Harusnya kamu sadar, kalau masalah yang ditinggalkan buka malah pergi, tapi mengikuti langkah kamu demi meminta penyelesaian.
- Ketika Tuhan Tidak Tidur -
Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Seorang pria yang memakai kemeja putih keluar dari mobilnya. Menghela napas kasar sembari melangkah lunglai ke rumahnya. Wawancara hari ini benar-benar berat dan menguras tenaga. Rasanya ingin sekai dia cepat-cepat merebahkan diri di tempat tidur.
Dia membuka pintu rumah seraya mengucap salam. Baru saja melangkah masuk, netranya langsung menangkap sosok anak laki-laki tengah menuang susu ke gelas yang ia pegang.
"Belum tidur?" Anak laki-laki itu menghentikan langkahnya, lantas menolah malas ke arahnya.
"Menurut Om?" Dia bertanya balik.
"Jawab kalau Om tanya."
"Om, kan, udah tahu jawabannya," cetus Rio tidak peduli. Pura-pura tidak melihat wajah kesal Om Angga yang jelas terlihat di depannya.
"Mau ke mana?" tanya pria itu ketika melihat keponakannya sudah melangkah keluar dari dapur.
"Kuburan," jawab Rio asal.
Mendengar jawaban asal-asalannya, pria tersebut mendengus. "Om mau ngomong sama kamu."
Langkahnya terhenti. Dia menoleh sekilas dan berkata, "Rio tahu Om lebih sayang sama Alfa. Tapi gak usah tiap hari ngomongin dia, apalagi di depan Rio."
- Nashwa -
"Pulang!" Anak laki-laki itu hanya bisa meringis ketika seorang pria menarik tangannya dengan kasar. Langkahnya terseret-seret mengikuti pria tersebut menjauh dari lapangan tempatnya bermain.
Beberapa pasang mata memperhatikan keduanya dengan tatapan aneh. Ada beberapa juga yang berbisik dengan mata tak lepas dari keduanya. Namun pria tersebut tak peduli. Beliau tetap menarik anak laki-laki itu menjauh dari kerumunan warga.
Sementara anak laki-laki tersebut hanya bisa mengikuti. Tidak bisa meronta atau melawan.
Ketika keduanya sampai di rumah, barulah anak laki-laki itu melepaskan genggaman pria tersebut secara paksa dan berlari masuk. "Nenek!" serunya keras.
"Eh, kenapa kamu nangis?" tanya seorang wanita tua ketika melihat anak laki-laki itu berlari ke arahnya.
Pria tadi masih memasang wajah marah dan matanya menyorot persis ke anak laki-laki tersebut. "Tanya aja sama dia!"
Anak laki-laki itu menggeleng pelan di sela-sela isak tangisnya. "Alfa, nggak ngapa-ngapain, kok. Tanya aja sama Zakwan."
"Bohong aja terus! Ngapain kamu sama anak-anak itu kalau nggak ikutan mencuri?" tukas pria tersebut dengan nada tinggi. Membuat anak laki-laki itu semakin terisak.
"Astaghfirullah, benar itu, teh? Kamu mencuri?" tanya wanita tersebut.
"Nggak, Nek. Alfa udah bilang sama mereka, jangan nyuri. Mereka nggak mau dengar. Tadi Alfa mau ngembaliin mangga yang mereka curi. Tapi tiba-tiba Kakek dateng," tuturnya jujur. Yang terdengar seperti bualan di telinga pria tersebut.
"Percaya kamu sama anak itu? Tiap hari bohong aja! Coba anak tetangga kita itu, si Wawan, gak pernah, tuh, buat masalah kayak dia. Kamu, tuh, harusnya belajar jadi anak baik, bukan malah menyusahkan! Sama aja kayak ayahnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Redup {SELESAI}
Teen FictionPercayalah, ini mungkin adalah kisah paling rumit yang pernah kalian temui. Namanya Alfa, remaja laki-laki yang bahkan baru menginjak bangku sekolah menengah. Ia adalah laki-laki kuat yang tumbuh dengan perlakuan kasar dari kakeknya. Ia adalah lak...
