Dia Tidak Pernah Baik-baik Saja

378 38 2
                                        

Rio selalu menghibur dirinya ketika merasa sedih melihat hubungannya dengan saudara-saudaranya. Bilang kalau ia hanya terpaksa. Bilang kalau semua ini bukan kemauannya. Bilang kalau pasti mereka mengerti alasannya. Bilang kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.

Namun, hari ini, untuk pertama kali, ia merasa gagal menjadi saudara yang baik untuk mereka.

Selang beberapa saat setelah Alfa tergeletak tak berdaya, sebuah mobil berwarna abu-abu lewat di sana. Lantas seorang wanita dan pria berusia dua puluh tahunan turun, menawarkan bantuan untuk membawa adiknya ke rumah sakit. Rio yang sudah kepalang panik langsung menerima tawaran itu.

Setibanya di rumah sakit terdekat, Alfa segera dilarikan ke UGD. Menyisakan ketiga saudaranya dan pasangan muda tadi di koridor. Menunggu hasil pemeriksaan, berharap pada takdir dan waktu yang terus berjalan.

Kiara bergegas mengabari Tante Ayyi dan Om Angga mengenai keadaan Alfa. Meminta mereka agar segera ke sini. Sementara Yumna menunggu bersama Rio di depan ruangan. Beberapa kali mengusap pundak Rio, memberi energi positif dan menenangkan saudaranya yang terlihat paling cemas itu.

"Rio, Yumna ..." Wanita muda tadi menghampiri mereka berdua. Membuat keduanya serempak mengangkat kepala. "Kakak gak bisa lama-lama. Kakak duluan, ya. Semoga saudara kalian cepat sembuh."

Yumna mengangguk. "Iya, Kak. Makasih, ya, maaf udah ngerepotin."

Setelah berbasa-basi sejenak, Yumna akhirnya mengantar pasangan muda itu ke area parkiran. Bertepatan dengan Kiara yang baru selesai menghubungi Om dan Tante-nya itu. Segera mengambil tempat duduk di sebelah Rio.

"Om Angga dan Tante Ayyi lagi perjalanan ke sini," katanya memberitahu.

Sebagai tanggapannya Rio hanya berdeham singkat. Tatapannya menyorot kosong ke depan. Kondisi Alfa saat ini membuatnya kalut dan merasa sangat bersalah. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Andai saja ia tidak lepas kendali dan mengatakan kenyataan tersebut dalam kondisi marah, pasti Alfa tidak akan se-syok ini. Keadaannya pasti akan lebih baik dari sekarang.

Ia bisa merasakan tangan Kiara bergerak menggenggam tangannya. Gadis itu tahu Rio sedang tidak baik saja, begitupun dengannya maupun Yumna. Mati-matian ia menahan air mata sejak tadi karena perasaan bersalah yang sama juga menghantuinya. "Jangan terlalu dipikirkan, Rio," lirihnya.

"Ini salah aku, Ki," balas Rio pelan. Tubuhnya sedikit bergetar. "Aku yang marah-marah waktu itu, aku yang gak pernah ngerti kondisi dia, aku yang nyalahin dia atas kejadian yang bahkan dia gak tau ..."

"Kita semua salah, Rio. Kita bakal bareng-bareng memperbaiki semuanya, ya." Kiara masih mencoba untuk membesarkan hati saudaranya. Dia menyandarkan kepalanya di atas pundak Rio, sambil tak berhenti mengusap punggung tangannya.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang laki-laki berpakaian dokter keluar dari sana diikuti beberapa perawat di belakangnya. Ia menoleh ke arah dua remaja itu. "Kalian keluarga dari pasien?" tanya dokter tersebut.

Rio segera mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya. "Iya, Dok. Gimana keadaan adik saya?"

Dokter itu tidak langsung menjawab, melainkan berkata, "Apa tidak ada orang dewasa yang mendampingi kalian? Orangtua atau mungkin kerabat lain? Saya tidak bisa menjelaskan kondisi pasien kepada kalian."

"Om dan Tante kami masih di perjalanan, Dok. Apa Dokter tidak bisa menjelaskan dulu bagaimana keadaan saudara kami?" Kiara juga angkat bicara. Raut wajahnya terlihat tak kalah cemas.

Dokter tersebut tampak mempertimbangkan sejenak, lantas akhirnya mengangguk. "Begini, pasien sepertinya mengalami serangan panik. Dia hanya perlu beristirahat dan menjalani perawatan agar bisa merasa lebih baik."

Rio mengusap wajahnya kasar. Setidaknya hanya itu saja. Tidak lebih buruk dari itu.

"Dan ... saya ingin tahu, apakah setelah istirahat, pasien boleh dibawa ke psikiater rumah sakit ini untuk diperiksa mentalnya?" Pertanyaan dokter tersebut sontak membuat Rio membulatkan matanya. Begitu juga dengan Kiara yang tak kalah kaget.

"Ke ... kenapa begitu, Dok?" Rio terbata-bata bertanya.

Dokter tersebut memperbaiki posisi berdirinya. Tampak ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya. "Sepanjang yang saya tahu, serangan panik atau panick attack adalah episode dari rasa takut yang amat sangat dan memicu reaksi fisik tertentu. Meski secara umum serangan panik bukan gangguan mental yang membahayakan nyawa, kondisi ini bisa terasa menakutkan bagi orang yang mengalaminya. Belum lagi, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya."

"Serangan panik yang dialami saudara kalian pasti ada alasannya, kan? Bisa saja sebelum terkena serangan panik itu ia mendengar atau melakukan sesuatu yang membuatnya mendadak kehilangan kontrol." Demi mendengar apa yang dokter itu sampaikan, Rio teringat kejadian beberapa menit sebelum ia menemukan Alfa tergeletak di jalanan. Ia mendadak teringat dirinya yang langsung menyalahkan Alfa, menyudutkannya, membuatnya tambah frustrasi karena kenyataan yang baru ia dengar.

Rio tiba-tiba merasa lemas. Ini semua salahnya.

Selang beberapa lama kemudian, dokter itu izin pamit. Meninggalkan Kiara dan Rio di koridor yang terlihat lengang itu. Rio langsung terduduk kembali di kursi tunggu. Ia mengusap-usap kepalanya yang terasa pusing. Jutaan rasa bersalah terasa menusuk-nusuk dirinya.

Yumna yang baru kembali dari luar langsung meminta penjelasan terhadap kondisi Alfa. Karena Rio sedang dalam kondisi kurang baik, Kiara ambil alih menjelaskan.

"Tapi ... tapi ... Alfa gak papa, kan, sekarang? Gak papa, kan?" tanya Yumna terbata-bata. Kabar ini membuatnya sedikit syok.

"Semoga begitu. Semoga nggak separah yang kita kira," kata Kiara diakhiri dengan helaan napas.

Karena hari semakin larut dan belum ada kerabat mereka yang sampai di sini, mereka memutuskan untuk meninggalkan koridor. Mereka bertiga pergi ke kamar pasien tempat Alfa dirawat.

Yumna langsung berlari menghampiri Alfa begitu masuk ke dalam kamar. Ia terisak kecil melihat kondisi saudaranya yang jauh dari kata baik. Terbaring lemah di atas dipan dengan selang infus menempel di punggung tangannya. Ini bukan pertama kali mereka melihat Alfa dalam kondisi seperti ini, namun memang selalu menyakitkan ketika Alfa, yang selalu menanggung beban paling berat namun berusaha untuk tetap kuat, berada di titik terendah dirinya.

Rio mematung beberapa meter dari dipan. Menatap kedua adik perempuannya yang sudah berdiri di sebelah dipan Alfa. Lantas tatapannya beralih kepada Alfa yang masih memejamkan mata. Belum sadar.

Kalimat demi kalimat dokter tadi amat mengganggunya. Serangan panik, mental yang terganggu, kondisi fisik yang lemah untuk remaja seusianya, apalagi yang akan ia dengar nanti?

Perlahan tangannya mengepal erat. Jutaan rasa bersalah dan marah terasa menyelimuti dirinya. Siapa yang bisa ia salahkan? Tidak ada sebetulnya. Dan kalau pun ada, maka itu adalah dirinya sendiri. Tapi kalau dia menyalahkan diri sendiri pun tak ada gunanya. Itu tidak akan merubah sebuah fakta yang sudah jelas selama ini.

Alfa ... dia tidak pernah baik-baik saja.

- Lentera Redup -

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang