Kamu & Bunga Gemitir

238 34 0
                                        

Seperti bunga Gemitir yang terlihat indah walau memiliki makna pahit, aku juga ingin terlihat tak ada masalah walau hati terasa sakit.

- Lentera Redup -

"Iya, kamu gak pernah jadi alasanku bahagia," celetuk Aliya memecah keheningan. "Kamu cuma cowok egois yang jarang mikirin perasaan orang lain. Tapi itu dulu, kalau kamu ingin mengubah semuanya dan memulai dari awal."

Alfa terpaku sejenak mendengarnya. Dipikirkannya kalimat demi kalimat Aliya lamat-lamat. Lantas ia terkekeh dan berkata, "Iya, aku cuma cowok egois yang jarang mikirin perasaan orang lain. Dan hari ini, aku menyadari semua keegoisanku berkat seorang cewek keras kepala yang kadang irit bicara. Terima kasih banyak, Aliya."

Gadis itu melirik padanya. Terdiam sejenak, lantas tersenyum tipis. "Sama-sama, Alfa. Semoga keegoisan kamu berkurang. Jangan cuma mau menang sendiri, jangan cuma mau bahagia sendiri," ujar Aliya setengah meledek.

Alfa yang tak mau kalah juga balas meledek, "Semoga keras kepala kamu juga berkurang. Lebih terbuka sama pendapat orang lain, jangan menganggap pilihan kamu sendiri paling benar. Kalau nggak, jangan salahin aku kalau aku bilang kamu sama kayak orangtua kamu."

"Ih, siapa, sih, yang keras kepala? Kenapa, sih, semua orang bilang aku keras kepala?" Aliya protes. Ia ternyata tidak terima disebut keras kepala.

"Kalau udah semua orang bilang kamu keras kepala, berarti memang begitu kenyataannya," kata Alfa kalem.

"Nggak, kok!" bantah gadis itu.

"Tuh, kan, kumat! Udah dibilangin, kamu itu harus lebih terbuka sama pendapat orang lain. Kalau ada yang bilang kamu keras kepala, ya, jangan dibantah dulu. Introspeksi diri, mana tau yang dibilang bener," ujar Alfa sok bijak. Ia terkekeh melihat wajah kesal sahabat kecilnya.

"Terserah!" Aliya menggembungkan pipinya, kesal.

Selanjutnya mereka hanya diam saja. Tidak ada percakapan setelah itu. Mereke berdua menatap anak-anak yang kembali asyik bermain karena hujan mulai mereda. Tidak peduli meski tempat mereka bermain masih basah karena air hujan.

"Fa, lihat, deh!" Aliya menunjuk sebuah rumah yang halamannya dihiasi bunga berwarna jingga dan kuning. Bunga-bunga itu terasa familiar di mata Alfa. "Bunga kesukaan kamu, bunga Marigold, Gemitir."

Ia mengamatinya sejenak. Lalu menatap Aliya. "Kamu masih inget?"


"Masih, lah. Dulu, kan, kamu suka banget sama bunga jenis itu. Minggu lalu aku dapat benih tanamannya dari ibu yang punya rumah itu, nanti, deh, aku kasih ke kamu," tutur Aliya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Ia tahu Alfa sangat senang hanya dengan melihat bunga itu. Terbukti karena laki-laki itu tengah tersenyum sambil menatap bunga tersebut, meski dari jauh. "Nah, gitu, dong, senyum. Kan, enak kalau dilihat mukanya."

Alfa terkekeh mendengarnya. "Makasih, ya, Al. Gak nyangka kamu masih inget. Jujur, ternyata kamu gak cuma bisa bikin aku kesel, tapi kamu juga selalu bisa bikin aku senang kayak sekarang," ujarnya jujur.

"Apaan, sih." Aliya memalingkan wajah juteknya. Sedikit tersipu mendengarnya. Membuat Alfa tertawa pelan karena ekspresinya yang sedikit lucu.

"Aku serius, Al." Alfa kembali menatap gadis itu. "Terserah kamu mau percaya atau nggak. Gak usah malu-malu gitu, biasanya juga malu-maluin. Pokoknya makasih udah selalu bikin mood aku naik turun selama ini."

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang