"Fa, lemes banget jalannya. Ayo, cepetan! Nanti kalo kehabisan aku gak mau tanggung jawab, lho, ya!"
Alfa yang mendengar itu mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Berusaha mempercepat langkah kaki. Mengikuti teman-temannya yang sudah agak jauh di depan. Kepalanya masih terasa pusing sejak tadi sore. Membuat tubuhnya ikut terasa lemas. Sepertinya ia akan demam malam ini.
Keenam cowok itu bergabung dengan santri-santri menuju ruang makan. Satu-dua dari mereka berjalan biasa seperti Alfa, selebihnya lagi memutuskan untuk berlari karena takut kehabisan lauk makan malam ini. Padahal mereka juga tahu, petugas ruang makan tidak akan membiarkan satu pun dari mereka tidak mendapatkan jatah makan malam. Kalau sudah habis, ya, pasti akan segera disediakan lagi.
Ruang makan yang sebelumnya sempat lengang kini sangat ramai. Baik ruang makan area santri putra mau pun putri. Para petugas makan mulai mengambilkan masing-masing santri jatah makan malam mereka. Santri yang sudah mendapat jatah buru-buru mengambil tempat dan menempati tempat duduknya. Memulai makan malam mereka sambil sesekali mengobrol dengan temannya.
"Fa, ayo, duduk di sana," kata Yusuf sambil menunjuk sebuah meja di pinggir ruangan. Dekat dengan jendela. Lumayan sejuk sehingga teman-temannga lebih sering duduk di sana.
Alfa mengangguk dan mengikuti langkah Yusuf. Ia segera meletakkan piringnya di meja, lantas duduk di sebelah Raffi.
Baru saja Alfa ingin menyentuh sendoknya, tiba-tiba ia merasa ada air yang mengalir deras dari atas kepalanya. Ia terkejut dan refleks meringis. Teman-temannya yang melihat kejadian itu refleks berhenti berbicara dan menatap ke arahnya. Begitu juga dengan santri-santri lain.
Ada yang sengaja mengguyur dirinya dengan air dingin.
"Eh, maaf. Aku gak liat kamu ada di situ," ujar seseorang dengan nada mengejek. Alfa menoleh. Matanya menangkap sosok Reksa yang berdiri di sebelahnya dengan wajah tak berdosa.
Haikal refleks berdiri dari duduknya. "Heh, Reksa! Kamu pasti sengaja, kan? Maksud kamu apa main guyur-guyur Alfa pake air?" serunya kesal.
Sebelah alis Reksa terangkat. "Aku nggak sengaja, kok. Tanya aja sama Dirga," kilahnya seraya menunjuk seorang anak laki-laki bertubuh jangkung di sebelahnya.
Raffi yang sudah tampak geram pun ikut berdiri. "Nggak usah alasan, deh. Kita semua juga tau kali kalau kamu gak suka sama Alfa. Pasti tadi kamu sengaja!"
"Dih, dibilangin gak percaya! Lagian aku nggak ada urusan sama kalian. Alfa aja gak marah, kenapa kalian yang marah?" Reksa membalas dengan nada sewot.
Haikal yang tampak tidak sabar lagi berjalan menghampiri Reksa. Ia menarik kerah baju Reksa. Membuat semua yang melihatnya refleks menahan napas. "Kalau mau ribut, sini ribut sama aku!"
"Ayo! Kamu pikir aku takut? Ayo, kita ribut!"
"Halah, paling dipukul sekali udah tumbang!"
"Bilang aja kamu takut, kan?!"
Kericuhan yang mereka timbulkan sempat menyita perhatian seisi ruang makan. Sampai akhirnya Dimas berdiri dari tempatnya dan menghampiri mereka. Raut wajahnya tampak tidak bersahabat sejak kericuhan itu dimulai. Sudah bisa dipastikan kalau Dimas akan mengamuk di sini.
Ia segera menarik Reksa menjauh dari Haikal. Ia menatap nyalang ke keduanya. "Apa-apaan kalian, hah?! Kalau mau berantem jangan di sini! Ini ruang makan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Redup {SELESAI}
Teen FictionPercayalah, ini mungkin adalah kisah paling rumit yang pernah kalian temui. Namanya Alfa, remaja laki-laki yang bahkan baru menginjak bangku sekolah menengah. Ia adalah laki-laki kuat yang tumbuh dengan perlakuan kasar dari kakeknya. Ia adalah lak...
