***
Entah untuk keberapa kalinya renjun menghela nafas panjang, dia menatap punggung kakaknya yang terbaring lemah di ruangan rumah sakit. Tiffany jatuh sakit, setelah jaehyun pergi dari rumah, tiffany bertengkar hebat dengan ayah mereka dan berakhir mengunci dirinya didalam kamar berhari-hari hingga ditemukan pingsan.
“nuna.. ayo makan… sampai kapan nuna seperti ini??”, bujuk renjun lagi tapi tiffany tetap diam. Hanya renjun yang dibolehkan oleh tiffany masuk, bahkan orang tuanya ditolak. Tiffany begitu kecewa dan tak percaya. Bahkan ibunya tahu semua itu dan tak melakukan apapun untuk menghentikan ayahnya.
“Aku sungguh bosan nuna… kau bahkan tak membiarkan aku pergi ke sekolah… apa kau tidak memikirkan kehidupanku??”, kesal renjun. Tiffany akhirnya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah renjun dan menatapnya dengan sendu. Renjun harus mendesah lagi, kakaknya ini benar-benar kacau. Dia tidak mandi beberapa hari, tidak mau makan, dan hanya menangis seharian sambil berbaring.
“renjun-ah…. Dengan semua dosa yang dia lakukan pada jaehyun dan jaemin… masih mampukah kau menatap wajahnya??... kau tahu kehidupan seperti apa yang harus mereka jalani karena dia??”, tiffany menangis lagi dan renjun dengan sigap menyeka air mata kakaknya.
“karena itulah aku memilih pergi ke cina.. tapi setelah aku pergi penyesalanku semakin bertambah nuna… dan aku sadar… menghindar tidak akan menyelesaikan masalah”,
“aku mencintainya renjun… sangat… kau tahu butuh waktu 7 tahun bagi kami untuk bertemu lagi dan sekarang kami berpisah karena fakta ini”,
“aku tahu… saranku… ikutlah dengan rencanaku nuna… setidaknya kita bisa membantu mereka… itu mungkin tidak akan menghapus dosa ayah tapi setidaknya membuktikan kalau kita berbeda dengannya”, renjun memberikan seulas senyuman untuk kakaknya sebelum dia memilih keluar dari ruangan tiffany.
-
Renjun keluar dari ruangan tiffany dan memilih untuk pergi ke kantin. Sejujurnya dia sudah sangat bosan di rumah sakit tapi dia tak tega meninggalkan kakaknya sendirian. Renjun berjalan melewati lorong-lorong ruangan rumah sakit sebelum akhirnya matanya menangkap sosok tinggi dan tampan berjalan menuju kearahnya.
Ketika kedua mata mereka bertemu, langkah kaki mereka terhenti dan waktu seolah berhenti diantara mereka.
-
“aku tidak bisa menginjinkanmu menemui jaemin… jangan sekarang”, kata jaehyun dingin bahkan tanpa menatap renjun yang duduk disebelahnya. Kedua mata renjun membola, dia menatap jaehyun tidak mengerti. Memangnya jaemin di rumah sakit??, apa jaehyun berpikir renjun dirumah sakit karena ingin menemui jaemin.
“Aku belum berpikir menemuinya… memangnya jaemin dirumah sakit??... wae??... apa terjadi sesuatu??”, tanya renjun penasaran. Dan kali ini jaehyun menoleh dengan tatapan terkejut.
“Kau tak tahu???... bukankah seharusnya disekolah banyak yang membicarakan??”,
“Tiffany nuna sakit jadi aku tidak masuk sekolah untuk menjaga nuna disini”, jaehyun terdiam. Tiffany pasti sangat terluka dan kecewa hingga dia masih belum bisa mengendalikan sakit hatinya.
“benarkah??... Kuharap dia cepat sembuh”, kata jaehyun ragu lalu memalingkan tatapannya dari renjun.
“jaemin… apa yang terjadi padanya??”, tanya renjun tak kalah ragu.
“mark menganggunya lagi dan kali ini mark memukul kepala jaemin… tapi jaemin baik-baik saja”, kata jaehyun cepat agar renjun tak bertanya lebih lanjut.
“hyung… apa… apakah tidak ada kata maaf untuk kami berdua??... ani… bahkan hanya untuk nunaku saja??... aku tidak apa-apa jika jaemin atau bahkan hyung pun membenciku… tapi aku berharap hyung tidak membenci nuna… nuna tidak tahu apapun… dia sangat menyesal dan setelah hyung pergi… nuna bertengkar dengan ayah… dan berakhir mengurung diri hingga sakit-“
“aku tak bisa memutuskan”, potong jaehyun sedikit dingin. Jaehyun menoleh lagi ke arah renjun, dan renjun tahu betapa besar dendam dan kebencian yang disimpan untuk ayahnya.
“kalian bahkan tidak tahu apa yang telah ayah kalian lakukan kepada keluarga kami… tapi kami… tak bisa melupakan fakta bahwa kesalahan ayah kalian menanamkan kebencian dihati kami untuk kalian juga… kau mungkin tahu jika ayahmu membunuh ibu kami… tapi… tahukah kau jika ayahmu yang telah memalsukan tes dna jaemin??... aku… aku dan ayah menjadi orang jahat ketika kami mengusir ibu dan jaemin dari rumah… jika kau berada diposisi kami… bisakah kau memaafkan semua itu??... keluargamu hancur dan bahkan kau tak bertemu dengan ibumu selama 7 tahun dan ketika kau kembali ibumu sudah meninggal… bisakah kau menanggung semua itu??”, renjun hanya terdiam. Renjun menundukkan kepalanya lebih dalam dan tak berani menatap jaehyun.
“aku bukan mengatakan ini untuk memberi tahumu seberapa besar kebencian kami… aku hanya ingin kalian mengerti… aku dan jaemin diajarkan untuk tidak menyimpan dendam oleh ibu kami… tapi dengan semua yang telah ayahmu lakukan, kami tidak sanggup untuk memenuhi permintaan ibu kami …. Berikan kami waktu… biarkan waktu yang menyembuhkan luka kami dan membuka hati kami untuk bisa memaafkan kalian sepenuhnya”, renjun mengangguk pelan.
“aku mengerti hyung…. Mianhae… sungguh aku minta maaf… atas semua yang ayahku lakukan”, jaehyun tersenyum pahit lalu beranjak dari tempat duduknya.
“aku minta maaf karena aku belum bisa menemui tiffany ataupun membiarkanmu bertemu dengan jaemin… tapi kuharap kau mengerti…. “, jaehyun melangkah menjauhi renjun. Renjun menundukkan kepalanya dan sebuah helaan nafas panjang menemani penyesalannya. Bertambah satu lagi penyesalan yang harus renjun tanggung akibat ulah ayahnya. Hidup jaemin sudah hancur sejak kecil karena ayahnya, penderitaan yang jaemin tanggung adalah tanggung jawab ayahnya.
***
Hina membenahi selimut jaemin, dia tersenyum menatap wajah damai jaemin saat tidur. Jaemin benar-benar berbeda. Dia lebih banyak tersenyum, manja bahkan banyak bicara, sangat jauh berbeda dengan sifatnya saat hilang ingatan.
“tetaplah seperti ini… melihatmu tersenyum adalah sebuah keajaiban”, bisik hina. Dengan keberanian yang dia miliki, hina memberanikan diri mengecup pelan kening jaemin. Sebenarnya selama jaemin dirawat dirumah sakit, setiap hina kebetulan menemani jaemin yang tertidur, dia akan mencuri satu kecupan di kening jaemin.
“jaemin tidur??”,
“ne??”, hina spontan menoleh dan tersenyum kaku karena jaehyun tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. “ne… baru saja”, jawab hina dengan senyuman kakunya.
Jaehyun tersenyum, dia tahu jika hina mencium kening jaemin. Jaehyun mendekati hina lalu mengacak pelan rambutnya.
“jeno dimana??”,
“dia harus pulang… tadi ibunya menelfon”, jaehyun mengangguk pelan lalu duduk ditepi ranjang dan membelai surai rambut jaemin.
“apa terjadi sesuatu oppa??”, terlihat sekali sebenarnya jika jaehyun mengkhawatirkan sesuatu.
“maukah kau menjaga jaemin lebih lama??.. aku… aku mungkin tak bisa menjaganya malam ini”, tanya jaehyun tanpa memalingkan tatapannya dari jaemin yang tertidur.
“tentu saja… aku bisa menjaganya disini”, hina dengan tegas menyanggupi permintaan jaehyun. “tapi… memangnya oppa mau kemana??”,
“menyelamatkan mark”, hina terdiam. Hina dapat melihat ada keraguan di mata jaehyun.
“oppa khawatir??”, tebak hina.
“ya”, jawab jaehyun singkat. “aku takut ketika nanti aku melihatnya, aku akan melukainya”, jaemin tiba-tiba saja menggeliat dan membuka matanya.
“hyung”, jaemin mencoba menggumpulkan kesadarannya dan duduk untuk menyapa kakaknya.
“tidur lagi… kau harus banyak istirahat”, pinta jaehyun tapi jaemin sudah terlanjur duduk dan memeluk jaehyun.
“apa hyung bertemu ayah??... kenapa ayah belum datang kemari??.. hyung aku ingin pulang.. aku bosan dirumah sakit”, rengek jaemin manja, dia menutup matanya lagi dan berusahha tidur sambil memeluk tubuh kakaknya.
“ayah punya jadwal operasi jaemin… besok pagi ayah akan menemuimu dan membawamu pulang”,
“jinja??... aku sudah boleh pulang??”, jaemin spontan melepaskan pelukkannya dan menatap jaehyun antusias.
“iya… besok kau akan pulang… kita akan tinggal dirumah kita yang dulu… kau senang??”, jaemin mengangguk mantap. Dia sudah sangat bosan berada dirumah sakit, karena jaemin biasanya selalu melakukan banyak hal tapi tiba-tiba dia tidak boleh banyak bergerak.
“sekarang tidur lagi ya… hyung akan pergi sebentar”,
“odiyeyo??”, jaehyun membelai surai rambut jaemin lagi lalu tersenyum.
“menyelamatkan mark”, jaemin awalnya terdiam tapi detik berikutnya dia tersenyum. Senang akhirnya jaehyun mau menemui mark.
“kau tidak apa-apa hyung tinggalkan??... hina akan menemanimu”,
“tidak apa-apa hyung… hyung bisa pergi menemui mark sunbae… dia membutuhkanmu juga”, jaemin memeluk jaehyun sekali lagi lalu kembali berbaring di tempat tidurnya.
“istirahat ya… kau harus cepat sembuh… aku mencintaimu”, jaehyun mengecup pelan kening jaemin.
“aku mencintaimu juga hyung”, jaehyun menyelimuti jaemin lalu pergi dari ruangan jaemin.
“kau baik-baik saja??”, tanya hina melihat tatapan jaemin ke arah pintu yang tak bisa hina artikan.
“mungkin inilah yang dirasakan mark sunbae saat tahu kakaknya menghawatirkan orang lain bukan hanya dirinya”, jaemin menghela nafas pelan.
“kau cemburu??”, tebak hina. Jaemin tersenyum kecil.
“aku baru saja mengingat semua kenangan bersama kakakku dan tentu saja aku punya pikiran egois…. Aku ingin waktu kakakku hanya untukku… tapi aku tahu… bukan hanya aku yang membutuhkan jaehyun hyung sekarang… sunbae lebih membutuhkannya”, hina tersenyum, jaemin memang dewasa dan juga baik, dia selalu memikirkan orang lain.
***
Mark menatap sendu ko eun yang tengah membersihkan sisa makanan yang ada di wajah mark lalu bajunya dan menaruh mangkuk bubur mark di atas nakas. Ko eun dengan telaten mengambil obat dan memberikannya pada mark.
“Kau lelah”, kata mark pelan.
“Tidak… minum obatmu dulu mark”, kata ko eun berusaha mengalihkan pembicaraan.
“kau membenciku… kenapa menolongku??.. aku jahat padamu.. kenapa masih merawatku??”, tanya mark bingung.
“mark”, ko eun mendesah pelan dan membelai wajah mark. Kondisi mark mungkin sudah lebih baik tapi secara mental dia masih sering bingung dan ketakutan. “membenci bukan berarti menghilangkan hati nuraniku ketika kau perlu pertolongan”, jawab ko eun lembut.
“Jaehyun hyung membenciku”, setetes air mata kembali membasahi wajah mark. “dia membenciku… dia tidak mau bertemu denganku… mom menyuruhku menyingkirkan jaemin… dan aku cemburu padanya… dia adik kandung jaehyun hyung dan sudah seharusnya jaehyun hyung lebih sayang padanya… tapi aku tidak rela… aku tidak rela…”, lirih mark. Ko eun mengerti apa yang mark rasakan. Dia masih dihantui rasa cemburu dan tidak rela jika jaehyun hyungnya adalah kakak orang lain.
“mark-“,
“aku mengerti”, ko eun dan mark menoleh dan mendapati jaehyun berdiri tak jauh dari ranjang mark. Jaehyun menghela nafasnya dan ekspresi wajahnya datar tak bisa ditebak.
“hy..hyung”, tubuh mark bergetar seketika, dia melonjat turun dari ranjangnya dan berlutut memohon ampun dihadapan jaehyun.
“Mianhae.. hyung aku minta maaf… aku salah.. aku memukul jaemin… maafkan aku… maafkan aku… hyung boleh memukulku… atau bahkan membunuhku… aku minta maaf”, mark menggosok-gosokkan tangannya memohon ampun dengan deraian air mata.
Dalam kebisuannya jaehyun menangis, dia begitu marah hanya dengan melihat wajah. Ingin sekali jaehyun menghajar wajah mark seperti mark yang menghajar jaemin hingga babak belur. Jaehyun menggepalkan tangannya kuat-kuat, dia mengingat permintaan jaemin, dia mengingat permintaan ayahnya, dia mengingat seluruh kasih sayang yang dia miliki untuk mark dulu, dia mengingat pengorbanan ibunya untuk kehidupan mark. Tanpa sepatah katapun jaehyun melangkah mendekati mark, tapi tangannya meraih sebuah vas yang ada dinakas tepat dibelakang mark.
Planggggg…
Jaehyun melempar vas itu hinga membentur tembok dan pecah berserakan dilantai. Mark melindungi wajahnya dengan kedua tangannya sementara ko eun mundur beberapa langkah menjauh. Ko eun dan mark sama-sama terkejut. Sungguh jaehyun terlihat sangat menyeramkan.
“hyu…hyung… hiks…hiks…hiks… “, mark menangis semakin histeris dan dia sangat ketakutan. Mark merangkak meraih kaki jaehyun dan memohon ampun berkali-kali.
“aku salah hyung… aku tidak akan melakukannya lagi…aku janji… aku janji hyung… hiks..hiks… hiks..”, jaehyun berjongkok dan melepaskan kedua tangan mark yang memeluk kakinya.
“namamu ko eun kan??”, tanya jaehyun sambil mengenggam kedua tangan mark.
“ne?... ah ne”, jawab ko eun gugup.
“panggil dokter… katakan infus mark terlepas”, perintah jaehyun dingin.
“Ne… ne”, jawab ko eun gugup lalu bergegas pergi.
Jaehyun memperhatikan darah yang mulai keluar dari suntikan infus mark, dan jujur saja jaehyun merasa terluka.
“hy..hyung”, jaehyun menyeka air matanya lalu menatap mark tepat dimatanya.
“kenapa… kenapa kau melakukan ini padaku??”, jaehyun menundukkan kepalanya dan menangis. “kau membuat semuanya sulit untukku”, mark kembali menangis dan dia benar-benar menyesal telah menyakiti hati kakaknya.
“aku… aku berusaha melupakan bahwa kau bukanlah adikku… aku…aku menyayangimu dan melakukan apapun seperti seorang kakak kandung kepada adiknya… aku tidak mengijinkan ayah ataupun ibumu memberi tahumu bahwa kau bukan adikku… karena aku tak ingin kau terluka… karena aku sangat menyayangimu… tapi…. Kenapa kau tidak bisa menghargai sedikit saja kasih sayangku untukmu??... aku berpisah dengan jaemin karena sebuah kesalah pahaman… ketika aku menemukannya.. kenapa.. kenapa harus kau yang menyakitinya??... kau tahu betapa kecewanya aku??... kupikir kau akan tumbuh menjadi mark yang baik hati dan dewasa… tapi nyatanya kau menjadi egois dan tidak mau mengalah… aku mencoba memaafkanmu dan membawamu kejalan yang benar… tapi kenapa kau tetap seperti ini??... aku tahu kau terkejut dan tidak terima dengan kenyataan yang ada… tapi… apa kau lupa dengan permintaanku??.. seharusnya kau membenciku saja… seharusnya kau memukulku dan melampiaskan kekecewaanmu padaku… kenapa harus jaemin??.... mark… kau seharusnya membenciku-“
“Ani!.... aku tidak bisa… aku tidak bisa membencimu hyung… kau menyayangiku… bagaimana bisa aku membencimu… aku minta maaf hyung… maafkan aku”, sesal mark memohon ampun.
“Ketika aku melihat jaemin terbaring lemah dengan darah yang mengotori seragamnya… aku pikir duniaku telah berakhir… dan seperti vas itu… awalnya utuh tapi kau melemparnya mark… kau menghancurkan kepercayaanku padamu… kau menghancurkan hatiku mark…saat itu aku sangat membencimu... aku melupakan semua kasih sayang dan waktu yang kita habiskan.. kau memaksaku untuk membencimu mark-- ”,
“maaf… maafkan aku”, hanya kata itu yang bisa mark ucapkan, entah harus berapa kali mark mengatakan itu.
“Tapi kau tahu…. Ketika Jaemin terbangun… dia mengingat semuanya… dia menangis dan memanggilku hyung… memanggil ayahnya dan dia meminta maaf karena tidak bisa mengingat kami… kau tahu betapa bersyukurnya aku??... betapa aku sangat merindukan jaemin memanggilku hyung seperti seharusnya… aku bahagia… sangat mark…. Aku begitu bahagia hingga akhirnya jaemin meminta satu hal padaku… dia ingin aku tidak membencimu… dia ingin aku tetap menyayangimu seperti dulu… karena semua yang kau lakukan karena menyayangiku… dan aku sadar… bahwa ingatan jaemin kembali juga karena dirimu… terima kasih mark… terima kasih… dan maafkan aku… maaf”, mark menggeleng. Jaehyun tidak pantas minta maaf padanya, semuanya kesalahan mark.
“tidak hyung… jangan minta maaf… aku yang salah… aku… maaf”, jaehyun menyeka air mata mark lalu memeluk tubuh mark erat. Jaehyun dan mark menangis bersama, menyalurkan kemarahan, kekecewaan, penyesalan, kasih sayang dan rasa bersyukur.
Jaehyun awalnya berpikir jika dia akan tetap marah dan memperlakukan mark dengan buruk tapi melihat keadaan mark dan juga kasih sayang yang jaehyun miliki pada mark begitu besar hingga dia tidaak tega menghukum mark lagi. Dia sadar bahwa mark juga korban, korban dari perselisihan antara keluarga jung dan ibunya.
***
######
Happy 10 k everyone...💚💚💚💚💚
Thank you... thank you...
Maaf ya baru sempet update...
Authornya masih sakit...
Sakit kepala, batuk, pilek...
Maaf ya kalau slow update... 🙁🙁🙁🙁
KAMU SEDANG MEMBACA
Everything For You
FanfictionAku tahu segalanya tentangmu tapi aku takut kau akan membenciku jika kau tahu semuanya -Jung Jaehyun Hidupku penuh Kemalangan sejak orang tuaku pergi tapi aku mendapatkan kebahagiaan ketika kau datang.... bahkan meski kau hanya orang asing dalam hid...
