Hina menggigit bibir bawahnya sambil memperhatikan bagaimana sibuknya jaemin mencatat semua pelajaran hari yang tidak dia ikuti. Sebenarnya, diam-diam hina memberi tahu jeno jika jaemin ada dirumahnya jadi jeno dengan senang hati memberikan catatannya. Tapi tentu saja hina tak mengizinkan jeno datang karena jaemin pasti akan marah padanya.
“apa kau tak akan mengerjakan pr mu??”, hina mematung saat tiba-tiba jaemin menatap tajam ke arahnya.
“hehehhe... aku akan mengerjakannya”, hina terkekeh pelan. Dia merasa malu karena jaemin memergoki aksi tatapannya untuk jaemin. Pipinya memanas dan hina tersenyum malu-malu. Mimpi apa sebenarnya hina hingga dia bisa belajar bersama dengan jaemin.
Hina sangat tertarik pada jaemin sejak awal mereka bertemu di hari pertama masuk sekolah. Saat itu hanya tak hisa memalingkan tatapannya dari jaemin karena jaemin selalu sendiri dan ketika jaemin terdiam dia seolah memiliki banyak pikiran. Hina begitu penasaran dan berharap bisa berkenalan dengan jaemin tapi ketika melihat sikap dingin dan tertutup jaemin pada semua orang hina merasa takut. Hina takut jaemin akan mengacuhkannya juga. Awalnya hina pikir jaemin begitu karena berasal dari keluarga kaya sehingga dia sombong dan tidak mau berteman tapi entah kenapa saat untuk pertama kalinya hina melihat jaemin berteman dan tersenyum untuk jeno, hina kembali tertarik bahkan jatuh cinta.
“Kalian masih belajar??”, jaemin dan hina menoleh mendapati ibu hina baru saja pulang dengan membawa beberapa belanjaan.
“ne omma”, sahut hina, jaemin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Bahkan meski sudah tinggal selama 2 malam, jaemin masih merasa canggung.
“jaemin sudah minum obat??”,
“ne...”, ibu hina hanya bisa tersenyum karena jaemin masih saja bicara dengan canggung.
“sebentar lagi, anak teman omma akan datang... dia baru saja pulang dari amerika”,
“siapa omma??.....kenapa aku tidak tahu??”, tanya hina dengan polosnya.
“nanti juga kau tahu”,
Ting tong,
“ah... itu sepertinya dia... “,
“anyeonghase-...yo”, sapa jaehyun dengan tatapan pura-pura terkejut karena jaemin.
“Jaehyun hyung??”, hina dan ibunya terlonjak dan menatap jaemin dan jaehyun bergiliran.
“Jaemin-ah.... kenapa kau ada disini??”,
“kalian berdua saling kenal??”, jaemin dan jaehyun mengangguk perlahan.
-
“aku tidak akan bertanya lagi kenapa kau disini tapi biarkan aku membantumu mengompres lukamu”, jaemin yang tengah mengompres lukanya menoleh dan mendapati jaehyun tengah menghampirinya dan tersenyum.
“berikan padaku”, pinta jaehyun sambil mengambil kain beserta dengan es batu dati tangan jaemin.
“aku bisa melakukannya sendiri hyung-“,
“ani... kau kesulitan.. jangan membantah dan biarkan aku melakukannya... jangan membantah seorang dokter”, jaehyun dengan hati-hati mengompres luka memar jaemin. Jaehyun merasa sakit harus melihat tubuh adiknya membiru karena luka memar. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan menuntut keadilan untuk adiknya. Siapapun yang melakukan ini akan mendapatkan balasan yang setimpal.
“hyung seorang dokter??”, tanya jaemin dengan antusias.
“oo... aku seorang dokter... meskipun aku baru akan memulainya”,
“hyung lulusan amerika??”, jaemin langsung menyimpulkan jika jaehyun adalah lulusan amerika karena ibu hina mengatakan jaehyun baru saja kembali dari amerika.
“ne... ketika aku bertemu denganmu.. hmmm.. itu sekitar 5 hari setelah aku kembali dari amerika”,
“wuah... itu keren hyung”, jaehyun berhenti sebentar dan menatap jaemin. Pancaran mata jaemin begitu cerah dan terlihat ada mimpi yang begitu besar dimatanya.
“kau ingin ke amerika??”,
“ani... aku tak berani bermimpi sejauh itu... aku... aku hanya ingin menjadi seorang dokter”, jaehyun terdiam. Jaehyun bisa menjadi seorang dokter melalui jalan yang lebih mudah bagi kebanyakan orang. Bukan karena dia tidak perlu belajar tapi dia tak perlu memikirkan biaya atau bahkan sekolah mana yang bisa membuatnya menjadi dokter terbaik. Sementara adiknya harus memikirkan banyak hal untuk menggapai impian itu.
“wae??.. kenapa kau ingin menjadi seorang dokter??”, jaehyun melanjutkan kegiatannya lagi.
“molla.. hanya... mungkin karena waktu kecil aku pernah bertemu dengan teman ibuku, dia seorang dokter dan kelihatannya sangat keren... menyelamatkan hidup banyak orang”, jaemin tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya. “tapi aku tidak akan berani bermimpi sejauh itu lagi... mungkin aku bisa menjadi seorang guru saja seperti ibuku”, lanjut jaemin.
“kau menyerah??... bukankah kau pintar??.. bibi gong memberi tahuku jika kau sangat pintar... apa kau tak mencari bea siswa??”, jaemin mendongak, kenapa dia lupa jika dia masih bisa mencari beasiswa untuk pendidikannya.
“ah iya.. “, senyuman diwajah jaemin berubah lebih sumbringah dan berbinar. “kenapa aku bisa melupakan hal itu??... ah... gomawo hyung... gomawo”, jaemin tanpa sadar memeluk jaehyun begitu erat meluapkan kebahagiaannya. Dia tak seharusnya Mudah menyerah sementara masih ada banyak jalan untuk menggapai mimpinya.
“aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi tapi aku berharap kau tak akan pernah menyerah pada mimpimu... kau anak yang kuat dan juga pintar..”, senyuman di wajah jaemin perlahan menghilang dan jaemin melepaskan pelukkannya pada jaehyun.
“maaf hyung”, jaehyun membelai surai rambut jaemin dan ingin sekali dia memberi tahu jaemin jika dia adalah kakak kandungnya dan jaemin bisa mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.
“aku tahu kita baru saling mengenal tapi aku selalu berpikir bahwa aku mengenalmu dalam waktu yang lama... aku tahu bahwa kau orang yang tertutup dan tidak mau merepotkan orang lain tapi... aku adalah seorang kakak yang tak pernah mau melihat seseorang yang seumuran adikku menanggung beban berat seperti ini.... jadi... bolehkah aku menjadi temanmu??”, jaemin terdiam. Jaemin tak pernah benar-benar berteman dengan siapapun. Mungkin hanya jeno yang paling dekat, sementara sunbae nya di tempat kerja hanya sekedar menyapa.
“atau kau mau aku menjadi gurumu???... kau ingin menjadi seorang dokter kan??”, tawar jaehyun lagi.
“hyung-“, jaemin ragu. Dia bukannya tidak menyukai jaehyun tapi dia hanya tidak berani untuk membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya yang sulit dan menyedihkan.
“jangan menutup dirimu hanya karena kau merasa malu atas hidupmu... kau berhak bahagia... mulai sekarang aku adalah temanmu... ok??”, jaehyun menarik kelingking tangan jaemin dan mengaitkannya dengan miliknya.
***
“kau benar-benar akan pergi???... ani wae??”, tanya hina memperhatikan jaemin mengemasi beberapa barangnya.
“aku tidak mau berhutang lebih banyak.. aku sudah cukup merepotkan keluargamu”,
“aku belum memberikan ijin untukmu na jaemin”, jaemin dan hina menoleh. Orang tua hina nampak khawatir, sepertinya mereka bergegas pulang setelah hina menelfon karena jaemin ingin pergi.
“kau masih belum sembuh jaemin.. kalau kau pergi dari sini, kau ingin tinggal dimana??”, tanya ibu hina khawatir.
“ceoseonghamnida... aku sungguh berterima kasih atas pertolongan kalian dengan merawatku, membiarkan aku tinggal disini dan memberiku makan... tapi aku tidak bisa merepotkan kalian lebih lama lagi. Meskipun aku belum punya tujuan tapi itu adalah bagian dari hidupku... aku akan berhenti bersekolah sementara dan mencari pekerjaan... setidaknya aku harus hidup dengan kerja kerasku sendiri bukan dari belas kasihan siapapun”, hina dan orang tuanya tak pernah bisa berhenti kagum. Selama 3 hari jaemin tinggal bersama mereka, jaemin adalah anak yang sangat mandiri dan pintar. Dia tak pernah mengeluh meskipun ada banyak luka disekujur tubuhnya. Dia tetap membantu hina mengerjakan pr, belajar dan membantu bibi shin semampunya meskipun sudah dilarang. Jaemin selalu mengatakan dia tidak ingin tinggal secara Cuma-Cuma disana.
“aku mengerti keinginanmu nak tapi bukan berarti aku bisa membiarkanmu berkeliaran atau bahkan tidur didepan toko seperti saat bibi shin menemukanmu... aku tidak setega itu apalagi kau adalah teman anakku... begini saja.... jika tinggal disini membuatmu kurang nyaman bagaimana jika kau tinggal di apartementku.. Letaknya tidak jauh dari sekolahmu... kau bisa tinggal disana selama kau mencari pekerjaan dan tempat tinggal baru”,
“appa punya apartement??”, tanya hina dengan polosnya.
“appa mu baru baru ini membeli apartement milik temannya yang perlu uang”, jawab ibunya tanpa pikir panjang.
“tidak tuan... aku tidak bisa menerima bantuan sebesar itu lagi-“,
“aku tidak membiarkanmu tinggal Cuma-Cuma,... kau bisa membayar berapapun kau memiliki uang... ok??”,
***
Disinilah jaemin sekarang, berdiri didepan sebuah apartement yang merupakan milik ayah hina. Jaemin memilih untuk menerima tawaran ayah hina tinggal disini, jaemin akan tetap membayar uang sewa sebesar yang dia bisa. Jaemin juga menawarkan diri untuk menjadi guru hina di akhir pekan. Jaemin hanya tak ingin menerima bantuan keluarga hina dengan Cuma-Cuma.
Jaemin membuka pintu apartement perlahan-lahan sebelum dia bena-benar masuk. Apartement milik ayah hina tidak terlalu besar tapi bagi jaemin itu sudah sangat besar untuknya yang hanya sendirian. Apartementnya terletak di lantai 4 dan jaraknya memang tak terlalu jauh dari sekolah.
Jaemin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, tatapannya terjatuh pada tas gendong yang menjadi satu-satunya harta yang jaemin miliki saat ini. Jaemin bahkan tak membawa cukup pakaian, bahkan jaemin tak membawa seragam sekolahnya karena seragamnya kotor dan juga ada yang robek saat mark dan teman-temannya memukuli jaemin. Jaemin memutuskan untuk berhenti dari sekolah, dia akan mencari uang dulu baru mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Dia sadar kondisi keuangannya, dia tak punya sepeser uang pun sekarang. Orang tua hina sebenarnya ingin mengirimkan beberapa pakaian dan juga makanan ke apartement tapi jaemin menolak. Jaemin sungguh tak ingin berhutang lebih banyak.
Jaemin mendesah pelan kemudian memutuskan untuk mandi, dia harus keluar dan mencari lowongan pekerjaan. Jaemin mungkin punya pekerjaan di malam hari tapi dia tidak punya pekerjaan di malam hari. Jaemin harus mengumpulkan banyak uang untuk melunasi hutangnya pada jaehyun dan juga orang tua hina.
Ketika jaemin akan mandi, dia baru ingat jika dia tidak memiliki perlengkapan mandi sama sekali. Tapi ketika jaemin masuk ke dalam kamar mandi ternyata semua perlengkapan mandi ada disana. Sabun mandi, sampoo, sikat gigi, pasta gigi, handuk dan perlengkapan lainnya. Jaemin kemudian teringat ucapan ayah hina sebelum dia pergi kesini.
“aku tidak tahu bagaimana keadaan apartementnya karena aku hanya membelinya untuk membantu temanku yang kesulitan. Dia memberikan passwordnya lalu pergi setelah menerima uang dariku. Aku tidak yakin apa keadaannya sudah bersih atau masih berantakan... kau bisa membersihkannya pelan-pelan jika memang dia meninggalkannya dalam keadaan berantakan”,
Tapi ini jauh dari kata berantakan, jaemin memperhatikan lagi semuanya nampak bersih dan baru. Jaemin bahkan baru sadar jika ada televisi di ruang tamu, ketika ke dapur jaemin mendapati masih ada barang barang dapur yang tertata rapi. Piring, mangkuk, gelas, panci, sendok,sumpit dan peralatan lainnya. Jaemin membuka lemari dapur yang ada diatas dan dia masih menemukan beberapa bungkus ramyeon, tanggal kadaluarsanya juga masih jauh.
“apa dia benar-benar terburu-buru??... tapi kenapa semuanya masih bersih??”, gumam jaemin. Tangannya kini beralih ke arah kulkas, dan sesuatu yang mengejutkan. Jaemin menemukan beberapa telur, sayuran yang belum terlalu layu, snack, minuman dingin bahkan nasi instan. Semuanya terlihat masih baru dan jaemin tak tahu apakah ini memang ditinggalkan atau ayah hina berbohong hanya agar jaemin mau menerima bantuannya.
“mereka pasti berbohong... mereka hanya tak ingin aku menolak”, jaemin mendesah pelan. Dia bukannya marah, lebih tepatnya merasa menyesal. Menyesal karena selalu merepotkan, tapi sebenarnya dia juga bersyukur. Dia dipertemukan dengan orang-orang baik dan menyayanginya meskipun mereka belum lama mengenal.
“aku harus bekerja lebih giat dan membalas kebaikan mereka”, jaemin akhirnya mandi dan bergegas pergi mencari pekerjaan baru.
***
“Aku tak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepada paman dan bibi...berkat kalian adikku mendapat perawatan, tempat tinggal dan makanan yang baik... aku sungguh berterima kasih”, jaehyun membungkuk beberapa kali menunjukkan betapa bersyukurnya dia karena jaemin ditemukan oleh keluarga yang begitu baik.
“itu bukan hal yang besar jaehyun... meskipun dia bukan adikmu, kami akan tetap membantunya”, kata ayah hina lembut.
“tapi bagaimana kau tahu jika jaemin pasti ingin pergi dari sini??”, tanya ibu hina.
“karena dia mandiri dan keras kepala...jadi aku yakin dia akan pergi bahkan meski dia tak punya tempat tujuan....aku hanya tak ingin adikku terlantar dan tak punya tempat yang layak untuk tidur...jika aku yang menawarkan apartement itu pasti dia akan curiga terlebih aku tidak begitu mengetahui apa yang terjadi... jadi akan lebih baik jika kalian yang menawarkan”, jaehyun sudah mempersiapkan dengan baik keperluan jaemin disana. Jaehyun sudah meletakan beberapa pakaian , makanan, peralatan mandi, memastikan air, penghangat ruangan dan yang lainnya dalam keadaan baik dan jaemin tidak akan kekurangan apapun.
“apa ayah kalian tahu??... kenapa dia tak menemui anaknya, jaemin sangat membutuhkan ayahnya disaat seperti ini”, jaehyun tersenyum tipis.
“ayah membenci ibuku dan jaemin sejak tahu ibu memilih menikah lagi bukannya menunggu hingga ayah sadar dan menjemputnya.... egois.. ya... ayahku seseorang yang egois... dia tahu dimana jaemin tapi dia tak pernah berusaha untuk menemuinya atau bahkan melindunginya... jaemin tak mengingat kami karena dulu aku dan jaemin pernah kecelakaan... jadi aku tak bisa memberi tahunya begitu saja... aku harus mendekatinya dulu dan memberi tahunya pelan-pelan”,
“Jadi oppa kakak kandung jaemin??”, jaehyun dan orang tua hina mematung. Hina mendengar pembicaraan mereka dan sekarang hina juga mematung dengan tatapan shock.
“hina-ya.... sejak kapan kau disana??”,
“jadi... apartement itu sebenarnya milik oppa dan memang untuk jaemin... jadi-“,
“hina-ya... ayo kita bicara dulu... aku akan memberi tahumu”, putus jaehyun akhirnya sambil menghampiri hina dan mendorongnya untuk ikut duduk di ruang kerja ayah hina.
***
“maaf jaemin... tapi kau sudah tidak bisa bekerja disini... kau tidak bekerja selama 3 hari tanpa pemberitahuan dan kami sudah menerima orang lain”, jaemin mendesah pelan. Hari ini hari yang berat. Jaemin belum menemukan pekerjaan baru sementara dia sudah tidak bisa bekerja ditempatnya yang lama.
Jaemin menjatuhkan dirinya di sebuah halte yang sepi. Jaemin menatap jam tangannya dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam sementara jaemin belum makan apapun. Jaemin hanya makan sebelum dia pergi dari rumah hina tadi pagi. Jaemin merasa lelah, kakinya terasa sakit dan tubuhnya yang masih memar juga masih nyeri.
“aku... tak boleh menyerah kan omma??... aku kuat.. dan omma akan selalu bersamaku”, jaemin akhirnya melangkah dengan perlahan ke arah apartement orang tua hina. Mungkin memang jaemin harus beristirahat hari ini dan mulai mencari pekerjaan besok ketika tubuhnya sudah lebih baik.
-
Jaehyun ingin sekali menghentikan adiknya agar dia berhenti melangkah ketika tubuhnya sudah sangat lelah, wajahnya bahkan tampak pucat lagi. Tapi jaehyun menahannya dan hanya mengawasi jaemin dari jauh. Ketika jaemin duduk dihalte dengan mata menerawangnya ingin sekali jaehyun memeluknya dan mengatakan padanya jika dia tidak sendiri bahwa dia masih memiliki seorang kakak yang bisa dia andalkan.
“omma... aku akan menjaganya... jangan khawatirkan jaemin.. aku akan menjaganya dan memastikan dia tidak akan kekurangan apapun”,
Ketika jaemin kembali melangkah, jaehyun tetap setia mengikutinya dalam jarak yang cukup jauh. Beberapa kali jaemin hampir terjatuh dan jaehyun juga hampir saja berlari untuk menghampiri adiknya.
Setelah akhirnya jaemin sampai didepan apartementnya, jaemin menyandarkan tubuhnya dipintu dan jaehyun tahu jaemin menahan rasa sakit.
“Jaemin-ah”, jaehyun tak bisa menahan dirinya dan berakhir memanggil adiknya dan menghampirinya dengan khawatir.
“Jaehyun hyung??”
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Everything For You
FanfictionAku tahu segalanya tentangmu tapi aku takut kau akan membenciku jika kau tahu semuanya -Jung Jaehyun Hidupku penuh Kemalangan sejak orang tuaku pergi tapi aku mendapatkan kebahagiaan ketika kau datang.... bahkan meski kau hanya orang asing dalam hid...