Aku Ingin Mati

341 33 0
                                        

Jarum panjang menunjuk angka sebelas malam saat pintu kamar rumah sakit berderit pelan. Dari balik pintu tampak seorang remaja laki-laki masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan pelan, tidak mau membangunkan sang pasien yang masih terlelap dalam mimpi. 

"Rio?" Remaja laki-laki itu menoleh ke belakang sebelum sempat menutup pintu. Ia menatap penuh harap pada tantenya yang memilih untuk menunggu di luar itu. "Kamu perlu waktu berapa lama buat jenguk Alfa?"

"Sepuluh menit boleh, Tante?" tanya Rio sambil bersiap menutup pintu. Ketika melihat ekspresi wajah tantenya yang seperti ingin menolak, dia segera berkata, "Tante, tolong, itu udah paling lama. Biarin Rio ketemu Alfa sekali ini aja. Boleh, ya?"

Wanita itu menghela napas pelan. Dia tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Kali ini aja. Setelah itu ingat perjanjian kamu dengan Abah. Oke?"

Rio mengangguk. "Iya, aku nggak akan ingkar janji."

Dia segera menutup pintu kamar. Lantas melangkah pelan menghampiri dipan kamar. Dia mendekatkan kursi yang terletak di ujung ruangan ke sebelah dipan. Rio menghela napas lega. Alfa masih terlelap di dipannya, tidak terganggu dengan percakapannya dengan sang tante tadi.

Rio mengusap tangan adiknya itu pelan. Dadanya seketika terasa sesak. Matanya terasa panas, nyaris saja air matanya menetes keluar. Ada banyak yang ingin ia sampaikan pada Alfa, namun entah kenapa semua itu seperti tertahan di tenggorokan. 

"Alfa ..." Kata pertama akhirnya meluncur tepat sebelum air matanya menetes. Sejuta rasa bersalah membuat sesak dadanya. "Maafin aku, aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu ... Maafin aku, tolong maklumin aku kalau aku gak bisa ada di sebelah kamu. Aku punya alasan kenapa aku kayak gitu. Aku punya alasan kenapa menghindar selama ini. Kamu tau, kan, kalau ..."

"Kakak salah ..."

Ucapannya teputus ketika ia mendengar dengan jelas bahwa Alfa baru saja bersuara. Cowok itu langsung mengangkat kepalanya. Ia meneliti wajah adiknya. Belum ada tanda-tanda Alfa terbangun. Ia masih terlelap. Tapi bibirnya tampak bergerak, seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.

"Rio ... itu ..."

Rio membulatkan matanya ketika mendengar namanya disebut. Apa adiknya tengah bermimpi? Ia memimpikan apa sampai namanya dibawa-bawa? Banyak pertanyaan muncul di benak Rio. Namun saat ia ingin bersuara, sebuah kalimat meluncur dari mulut Alfa dan membuat ia kembali bungkam untuk waktu yang cukup lama.

"Rio ... itu ... bukan saudara yang baik bagiku."

- Rio -

"Kondisi kamu bagus, Alfa. Sepertinya paling cepat kamu sudah bisa pulang besok." Dokter Ardi mengembangkan senyum hangatnya. Membuat Alfa mengembuskan napas lega, ikut tersenyum mendengar kabar itu.

"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," kata Alfa.

Dokter Ardi mengangguk. Setelah itu ia menarik kursi mendekat ke arah dipan tempat Alfa duduk. Ia berdrham beberapa kali. Tampaknya mau membicarakan sesuatu.

"Kamu tahu, Alfa, tidak ada satu orang pun pasien yang pernah saya temui dirawat sendirian tanpa ditemani oleh satu pun keluarganya. Terlebih pasien di bawah umur lima belas tahun seperti kamu. Mereka ditemani oleh orangtuanya atau paling tidak oleh saudaranya." Ia berhenti sejenak, menarik napas sebelum melanjutkan. Sementara Alfa mendengarkan dengan baik. Tidak menyela. "Saya bicara seperti ini karena kamu, Alfa. Kamu baru saja kecelakaan, punya fisik yang lemah, dan dirawat di sini tanpa ditemani siapa pun. Pertanyaan saya: di mana keluarga kamu? Kenapa mereka tidak menemani kamu?"

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang