Hurt

3.6K 388 36
                                    

***
Jaemin berbicara dengan ayah hina selama kurang lebih 15 menit, pembicaraan yang lebih dominan ke masalah pendidikan hina dan jaemin. Ayah hina ingin jaemin tidak memaksakan diri untuk memberikan les pada hina ketika dia sudah punya 2 pekerjaan dan sudah seharusnya jaemin memanfaatkan waktunya untuk istirahat dihari minggu.

“sepertinya ada hal yang harus kita bicarakan”, kata hina tepat setelah jaemin menutup ruang kerja ayahnya. Hina sudah menunggu jaemin sejak tadi dan berharap jaemin mau bicara dengannya.

“aku juga ingin bicara denganmu”, timpal jaemin tenang.

“kita bicara ditaman.. aku akan menyuruh bibi shin menjaga ji sung”, jaemin mengangguk pelan lalu berjalan ke arah taman belakang rumah hina.

-

“aku tahu mungkin kau tidak ingin membicarakannya… tapi… aku ingin kau mengatakan padaku alasanmu menangis bahkan kau bolos kemarin”, kata hina memecah keheningan diantara mereka.

“aku minta maaf… tidak seharusnya aku menahanmu… padahal aku tak ingin kau dan jeno terlibat masalah lagi-“,

“kau sudah tahu jika kami mendatangi mark sunbae??”, jaemin mengangguk pelan.

“mark sunbae menemuiku tadi pagi dan memberi tahuku apa yang jeno lakukan-“

“dia tak memarahimu kan??”,

“jangan mengkhawatirkan aku.. berapa kali aku harus memberi tahumu jika mark sunbae sudah tidak pernah mengangguku lagi”, hina menundukkan wajahnya dan mendengus kesal. Lagi-lagi jaemin membentaknya walaupun tidak keras.

“itu … itu karena kau tidak mau memberi tahu kami kenapa kau menangis… mark sunbae yang selalu mencari masalah denganmu… jadi hanya dia yang kami pikirkan”,

“dan aku sudah bilang jangan mencampuri privasiku-“,

“lalu kenapa kau membiarkan aku khawatir dengan menangis dihadapanku??”, tuntut hina tak terima.

“aku sudah minta maaf”,

“jika kau punya masalah ceritakan saja pada kami.. kami akan dengan senaang hati mendengarkan… jangan menahannya sendirian… kau seharusnya apa artinya seorang teman”, jaemin menyunggingkan sedikit senyuman diwajahnya.

“begitu seharusnya… tapi… seorang teman menghianati kepercayaanku… dan aku tidak bisa mempercayai seorang teman lagi… “, hina terdiam, hatinya ikut sakit mendengar cerita jaemin. Bahkan dengan senyuman diwajahnya justru membuat jaemin terlihat semakin terluka.

“mianhae”, sesal hina akhirnya.

“tidak apa-apa… kau tidak tahu… sudah seharusnya kau mengajari seseorang yang kau pikir punya pemikiran yang salah….”,

“lalu kenapa kau menangis??... jika itu bukan karena mark sunbae”, jaemin mendesah pelan.

“hanya… mengingat masa lalu menyedihkan”, kata jaemin akhirnya. Hina tak berani bertanya lebih banyak, jaemin pasti tidak akan memberi tahunya.

“tapi… jaemin-ah”, hina teringat ucapan mark beberapa hari lalu, bahwa jaemin menjauhinya karena jeno menyukainya. “apa kau menghindariku dan jeno hanya karena mark sunbae??”, jaemin yang awalnya tertunduk, menoleh dan menatap hina begitu dalam. “bukankah itu berarti kau mengkhawatirkan kami??.... jika benar.. kenapa kau boleh mengkhawatirkan kami sementara kami tidak??”,

“sudah kukatakan aku tidak ingin menjadi alasan dari masalah kalian… aku tidak mengkhawatirkan kalian”, elak jaemin lalu memalingkan tatapannya lagi.

“jika kau mengkhawatirkan kami… berarti kau menganggap kami sebagai temanmu… tapi kenapa kau lebih mengkhawatirkan jeno??... bagaimana denganku??.. kau tak peduli dengan perasaanku??-“,

Everything For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang