Kabar

271 38 4
                                        

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!!

Sebelum mulai baca cerita ini, lihat trailer yang sudah aku buat di bawah ini, yuk!

Maaf, ya, kalau nggak sebagus trailer orang lain. Masih belajar soalnya, hehehe...

Selamat membaca🤗🤗

-Rüya-

Alfa tidak tahu, kalau sebelum tiba di pesantren, kedua kakaknya terlebih dahulu mampir ke suatu tempat.

"Serius kita mau mampir ke sana, Kak?" Nashwa mengangguk sebagai tanggapan dari pertanyaan Syifa. Sejak tadi dia sibuk memperhatikan jalan agar sopir taksi online tidak sampai salah jalan.

"Silaturahmi, Syifa. Lagian mereka lagi ada di Bogor, jadi kita manfaatkan kesempatan ini," ujar Nashwa.

"Tapi, kakak tahu, kan, gimana reaksi Rio nanti?"

Nashwa tidak lagi menjawab. Mobil tersebut sudah berhenti di depan rumah yang ia maksud. Segera Nashwa dan Syifa turun, tak lupa membayar ongkos taksinya.

"Kak, kayaknya nggak usah, deh," pinta Syifa gugup.

Tidak tahan lagi, kini Nashwa menatap adiknya tajam. "Mau seburuk apa pun hubungan kita dengan dia, Rio tetap saudara kita, Syif! Kamu sendiri yang bilang itu sama Alfa. Silaturahmi itu penting hukumnya dalam islam. Kamu tahu, kan?"

Syifa akhirnya memilih untuk mengalah. Membiarkan kakaknya mengetuk intu rumah seraya mengucap salam, "Assalamualaikum ..."

Terdengar suara yang menjawab salam dari dalam rumah. Disusul suara langkah kaki yang melangkah cepat ke pintu rumah.

Pintu kayu itu perlahan terbuka. Seorang anak laki-laki yang tadinya ingin tersenyum ramah pada tamunya tiba-tuba terdiam. Wajahnya perlahan berubah masam. "Ngapain kakak ke sini?"

- Rio -

Nashwa dan Syifa pamit lebih awal dari waktu yang mereka sepakati sebelum pergi ke sini. Alfa mendadak malas bicara. Perasaannya sudah tidak enak kalau berhubungan dengan masalah yang ada di tengah-tengah keluarganya ini.

"Abah, Ummi, Nashwa dan Syifa balik dulu, ya. Maaf gak bisa lama-lama. Tadi Nashwa dapat kabar dari musyrifah kalau semua harus ngumpul di villa sore ini. Biar besok bisa langsung balik ke Bandung." Gadis itu menjelaskan ketika Ummi Wulan bertanya kenapa mereka tidak menetap lebih lama.

Alfa hanya diam menyaksikan kedua kakaknya berpamitan pada keluarga mereka. Lantas berjalan mengikuti ketika mereka berdua akan pergi ke area parkiran pesantren. Dia yang akan menemani keduanya sampai pergi dari sini.

"Alfa!" Remaja laki-laki itu menoleh ketika Syifa melangkah cepat menujunya. Tinggi mereka nyaris sama, hanya beda beberapa senti saja. Ia menatap datar kakaknya yang menariknya dalam pelukan.

"Mungkin selama ini kamu pikir Kakak lebih peduli sama Kiara dan Yumna. Kakak selalu milih buat menghabiskan waktu sama Kiara dan Yumna." Suara gadis itu terdengar serak di telinga Alfa. Entah kenapa dada Syifa terasa amat sesak. Seperti sebentar lagi ia akan melepas orang yang amat ia sayang. "Itu gak bener, Fa. Kakak sayang sama kamu. Rasa sayang Kakak buat kamu gak pernah pudar walau kamu selalu coba buat menghindar. Kamu tau itu, kan?"

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang