tugas untuk membuat dua kelompok tanding basket. Dimulai dari para anak laki-laki dahulu, setelahnya baru anak perempuan. Sambil menunggu giliran tim perempuan main. Aku dan beberapa anak perempuan lain duduk di tribun penonton lapangan indoor ini. Aku dan Kinan mengambil duduk bersebelahan.
Satu jam pelajaran berlalu dan kini tiba tim perempuan main. Aku dengan malas bangkit untuk menuju timku. Anggota timku ini ada Sheyla. Menjadikan aku tambah malas saja.
Setelah ada pluit tanda dimulai permainan, aku dan rekan tim maupun tim lawan mulai berebut bola. Kinan menjadi tim lawanku sekarang. Dia sangat baik dalam olahraga basket. Kulihat ia men-dribble bola dengan lincah. Lalu dengan lihainya ia melompat dan membuat point pertama untuk timnya.
Timku tak mau kalah. Kami mencoba merebut bola. Dan sekarang Riana dari timku bisa menguasai bola. Aku memberi isyarat untuk mengopernya padaku. Riana mengerti dan bola melambung...... terlalu tinggi, aku tak bisa menggapainya. Dan...
Duakkk!!
Terdengar suara sesuatu yang berbenturan. Kami semua melihat arah belakang aku berdiri. Aku lihat Sheyla terkapar di lantai lapangan. Tangannya memegang kepalanya. Sepertinya Sheyla terkena pasing atas Riana tadi. Kami semua jadi panik, dan berbondong mengerumuninya.
"Sheyla, kamu nggak apa-apa?" Tanya Riana merasa bersalah.
"Ayo-ayo bantu temannya ke UKS" Teriak Pak Handi selaku guru olahraga kami.
Beberapa anak perempuan memapah Sheyla untuk menuju UKS.
"Pofly, kamu petugas PMR, kan? Sana obati Sheyla. Petugas di UKS hari ini nggak ada yang piket" ucap Maru dari arah pinggir lapangan padaku. "Lah, kok gue sih. Ck!" Aku menjawabnya dengan raut kesal. Ya, aku memang kesal dan malas kenapa anggota PMR-ku malah tidak disiplin piket. Dan aku disuruh mengurus, SHEYLA!!
Dengan terpaksa aku menyeret kakiku menuju UKS. Aku buka pintu UKS, kulihat 2 temanku yang memapah Sheyla tadi masih di sini. Aku mendekat pada mereka.
"Yang sakit bagian mana, Sheyla?" Sheyla tak menjawabku. Tapi dari yang kulihat, ia terus memegangi kepalanya. "Kepalanya itu deh kayanya, kaya memar gitu" ujar Dara di sampingku.
"Oh, gue ambil es batu dulu" kataku dan ingin berbalik mengambil es batu di kulkas UKS. Aku ambil kain dan kutaburi beberapa es batu. "Eh, Ly kita berdua pergi ya. Kan udah ada lo di sini" ucap Yuki pamit padaku. Aku mengangguk saja. Sebenarnya aku tak mau di sini berdua dengan Sheyla. Tapi sepertinya mereka lelah karena pelajaran olahraga tadi. Jadi dengan rela aku mau ditinggal dan mungkin akan berada dalam suasana canggung bersama Sheyla.
"Ya udah, dadah Lily. Sheyla gue sama Dara pergi ya" pamit Yuki pada kami berdua.
Sesudah mereka pergi. Aku menempelkan es batu tadi pada luka memar di kening Sheyla. Aku sedikit menekan pelan luka Sheyla. Ia hanya meringis saja. Terdapat sedikit benjolan kecil tercetak di ujung kening Sheyla. Sepertinya pantulan bola tadi cukup keras mengenai sudut kepalanya.
Dan melihat Sheyla sedekat ini denganku. Aku menemukan satu fakta yang baru aku tau selama satu kelas dengannya. Sheyla itu bentuk tubuhnya bagus, hidung mancung, dan kulitnya terawat banget. Dia paling jago dandan dari semua murid perempuan di kelasku. Dan dari sini juga, aku sadar alasan Edo memutuskanku. Di bandingkan dengan Sheyla, aku tidak ada apa-apanya.
"Udah, sini gue sendiri aja yang pegang" ucap Sheyla mengambil kompres dari tanganku dengan badan yang coba ia dudukan. "Aduh. Ini benjol ya, Ly?" Tanyanya.
"Dikit sih. Masih sakit?" Jawabku. "Bukan sakitnya. Gue malu kalau benjol gini" katanya dengan nada sebal. "Mau gue pakein kapas sama plester gitu? Ya biar nutup benjolnya itu" tawarku sambil menunjuk luka di keningnya.
"Iya deh, terserah lo. Yang penting ketutup" jawabnya masih mengompres lukanya. Aku mengubek lemari P3K untuk mencari kapas dan plester. Setelah berhasil kutemukan. Aku mendekat ke Sheyla lagi. "Sini, hadap gue" suruhku. Dia patuh saja dan memutar badannya padaku.
Saat aku tengah fokus menempelkan kapas padanya. Suara pintu UKS terdengar terbuka. Kami menoleh ke siapa orang yang datang. Napasku tiba-tiba tercekat. Badanku terasa dingin dan membeku.
"Sheyla?" Panggilnya di depan pintu.
Dia yang datang adalah Edo. Dia mencari Sheyla. Dapat kurasakan hatiku ngilu. Kenapa harus sekejam ini drama cinta yang aku terima.
"Kak Edo.." lirih Sheyla. Aku terdiam dan kembali fokus pada luka Sheyla. Aku menempelkan plester di kedua kapas tadi. Setelah selesai aku membereskan dan membuang bungkus plester tadi ke tempat sampah. "Sheyla udah, kan? Aku balik dulu ke kelas" kataku pada Sheyla. "Iya udah" jawabnya. Tanpa buang waktu lagi aku buru-buru keluar dari UKS. Tanpa menoleh pada Edo yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Itu kata-kata yang aku dengar setelah beberapa langkah aku meninggalkan UKS.
Aku tak tahan lagi. Rasanya aku ingin pergi dan tak mau lagi melihat wajah dua orang pengkhianat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PACAR PAKSA
Fiksi UmumAnastasia Pofly Harata, gadis campuran Inggris, Jepang dan Indonesia-tidak mengira akan dapat pernyataan cinta dari Arjuna Bima Direndra seorang badboy sekolah saat ia baru saja putus hubungan dengan kakak kelasnya, Sebastian Fredo. Ia mendapat hadi...
