Rencana Balas 'Dendam'

332 40 0
                                        

Allahu akbar ...

Suara takbir itu bergema sampai keluar masjid. Menandakan kalau para penghuni pesantren ini sedang melaksanakan sholat Isya berjamaah.

Kyai Anshar, yang merupakan imam hari ini, tumben-tumbenan langsung melepas santri-santrinya setelah jam murajaah malam. Tidak ada ceramah-ceramah tambahan seperti malam sebelumnya.

"Aku baru tahu kalau ada orang kurang kerjaan kayak si Ghani," sungut Luqman ditengah-tengah kesibukannya mengulang ayat-ayat yang ia hafal tadi. "Masa tadi sendal aku dilempar ke area santriwati? Hampir kena Ustadzah Rahma lagi. Jadinya aku yang kena amuk."

Yusuf tersenyum tipis. "Ghani temannya Reksa? Kalau anak itu, sih, memang udah satu spesies sama teman-temannya. Aku juga dikerjain sama Adit."

"Sama aja mereka. Mau Reksa, Adit, Ghani, Dirga, Bagas, atau Chandra semuanya sama."

Rombongan santri memasuki asrama masing-masing. Beristirahat setelah hari yang melelahkan.

Kamar Abu Bakar 5 terletak di pojok lantai. Jauh dari penerangan dan terkesan horor. Kalau seandainya bisa request lokasi kamar, Alfa yakin seratus persen semua santri enggan menghuni kamar itu.

Faris langsung mendorong pintu dan memasuki kamar. Menghidupkan lampu agar penglihatannya lebih jelas. Namun, belum ada semenit mereka berada di kamar itu, terdengar sebuah jeritan histeris.

Bertepatan dengan itu, dua ekor hewan pengerat berlari-lari kecil dari kolong tempat tidur. Mengagetkan enam anak itu.

"TIKUUUSSSSS!!!!"

Teriakan itu memancing kehebohan satu asrama. Situasi menjadi rumit. Berupaya mengeluarkan tikus-tikus ini yang entah kenapa malah memutar-mutari kamar mereka.

"KELUARIN MEREKA SEKARANG!!!"

Tidak ada yang sempat berpikir siapa yang sibuk berteriak histeris sejak tadi.

"USIR!! USIR!!"

"WOY! UDAH MASUK KAMAR ORANG GAK PAKE IZIN! PERNAH SEKOLAH, GAK, SIH??!!!"

"ADA APA INI?!"

S

eketika keadaan lebih tenang sejenak. Sebab mendapati sosok Ustadz Maher berdiri tegak di depan pintu. Dengan sorot mata tajam, seolah menginterogasi seisi ruangan.

"A ... ada ... tikus, Ustadz ..." ujar Yusuf gugup.

Alis Ustadz Maher terangkat. Raut wajahnya berubah. Sedikit melunak "Dimana tikusnya? Sudah keluar?"

"I ... itu ..."

Dua hewan pengerat berwarna abu-abu itu diam di sudut ruangan. Bukannya menangkap, Ustadz Maher malah tertegun sejenak di tempatnya. Memperhatikan hewan itu dengan teliti, lantas tertawa pelan.

"Lah, ustadz kalau mau ketawa pada tempat dan waktu yang tepat, dong. Jangan waktu orang lagi merasa takut gini," protes Haikal sembari menenggak ludahnya.

"Kalian juga aneh, takutnya sama mainan. Hehehe ..." Tanpa ragu sedikitpun, Ustadz Maher mendekati tempat hewan itu bersembunyi dan mengambilnya. "Tuh, ini mainan, doang."

Setengah merinding, tapi juga lega karena bukan tikus asli yang sembarang masuk ke kamar mereka. "Faris, sih, pake teriak-teriak segala!" tuduh Luqman misuh-misuh.

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang