Bukan yang paling indah, apalagi sempurna,
namun yang paling sederhana, itulah definisi kebahagiaan sesungguhnya.
- Lentera Redup -
"Alfa?"
Rio refleks mendekat ke arah dipan, berharap-harap cemas. Yumna nyaris terpekik ketika menyadari jari-jari saudaranya mulai bergerak. Kiara sontak berdiri dari duduknya, berlari keluar untuk memberi tahu bahwa Alfa sudah siuman.
"Aku ... aku bakal panggil dokter!" Yumna berseru, lantas ikut keluar.
Perlahan-lahan kelopak mata cowok itu terbuka, mengerjap-ngerjap, berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang ditangkapnya. Mata hazel Alfa pelan-pelan menyapu pandangan, lantas terakhir tersorot ke arah Rio yang sedang menatapnya lega.
"Ri ... Rio?"
Detik itu juga air mata Rio menitik. Ia segera menghapus jejak kristal bening itu, lantas tertawa bahagia. Cowok itu mengacak-acak pelan rambut Alfa. Ia mendekatkan diri ke telinga Alfa, lalu berbisik, "Kamu berhasil, Fa. Kamu berhasil bertahan."
Kata-kata itu membuat Alfa termenung sejenak, lalu tersenyum tipis. "Iya ... aku bertahan ... aku kuat, kan?"
Rio terkekeh pelan. "Kamu selalu jadi anak Ayah dan Bunda yang paling kuat di antara kami, Fa."
Segaris senyum yang terbentuk di wajah Alfa semakin melebar. "Aku ketemu Ayah dan Bunda, Yo ..."
"Kamu ... apa?"
"Aku ketemu Ayah dan Bunda, Yo." Alfa tertawa pelan. Tawa tulus pertama yang Rio dengar setelah ia siuman. "Akhirnya ... akhirnya aku bisa lihat mereka, Yo ..."
Rio tersenyum tipis melihat raut bahagia saudaranya. Ia bertanya, "Apa yang Ayah dan Bunda bilang?"
"Mereka bilang, aku ... kita harus berdamai dengan masa lalu. Kita harus meninggalkan semua kenangan buruk itu di belakang. Kita harus tahu apa itu keluarga. Kita ..." Alfa mengembuskan napas sejenak. Setitik air mata melesat turun dari ujung matanya. "Kita ... pantas bahagia."
Ruangan itu hening sejenak. Sebelum akhirnya Rio berkata, "Iya, kita pantas bahagia. Kita harus bahagia sama-sama. Kita harus tahu apa itu keluarga, Fa. Sudah cukup tiga belas tahun kita menunda untuk tahu. Aku, kamu, Kiara, dan Yumna bakal nyari tahu itu sama-sama. Gak ada yang bakal pergi-pergi lagi, terutama aku."
"Kamu ... janji?" tanya Alfa dengan mata berkaca-kaca. "Janji gak bakal pergi lagi?"
Rio mengangguk keras, tanda bahwa dia tidak main-main. Ia menyeka ujung matanya cepat, lantas kembali menatap Alfa. "Aku janji gak bakal pergi lagi dari kalian, Fa. Aku bakal terus ada di samping kalian. Aku bakal ada di titik terendah kalian. Aku janji."
Demi mendengar ucapan tulus Rio, Alfa menghela napas lega. Tak sedikit pun senyumnya memudar. Senyum lebar itu masih tercetak jelas di sana.
Beberapa detik kemudian, dokter serta beberapa perawat masuk. Mereka meminta Rio untuk keluar terlebih dahulu. Memberikan ruang agar dokter bisa memeriksa keadaan Alfa.
"Kamu hebat, Fa." Dokter muda itu terkekeh sambil menatap remaja yang terbaring di atas dipan tersebut. "Kamu bertahan dengan sangat baik. Tenang saja, kamu akan segera pulih dan keluar dari rumah sakit."
Dokter dan para perawat itu keluar bertepatan dengan datangnya Kiara bersama Kakek, Nenek, Tante Ayyi, dan Om Angga. Raut wajah mereka tampak cemas bercampur lega usia mendengar kabar bahwa Alfa sudah siuman.
Kakek ragu-ragu masuk ke dalam kamar. Hatinya mendadak terasa seperti teriris ketika mendapati cucu laki-lakinya terbaring sambil menatapnya lemah. Yang juga membuat dadanya serasa diremas-remas, Alfa menatapnya sambil tersenyum tipis. Mata hazel dan jernihnya berbinar, tidak ada ia temukan kebencian terselip di sana seperti yang ia sangka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Redup {SELESAI}
Teen FictionPercayalah, ini mungkin adalah kisah paling rumit yang pernah kalian temui. Namanya Alfa, remaja laki-laki yang bahkan baru menginjak bangku sekolah menengah. Ia adalah laki-laki kuat yang tumbuh dengan perlakuan kasar dari kakeknya. Ia adalah lak...
