I'm (Not) Okay

294 30 1
                                        

Alfa membuka pintu rumah perlahan. Setelah memastikan tidak ada orang di ruang tamu, ia bergegas melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Lantas berlari kecil menuju ke kamarnya. Ia bergerak cepat agar tidak ada yang menyadari kedatangannya.

Ia dan Aliya baru pulang pukul empat sore. Tidak terhitung banyaknya panggilan Tante Ayyi yang ia abaikan. Ia juga belum membaca pesan dari Tante Ayyi yang marah karena dirinya belum pulang dan tidak memberi kabar.

Jujur, dia tidak peduli. Hari ini, ia merasakan kebebasan yang sempat hilang dari hidupnya. Untuk pertama kalinya ia merasa amat bahagia karena dirinya sudah lepas dari tali kekangan, walau hanya sebentar saja.

Maka begitu sampai di kamarnya, ia segera berlari ke jendela. Dengan hati-hati ia membuka kaca jendela itu. Jendela itu sempurna terbuka tepat ketika di seberang sana, seorang gadis berjilbab coklat muda juga membuka jendela kamarnya. Ia tersenyum lebar dan melambai pelan pada Alfa, yang membuat remaja laki-laki bermata hazel itu juga melakukan hal serupa.

Dulu, sebelum persahabatan mereka pecah belah, Alfa dan Aliya melakukan ini nyaris setiap hari. Letak rumah mereka yang bersebelahan dan hanya dibatasi oleh sebuah pagar kayu memudahkan mereka berdua untuk berkomunikasi lewat jendela kamar. Sempat selama beberapa minggu mereka memasang sebuah telepon buatan dari kaleng dan benang, namun telepon itu tidak bertahan lama karena bisa dengan mudah rusak. Lalu mereka membuat alternatif lain dengan saling menulis pesan di atas kertas. Agak ribet, namun hal sederhana itu cukup membuat hati mereka bahagia.

Tok tok tok ...

Lamunan Alfa buyar seketika. Ia menoleh pada Aliya yang baru saja mengetuk jendela kamarnya. Gadis itu segera mengambil sebuah kertas dan mengangkat benda itu di depan dirinya. Sehingga Alfa bisa membaca dengan jelas tulisan di sana.

Hey, how do you feel now?

Alfa tersenyum tipis usai membaca kalimat itu. Tak mau kalah, ia dengan gesit mengambil kertas HVS yang sengaja ia tumpuk di meja belajarnya, lalu mengambil pulpen dan mulai menulis kata demi kata di atas sana. Setelah selesai, ia mengangkat kertas itu agar Aliya bisa membacanya.

Never been this happy, thank you for today.

Dia bisa melihat jelas senyum manis terlukis di wajah Aliya usai membacanya. Gadis itu segera mengambil kertas lain dan menulis dengan cepat. Tanpa buang waktu, ia segera mengangkat kertas itu.

Anytime :)

Sungguh, Alfa rindu sekali saat-saat seperti ini. Ia rindu sekali bisa berkomunikasi dengan sahabat kecilnya itu. Mungkin tidak ada yang sadar, tapi selama beberapa tahu ia selalu berdoa agar hubungannya dengan sahabat-sahabatnya bisa membaik suatu hari nanti. Dan hari ini, semua doanya terbayar tuntas. Walau hanya dengan Aliya, belum dengan Raisa, apalagi Rio, setidaknya ia bisa merasa lega.

Baru saja ia ingin meraih kertas untuk menulis pesan lain, samar-samar ia mendengar mesin mobil yang bersumber dari depan rumahnya. Tak perlu waktu lama setelah mesin mobil dimatikan, terdengar suara langkah-langkah kaki dan derit pintu. Disusul dengan seruan-seruan yang membuat telinganya mendadak sakit.

"Alfa! Alfa! Dia sudah pulang, kan? Di mana dia?" Itu sudah jelas suara tantenya yang sok khawatir. Kelihatan sekali pencitraannya.

"Di mana adik kamu, Nashwa? Kamu tidak lihat dia masuk ke rumah? Kata Tante Kiya dia dan Aliya sudah pulang, kok."

"Dasar anak itu. Tidak pernah kasih kabar kalau keluar rumah. Bikin orang khawatir saja. Bikin repot."

Alfa menghela napas kasar. Lantas ia melempar pandangan kembali pada Aliya. Gadis itu menatap dirinya iba. Mungkin ini bukan pertama kali Aliya mendengar Tante Ayyi berseru seperti itu dari dalam rumah.

Lentera Redup {SELESAI}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang