Alfa mengusap wajahnya yang masih basah karena terkena air wudhu tadi. Menghela napas berat. Mencoba menghilangkan beban lewat doa-doa yang seperti biasa ia panjatkan setelah salat.
Dia bisa merasakan kalau bulu kuduknya meremang, ikut merasakan campuran emosi yang ada dihatinya. Juga menahan air mata yang sebenarnya siap tumpah.
Tahan. Jangan lemah. Cengeng banget, sih. Masa gitu aja nangis. Buktikan kalau kamu bisa kuat.
"Alfa? Aku masuk, ya?"
Dia tersentak mendengar teguran tiba-tiba itu, segera dia mengusap ujung matanya. Setelah yakin kalau tidak ada air mata lagi, dia menyahut, "Masuk saja, Ki." Bersamaan dengan itu, dia berdiri dari posisi duduknya. Melepas sarung dan melipatnya dengan rapi.
"Habis nangis, ya?" tanya Kiara begitu duduk di tempat tidur.
"Nggak. Kelilipan, doang," kata Alfa bohong.
"Masa, sih?" Yumna ikut nimbrung. Memperhatikan wajah Alfa dengan seksama. Sebelum akhirnya berseru jahil, "Eh, iya, habis nangis ..."
"Aku bilang nggak, ya, nggak," cetus Alfa tajam. Sementara dua kembaran nakalnya ini tertawa bahagia.
"Kenapa nangis, Fa? Dimarahin sama Aliya lagi, ya, tadi? Dia bilang apa? Oh, jangan-jangan kamu nembak dia, terus ditolak? Duh, kasihan banget kakakku yang satu ini." Kiara mengusap pundak Alfa, pura-opura bersimpati. Membuat Alfa mendengus kesal kuadrat gara-gara mereka.
"Kenapa, sih, kalau ngomong nama Aliya mulu yang keluar? Nggak ada pembahasan yang lebih berfaedah apa?" tukas Alfa.
Dia memang menangis. Menangisi banyak hal yang sepatutnya tak harus dia tangisi. Dia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Tapi di satu sisi dia juga memikirkan satu hal. Masalahnya dengn Rio yang sama sekali belum tuntas.
Seakan bisa membaca pikiran Alfa, Yumna berceletuk, "Kalau punya masalah, tuh, diselesaikan, bukan dipelihara! Ki, pasti nanti Alfa gak tenang selama di pesantren. Masalahnya sama Rio, kan, belum selesai, Ki."
Kiara mengangguk. "Buktinya dia sama Rio chat-an berantem mulu dari kemarin."
"Nggak baik, lho, musuhan. Apalagi sama saudara sendiri," nasihat Yumna sok bijak. Anak laki-laki itu nampak tidak peduli. Dia tak mau memikirkan apa pun saat ini. Dia mau istirahat.
Melihat wajah kusut Alfa, Kiara mulai merasa tidak enak. Dia bertanya, "Kamu marah sama aku dan Yumna?"
"Marah? Kenapa aku harus marah?" tanya Alfa balik.
"Karena yang tadi. Masalah sama Tante Ayyi."
Kalau saja Alfa tidak bisa menahan diri sekarang, dia pasti akan mengatakan 'iya'. Selama ini dia iri pada mereka berdua karena selalu mendapat perhatian dari semua orang. Berbanding terbalik dengannya yang selalu dipinggirkan. Bertahun-tahun menahan diri agak tidak meluapkan kekesalannya pada adik-adiknya itu tidak mudah.
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari luar kamar. "Kiara! Yumna! Katanya mau ngerjain PR IPA, kok, malah kabur, sih? Kalian mau nyontek sama Alfa ya?!" Yumna sontak menepuk dahinya, lalu nyengir tidak bersalah.
"Yah, ketahuan," gumam Kiara sembari menggaruk rambutnya. Alfa menghela napas dan tersenyum tipis melihat keduanya yang salah tingkah. "Fa, Liat jawaban kamu, dong. Nomor 12 apa jawabannya? Gak ada di buku."
"Ada di buku. Baca makanya," cibir Alfa.
"Gak ada, lho."
"Ada. Kalau nggak ada, tanya sama Mbah Google aja. Repot banget, sih, hidup kalian," kilah Alfa sekali lagi. Tapi kedua anak perempuan itu masih belum mau beranjak dari kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Redup {SELESAI}
Fiksi RemajaPercayalah, ini mungkin adalah kisah paling rumit yang pernah kalian temui. Namanya Alfa, remaja laki-laki yang bahkan baru menginjak bangku sekolah menengah. Ia adalah laki-laki kuat yang tumbuh dengan perlakuan kasar dari kakeknya. Ia adalah lak...
