Kehilangan

339 38 0
                                        

Derap kaki beradu dengan hiruk pikuk rumah sakit. Sesak di dada rasnaya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia berharap kalau takdir yang masih mau berkerja sama dengannya. Masih mau memberinya kesempatan, meski itu adalah yang terakhir kalinya.

Dia belum siap dengan semua ini. Sama sekali belum.

Ustadz Hasyim yang sejak tadi berada persis di belakangnya berusaha untuk mengajari langkah keponakannya. Atau kalau bisa langsung berada di depannya agar tidak ada hal buruk lain yang terjadi.

Mereka semua langsung menuju rumah sakit setelah mendengar kabar terakhir. Langsung bergerak ke kamar jenazah.

Dan benar saja, beberapa anggota keluarga mereka sudah berada persis di depan pintu kamar.

Kakek yang pertama kali menyadari keberadaan mereka. Awalnya matanya menatap mereka datar, namun ketika menemukan sosok Alfa yang sudah berlinang air mata, rahangnya kembali mengeras.

"Heh! Sini kamu, Anak Pembawa Sial!"

Buugghh!!

Alfa yang tidak siap menerima perlakuan itu langsung tersungkur. Kelakuan Kakek sontak mengundang perhatian banyak orang.

"Bah, tenang, Bah!"

"Kamu penyebab mereka meninggal! Kamu! Mereka tidak seharusnya pergi ke sana! Dasar pembawa sial!" seru Kakek penuh emosi.

Anak laki-laki itu tidak peduli dengan seruan kakeknya. Perlahan dia bangkit dan berlari masuk ke kamar jenazah.

Ini dia ... Ya Allah, Alfa yakin ini bukan kakak. Kakak masih hidup kan?

Dia menghela napas pelan. Tangannya tergerak untuk menyibak kain yang menutupi wajahnya. Sambil terus berharap kalau ini bukan tubuh kakaknya.

Tangan Alfa bergetar hebat. Lidahnya kembali kelu. Kepalanya perlahan menggeleng. Tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya.

Ini wajah kakak sulungnya, kakak kesayangannya. Rusak dan robek karena kecelakaan itu.

Masih ada Kak Syifa. Kak Syifa pasti selamat!

Mata Alfa menatap dipan di sebelahnya. Cepat-cepat dia berpindahnya posisi. Membuka kain dan menemukan pemandangan serupa seperti tadi.

Di mata manusia normal, itu tampak sangat menakutkan, bahkan bisa jadi menjijikkan. Alfa pun berpikiran serupa, namun bagaimanapun kondisi kedua kakaknya, dia tidak mau meninggalkan mereka.

"Minggir!!" Tanpa sadar Kakek berhasil lolos dari cengkraman orang-orang dan mendorong tubuh Alfa sampai membentur dinding.

Dia meringis pelan. Mencoba untuk meraba dahinya yang pertama kali membentur dinding. Firasatnya mulai tidak enak ketika mendapati cairan di dahinya.

"Astaghfirullah, Alfa!"

Darah segar terus mengucur dari dahinya. Menetes ke baju koko warna putihnya. Ustadz Hasyim bergegas meminta bantuan. Ustadzah Nurul dan Tante Ayyi mencari benda untuk menahan darah yang terus mengalir.

Perlahan pandangannya mengabur. Sosok yang terakhir kali dia tangkap adalah kakaknya yang sudah pergi. Pergi meninggalkannya. Pergi tanpa dirinya ada di samping mereka. Kesalahan yang selalu dia sesali setiap kali berusaha mengingat orangtuanya.

-Faris-

Tidak bosan-bosannya Kiara mengusap pundak saudara laki-lakinya itu. Memberi sugesti agar anak itu membaik. Sementara Yumna menggenggam tangannya. Beberapa kali mencoba untuk tersenyum pada anak itu.

Namun sayangnya semua itu malah membuat pikiran Alfa makin kacau. Sejak tadi dia menahan air matanya yang siap tumpah, dia bertekad harus terlihat tegar di depan adik-adiknya. Air mata menetes berarti dia lemah.

Lentera Redup {SELESAI}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang