Senja Hari Itu

1.8K 139 11
                                        

... Namun di dalam kesendiriannya, dia hanya seorang anak laki-laki dengan segala tangis dan lukanya.

- Alfa -

Beberapa anak laki-laki membentuk dua kelompok dan saling mengatur posisi. Ditambah satu anak lainnya yang sepertinya bertugas sebagai wasit. Selain mereka, ada beberapa anak laki-laki lain bermain kelereng di pinggir lapangan. Berusaha agar tidak terkena bola yang bisa jadi keluar dari lapangan.

Sedangkan anak-anak perempuan berkumpul di bawah pohon. Bermain dan berbincang-bincang. Pembicaraannya pun hanya seputar sekolah, masak-masakan, atau acara Barbie yang mereka tonton di TV. Kadang pula membicarakan anak laki-laki yang suka mengganggu mereka ketika bermain atau belajar, kakak-kakak perempuan mereka yang belakangan ini suka membicarakan artis korea yang ganteng-ganteng, atau ibu-ibu mereka yang sekarang hobi membicarakan salah satu warga yang diduga merebut suami orang. Memang merupakan bibit-bibit penggosip unggul di masa mendatang.

Seorang laki-laki usia enam puluh tahunan duduk di depan teras masjid bercat biru ini. Mata tajamnya menatap ke arah lapangan. Memperhatikan anak-anak TPA yang bermain sambil menunggu waktu maghrib.

Jadwal mengaji yang ia buat di masjid sengaja dipersingkat hari ini. Laki-laki itu berbaik hati memberi kelonggaran karena anak-anak TPA menyelesaikan tugas lebih cepat dan sempurna. Sementara dirinya bisa menikmati sore langka ini dengan tenang, tanpa perlu berteriak kepada anak-anak TPA karena mereka belum menyelesaikan tugas dan malah asyik bermain.

Matanya melirik jam lemari tua yang berdiri kokoh di sudut masjid. Jarum panjang dan jarum pendek kompak menunjuk pukul enam lewat lima belas. Suara serak basahnya berseru, memanggil murid ngajinya. Menawarkan posisi muazin maghrib ini. Tentunya dengan sebuah imbalan. "Ayo, yang mau dan sanggup jadi muazin, saya kasih coklat nanti."

Dan seperti biasa pula, gerombolan anak laki-laki yang rata-rata berusia 12 tahun berlari ke teras masjid. Aturannya mudah sekali, siapa pun yang sampai lebih dulu di teras, dialah muazin-nya.

Seorang anak berusia 4 tahun, berlari lincah ke arahnya. Ia meraih punggung tangan pria itu, lantas menyalaminya. Tersenyum menggemaskan sebelum akhirnya rusuh memanggil teman seusianya untuk memasuki masjid. Membuat anak-anak yang tadinya bermain di sana berlari masuk ke masjid.

Pria itu memperhatikan si anak dari ekor mata. Senyum mengembang bocah itu membuat wajah tenang laki-laki itu menjadi suram. Tanpa beliau sadari, anak laki-laki tersebut kini sudah menatapnya.

"Kek, tadi aku udah bagus, kan, ngajinya? Aku tadi juga udah nambah hafalan lebih banyak dari biasanya, lho," ujarnya bangga. Ia melapor seperti biasa.

"Bagus, sih. Tapi kalah bagus sama Rara." Mendengar itu, sontak senyuman anak laki-laki tersebut berangsur pudar. "Kamu, tuh, gimana, sih? Makanya jangan keseringan main. Target kamu tahun ini ikut MTQ tingkat kota. Jangan permalukan Kakek!"

Orang-orang biasa memanggilnya Datuk Ridwan. Entah dari mana panggilan itu berasal tepatnya. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi beliau tidak pernah keberatan dipanggil demikian.

Dia dikenal baik oleh semua orang karena agama dan kesuksesan usaha-nya, namun juga dikenal buruk karena masa lalu yang kelam. Dirinya mencoba meninggalkan sejuta luka yang terus menghantuinya. Mengikuti jejaknya dalam bayangan. Sejuta luka yang membuat hidupnya menderita selama belasan tahun.

Memang, ia hanya seorang kepala kampung. Ia memiliki keluarga yang luar biasa. Seorang perempuan pendamping hidupnya, tiga orang anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Ia mempunyai bisnis sendiri. Ia mempunyai teman, tetangga, dan orang-orang yang percaya padanya.

Ia punya segalanya. Ia punya hidup yang sempurna. Sampai takdir membawanya tiba di sebuah peristiwa yang membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ibaratkan sebuah kaca yang awalnya dibawa perlahan, dibersihkan dengan lembut, kemudian dibanting dan hancur berkeping-keping. Akhirnya semua yang ia lakukan awalnya jadi sia-sia.

Dia sendiri yang membuat hidupnya berubah. Dia sendiri yang memutuskan untuk memilih jalan tersebut. Bukan dia tepatnya, tapi keegoisannya.

Dan ia harus menanggung semua akibat. Beliau punya maksud baik. Agar kelak keturunannya tidak mengalami masa-masa sulit yang terlalu seperti ia dan anak-anaknya dulu.

Tapi takdir mengubah itu dalam satu kedipan mata. Orang-orang mulai ramai membicarakannya. Bisnisnya hancur tak tersisa. Yang paling parah, ia kehilangan keluarga terbaik sepanjang masa.

Keluarganya menjadi korban keegoisannya. Tak terkecuali salah satu cucu laki-lakinya.

Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam. Mata menawan berwarna kecoklatan yang menyiratkan keberanian. Kulit putih bersih meski berkali-kali 'dijemur' dibawah sinar matahari. Seorang anak laki-laki yang memiliki darah keturunan Turki-Jerman yang terlalu mempesona sehingga selalu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Dia bukan anak manja. Ketimbang anak-anak seusianya yang menghabiskan waktu bermain di lapangan, dia lebih sering ikut turun ke sawah dan kebun milik kakeknya. Tidak berani mengeluh sekalipun. Karena dia sadar kalau ada hukuman yang siap datang padanya.

Hidupnya tak bisa dibilang sama dengan anak-anak lainnya. Ia tidak berada di lingkungan keluarga yang harmonis. Ia berada di tengah keluarga yang terlibat konflik. Dia bukan anak yang sering duduk di depan orangtuanya, mendengarkan cerita-cerita penuh hikmah. Dia bukan anak yang sering bermain dengan teman-teman seusianya.

Dia anak yang tumbuh dengan kekerasan. Dia anak yang tumbuh dengan berbagai kebohongan. Dia anak yang tumbuh tanpa kasih sayang. Semua orang berebut mengatur hidupnya, lebih tepatnya memaksakan kehendak mereka, tanpa sekali pun mengutarakan rasa sayangnya pada anak itu. Dia anak keempat di keluarganya. Sejak kecil terpaksa dipisahkan dari keluarganya. Lagi-lagi karena keegoisan seorang Datuk Ridwan.

Anak yang mempunyai dunianya sendiri. Anak dengan berbagai peran. Dunia yang membuatnya selalu merasa senang. Melupakan semua derai air mata yang berjatuhan sebelumnya. Melupakan semua luka yang membekas di hati. Sementara dunia yang ditinggalinya belum sempurna membuatnya nyaman.

Di depan teman-temannya, dia adalah sosok yang ramah dan mudah bergaul. Di depan saudara-saudaranya, dia adalah sosok yang lembut dan penyayang. Di depan keluarganya yang lain, dia adalah sosok yang kuat dan penurut. Namun di dalam kesendiriannya, dia hanya seorang anak laki-laki dengan segala tangis dan lukanya.

Selamat datang di kehidupan seorang anak bernama Muhammad Alfatih Aqsa.

Dalam perjalannya mencari kebahagian yang sengaja dilenyapkan dari hidupnya.

Dalam perjalanannya mencari kebenaran yang tersingkirkan selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanannya untuk menjauh dan menciptakan jeda dari keluarganya.

Dalam perjalanannya memperjuangkan impian yang ditentang.

Serta mencari arti dari sebuah kata yang hilang dari hidupnya.

'Keluarga'.

- Ketika Tuhan Tidak Tidur -

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang