Being Close

4.6K 464 10
                                    

“jaehyun hyung??...bagai.. akgghhh”,

“gwaenchana??...kau tinggal disini??.... aku tinggal disebelahmu.. apa kau masih sakit??”, jaemin hanya sanggup mengangguk pelan. Dan mengeram sekali lagi karena menahan nyeri di sekujur tubuhnya.

“lebih baik kita masuk... berapa passwordnya??”, jaehyun menyangga tubuh jaemin sementara tangannya yang lain membantu jaemin untuk membuka pintu. Tapi sebelum jaemin memberi tahunya jaehyun sudah terlebih dulu menekan tombol password. Dia terlalu panik melihat adiknya menahan sakit.

Jaehyun menggendong tubuh jaemin lalu bergegas masuk, membaringkan tubuh adiknya di tempat tidur.

“tunggu disini... aku akan mengambil peralatan dokterku”, jaemin tak sanggup untuk menjawab sementara rasa nyerinya terlalu menyakitkan. Jaehyun bergegas mengambil peralatan dokternya di apartementnya dan kembali untuk memberikan pengobatan pada jaemin.

Ketika jaehyun  kembali, kedua mata jaemin sudah terpejam dan tubuhnya meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Tanpa terasa tetesan air mata terjatuh dari kedua mata jaehyun, adiknya pingsan karena menahan sakit diseluruh tubuhnya dan juga kelelahan mencari pekerjaan.

“Seharusnya kau tetap istirahat jaemin-ah”, dengan hati-hati jaehyun membenahi posisi tubuh jaemin dan membuka bajunya. Jaehyun harus memberikan penghilang rasa sakit dan juga mengompres luka memar di tubuh adiknya.

“aku menyayangimu jaemin.... jangan memaksakan dirimu lagi”, jaehyun membenahi surai rambut jaemin dan memberikan sebuah kecupan di keningnya.

-

Kedua mata jaemin menyerjap pelan ketika sinar matahari sudah menerobos masuk melalui sela-sela ventilasi di kamarnya. Jaemin membuka kedua matanya sempurnya sebelum menyerjap berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya.

“Jaehyun hyung menolongku lagi”, lirih jaemin ketika menyadari selang infus yang tertusuk ditangannya, bajunya juga sudah diganti.

“kau sudah bangun??”, jaemin bergegas mendudukan dirinya ketika jaehyun masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan juga air putih.

“hyung seharusnya tidak perlu repot... aku bisa melakukannya sendiri”,

“kau akan melakukannya?? ... dengan kondisi seperti ini??... kenapa kau keras kepala sekali??... karena aku tidak tahu apa yang terjadi... aku menelfon ibu hina tadi malam... seharusnya kau beristirahat bukannya memaksakan dirimu”, omel jaehyun sambil membantu jaemin mencari posisi duduk yang nyaman lalu bersiap menyuapi jaemin.

“hyung aku bisa makan sendiri-“

“ani... sebagai orang yang menolongmu aku tidak akan mengijinkanmu... diam dan makan saja”, tegas jaehyun. “buka mulutmu... aaaa”, jaemin membuka mulutnya dengan ragu dan membiarkan jaehyun menyuapinya. Jaemin ternengun karena jaehyun sangat baik dan perhatian padanya, bahkan mereka tak seperti baru mengenal. Sejak jaemin kehilangan orang tuanya, dia merasa kesulitan untuk menerima orang baru dan ada rasa takut dihatinya. Jaemin takut jika dia ditinggalkan sendirian ketika dia sudah menerima dan memberikan seluruh kasih sayangnya.

“hyung”,

“ya”,

“Kenapa hyung sangat baik padaku???... padahal kita belum lama saling mengenal... apa hyung memang semudah itu memberikan kasih sayangmu??”, jaehyun menatap manik mata jaemin begitu dalam. Dia tahu adiknya memiliki banyak pikiran.

“Karena ibu mengajarkanku untuk menjadi anak yang baik, penyayang dan membantu siapapun yang sedang kesulitan”

“ibu??”,

Everything For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang