“kau tak membawa bekal??”, jaemin tidak menjawab pertanyaan jeno. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri dan membiarkan dirinya melamun begitu lama. Jeno hanya bisa menggeleng pelan, jaemin pasti sangat memikirkan kenyataan jika jaehyun adalah kakak mark. Jeno mengambil bekal yang tadi pagi dititipkan jaehyun lalu meletakkannya diatas meja, dihadapan jaemin.
“makanlah”, jaemin masih diam, dia bahkan tak melirik kotak bekal yang jeno berikan. Hingga hina tiba-tiba masuk kedalam ruangan khusus yang diberikan siwan untuk jaemin.
“o??.. kau juga disini??.. aku membawakan makanan untuk kalian berdua”, hina menutup pintu lalu menarik jeno agar duduk kembali disamping jaemin. “oo??.. rupanya kau membawa bekal”, kata hina setelah melihat kotak bekal diatas meja.
“bagaimana kau bisa tahu tempat ini??”, jeno saja baru diberi tahu tadi oleh jaemin bagaimana ceritanya hina tahu.
“jaemin mmeberi tahuku tadi malam… a.. jinja… aku tak bisa berhenti kesal… mark sunbae tadi malam datang…. Dia bahkan tak punya niat untuk minta maaf tapi jaehyun oppa menyuruhnya minta maaf”, kesal hina.
“kau melihatnya minta maaf??”, hina mengangguk pelan lalu menatap jaemin dengan iba.
“jaemin-ah… ayo makan… jangan berpikir terlalu keras”, jaemin menenggelamkan kepalnya diantara lipatan tangannya diatas meja. Jaemin tak ingin membicarakan itu, dia hanya ingin tidur.
“aku ingin tidur… bangunkan aku jika waktunya masuk kelas… sebaiknya kau kembali hina sebelum ada yang melihatmu”, jaemin bahkan tak menatap hina ketika bicara. Dia sudah memejamkan matanya dan membiarkan jeno dan hina saling menatap bingung.
“pergilah… aku yang akan menemani jaemin”, hina akhirnya menyerah lalu keluar dari ruangan itu.
-
Hina akan kembali ke dalam kelasnya ketika beberapa orang gadis menghadang jalannya denggan tatapan tidak suka.
“kau gong hina??”, hina mengangguk ragu lalu membungkuk. Sepertinya mereka senior hina .
“gong hina imnida”, kata hina memperkenalkan diiri.
“dia bahkan tak secantik herin… apa sebenarnya yang dilihat mark darinya??”, sinis salah seorang gadis itu. Hina menyerjitkan alisnya tak mengerti, kenapa dia harus dibandingkan dengan herin.
“Maaf… tapi ada urusan apa kalian mencariku??”,
“tak usah berlagak polos… kami datang hanya untuk memperingatimu… mark itu pacar herin jadi jangan bertingkah dan berpikir untuk menggoda mark karena herin tak akan melepaskan mark”, hina rasanya ingin tertawa. Siapa juga yang ingin menggoda laki-laki dengan kelakuan buruk seperti mark.
“ceoseonghamnida… aku tak punya niat sedikitpun untuk mendekati mark sunbae… kami bahkan tak cukup mengenal….. dan.. aku menyukai orang lain bukan mark sunbae”, kata hina sedikit gugup.
“solma??.. kudengar kau dekat dengan jaemin… seleramu benar-benar rendahan… dia bahkan bekerja paruh waktu dan tak ikut les… baguslah… jaga saja ucapanmu itu karena herin tak akan tinggal diam jika kau masih mendekati mark”, hina hanya menggeleng pelan setelah gadis-gadis itu pergi.
“kalian hanya bisa menilai jaemin dari hartanya tanpa kalian tahu betapa menganggumkannya sifat jaemin”, hina menaikkan bahunya tak acuh lalu masuk ke dalam kelasnya.
***
Jaehyun tersenyum kecil ketika dia berhasil membawa pulang kotak berharganya yang ternyata dia simpan dirumahnya yang dulu. Jaehyun membuka kotak itu dan menemukan banyak barang-barang kenangannya bersama dengan ibunya, jaemin dan tiffany. Gadis yang membuatnya tergila-gila 8 tahun yang lalu.
“dia benar-benar cantik bahkan ketika marah”, gumam jaehyun dengan senyuman meronanya menatap fotonya bersmaa tiffany. Foto yang sama persis dengan yang ada dimimpinya.
“gelang itu juga ada… aku harus mengembalikan ingatanku dan mencari tahu apa hubungan tiffany dengan laki-laki itu”, jaehyun menaruh kembali foto tersebut lalu mengambil fotonya bersama dengan ibunya dan jaemin. Ternyata jaehyun masih punya fotonya bersama dengan ibu dan adiknya.
“aku mencintaimu ibu… aku berjanji akan menjaga jaemin… ibu tak perlu mengkhawatirkannya”, jaehyun mengambil salah satu buku agendanya lalu menyelipkan foto itu disana.
Tok tok tok,
“masuk”, kata jaehyun sambil menutup kotak berharganya.
“ayah??”, Jung yoon ho tersenyum kecil melihat putranya benar-benar ada dirumah.
“senang rasanya ketika melihatmu ada dirumah”, jaehyun tak menjawab tapi dia membiarkan ayahnya duduk disampingnya.
“bagaimana keadaannya??”,
“siapa yang ayah tanyakan??”, tanya jaehyun pura-pura tak mengerti. Dia tahu jika ayahnya menanyakan jaemin.
“jaehyun-ah”,
“dia anakmu… apa sulitnya bagi ayah menyebut namanya??”, yoon ho terdiam, jaehyun benar tapi yoon ho selalu merasa bersalah setiap kali menyebut namanya.
“dia anakku tapi aku masih tak pantas menyebut namanya”,
“Ayah”, panggil jaehyun ragu. Dia ingin menanyakan beberapa hal pada ayahnya.
“ya… tanyakan atau katakan saja apa yang kau pikirkan”, jaehyun terdiam sebentar sebelum akhirnya menemukan kata yang tepat untuk memulai pertanyaannya.
“aku… ketika aku dan jaemin mengalami kecelakaan dulu.. aku kehilangan sebagian memoriku tapi jaemin kehilangan semuanya… apa jaemin tak akan pernah bisa mengingat kita lagi??”, yoon ho tersenyum pahit.
“kau juga seorang dokter-“
“tapi aku tak tahu bagaimana hasil pemeriksaanku dan jaemin dulu…. Setelah jaemin tahu aku adalah kakak mark, dia kecewa dan menghindariku….ayah tahu… tadi malam ketika aku ingin minta maaf, jaemin sudah tidur… aku menjaganya di ruang tamu… tapi… jaemin terbangun karena mimpi buruknya… aku menemukannya berjongkok disudut kamarnya sambil menangis… ayah tahu bagaimana perasaanku??... hatiku sakit dan rasanya aku ingin memberi tahunya jika aku adalah kakaknya… tapi aku tak bisa… bahkan dalam tidurnya, jaemin selalu memanggil ibu… dia masih kecil ayah… dia masih kecil ketika kita mengusirnya dari rumah”, yoon ho hanya diam. Dia tak bisa memberikan pembelaan atas apa yang pernah terjadi dulu.
“aku tahu….. aku tahu bagaimana egoisnya aku pada ibu dan adikmu… tapi semua sudah terjadi…”,
“tapi ayah bisa memperbaikinya… aku mohon… temui jaemin ayah… berpura-pura saja menjadi teman ibu… atau… berpura-pura saja menjadi donatur yang akan memberikan beasiswa.. jaemin-“,
“aku tidak bisa melakukan itu jaehyun-ah… “,
“waeyo??.... “, yoon ho tahu jaehyun kecewa tapi dia tak bisa memberi tahu yang sebenarnya.
“aku sudah pernah bilang jika aku belum bisa memberi tahumu... dan... untuk ingatan jaemin… dia hanya akan mengingat semuanya jika dia mengalami shock dikepalanya, semua memorinya akan kembali seketika itu juga… kau tidak akan bisa membuat dia ingat perlahan-lahan… itu berbeda denganmu.. kau kehilangan ingatan yang menurutmu menyakiti hatimu… itulah kenapa kau tidak ingat beberapa bagian saat ibumu keluar dari rumah ini…”, jaehyun terdiam. Ingatan yang menyakiti hatinya, apakah tiffany menyakiti hatinya dulu hingga dia menghapus semua ingatan tentang tiffany. Jika itu yang terjadi, jaehyun akan tetap mencari tahu semuanya. Sesakit apapun nanti, jaehyun akan tetap mencari tahu.
“dan tentang mark… “
“mark dan ji sung akan tinggal bersamaku… -“
“dia tidak akan menyetujuinya”,
“apa pedulinya… aku tak akan membiarkan mark dan ji sung memiliki sifat buruk seperti ibunya”,
“aku tahu kau ingin yang terbaik.. tapi ayah harap kau tidak merusak hubunganmu dengan mark dan ji sung”,
“aku tahu…”,
“dan… ikutlah denganku besok… kita akan pergi ke Sokcho dan jeju”,
“untuk apa??”,
“ikut saja…”, jaehyun hanya terdiam sementara ayahnya sudah pergi setelah membelai rambut jaehyun pelan.
***
Jaemin terbangun tepat pukul 4 pagi seperti biasa. Jaemin sudah 5 hari ini harus bangun 4 pagi dan mulai bergegas pergi ke pabrik susu untuk mengantarkan susu dipagi hari. Jaemin bekerja mengabtarkan susu sejak 5 hari yang lalu , tepatnya hari kedua dia kembali ke sekolah. Beruntung sekali dia bertemu dengan bibi kim penjaga minimarket langganan jaemin dulu. Beliau memberi tahunya jika pabrik susu didekat rumahnya membutuhkan pekerja dipagi hari. Jadilah jaemin melamar karena jaemin benar-benar membutuhkan uang.
Jaemin berangkat pukul setengah 5 pagi untuk berkeliling mengantarkan susu-susu pesanan sampai jam setengah 8 pagi. Kebetulan pelajaran di sekolah dimulai pukul 8 pagi jadi jaemin masih bisa beristirahat sebentar.
“kau haus??”, jaemin yang tengah duduk ditaman dekat sekolahnya menoleh dan betapa terkejutnya dia, seseorang yang sudah lama tidak dia lihat ada dihadapannya.
“Ajushi??..... ajushi!!”, tanpa pikir panjang jaemin melompat dan memeluk laki-laki itu begitu erat. Dia adalah teman baik ibunya. Ajushi dokter yang sangat jaemin kagumi, saat jaemin depresi dialah yang menemani jaemin selama pengobatan bahkan dia juga yang menenangkan jaemin saat orang tuanya akan dikremasi.
“ternyata kau masih ingat denganku”, laki-laki itu membalas pelukkan jaemin bahkan mengelus surai rambut jaemin lembut.
“tentu saja… mana mungkin aku melupakan paman… paman saja yang menghilang setelah aku hampir sembuh”, jaemin cemberut. Jaemin menunjukkan sisi manjanya pada laki-laki itu. Jaemin bisa menunjukkan itu karena laki-laki itu sudah jaemin kenal sejak kecil. Dulu setiap hari minggu, jaemin selalu bertemu dengan ajushi itu dirumah sakit anak didekat rumah jaemin. Jaemin bisa menghabiskan waktunya seharian disana untuk bermain bahkan membantu laki-laki itu.
“maafkan aku… aku mendapat panggilan mendadak untuk kembali ke daegu… jadi aku pergi tanpa mengatakannya padamu… sekarang aku sudah kembali”,
“jinja??.. paman akan tinggal di seoul??”, laki-laki itu mengangguk lagi dan jaemin benar-benar senang. Sekarang dia memiliki seseorang yang benar-benar seperti keluarganya. Bukannya pamannya tidak, hanya saja pekerjaan dan bibiknya membuat jaemin jauh dengan pamannya sendiri.
“aku sengaja mencarimu dan ternyata kau sudah pindah… kau pasti kesulitan”, jaemin menggeleng pelan.
“aku baik paman… aku masih bertemu dengan orang-orang baik”,
“baguslah… tapi kenapa kau disini??.. kau tak sekolah??... dan seragammu??”, tanya laki-laki itu bingung.
“ah… aku habis mengantarkan susu… aku baru saja akan berganti pakaian dan masuk sekolah”, laki-laki itu menatap jaemin sendu. “paman tahukan jika aku anak yang kuat… jangan dipikirkan dan jangan berpikir untuk memberikan aku uang… aku sudah besar.. dan aku bisa mencari uang sendiri.. cukup menjadi temanku saja paman… aku sangat bahagia paman mencariku”, pancaran sinar kebahagiaan di mata jaemin begitu cerah, dia berkata jujur. Dia hanya menginginkan seorang teman disaat dia merasa tidak pantas untuk berteman dwngan jaehyun.
***
Jaehyun terkejut bukan main ketika dia menekan tombol password apartement jaemin dan ternyata salah. Jaemin menggati passwordnya dan jaehyun semakin yakin jika jaemin menghindarinya karena mark. Padahal jaehyun ingin memberikan oleh-oleh setelah dia baru saja sampai dari jeju dan sokcho. Dia sangat merindukan adiknya tapi jaemin justru masih menghindarinya.
“apa jaemin memintamu mengganti passwordnya??”, jaehyun menelfon teknisi di kawasan apartement mereka tapi dia berkata tidak ada panggilan dari apartement 213.
“dia menggantinya sendiri… apa kau sangat kecewa padaku??”, gumam jaehyun pelan. Jaehyun masuk ke dalam apartementnya sendiri dan dia kembali dikejutkan dengan tumpukan buku yang dia berikan untuk jaemin sudah ada diatas meja tamunya dengan sebuah note.
“terima kasih atas segala kebaikanmu hyung… aku sudah tidak bisa menerima lebih banyak lagi… aku sudah memaafkan mark sunbae jadi aku berharap hyung berhenti merasa bersalah… aku akan mengembalikan uangmu sedikit-demi sedikit… sekali lagi terima kasih. Na Jaemin”,
Jaehyun menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, rasanya sakit dan jaehyun ingin marah pada mark. Semua ini karena mark, jaemin tak mau dekat dengannya karena mark.
Jaehyun menggurungkan niatnya untuk istirahat, dia memutuskan untuk pulang dan menjemput mark dan juga ji sung. Jaehyun akan mendidik mereka berdua sebelum mereka berubah menjadi monster.
-
“Kemasi barang-barang mark dan ji sung”, perintah jaehyun kepada pembantunya setelah dia sampai dirumah.
“siapa yang mengijinkanmu Jung Jaehyun??”, jaehyun tersenyum sinis melihat ibu tirinya turun dari lantai 2 dengan wajah tak senang.
“Aku… aku punya hak atas mark dan ji sung.. wae??.. kau tak suka??.. jika kau tak suka seharusnya kau mendidik anakmu menjadi anak baik bukan brandalan!!”, jung soo yeon menggepalkan tangannya kuat-kuat mendengar ucapan jaehyun.
“Jaga Ucapanmu Jung Jaehyun!!... Aku Ibu mereka dan aku yang paling berhak atas hidup mereka!”,
“Kau sebut dirimu seorang ibu??... Oh… aku baru tahu… hah… tapi kau bahkan tak mengawasi nilai anakmu.. datang kesekolahnya saja tidak…. Kau menyebut dirimu seorang ibu??.. hanya karena kau melahirkan mereka jangan sebut dirimu seorang ibu!!”,
“Dan kau menyebut dirimu seorang anak??... kau lupa… kau mengusir ibumu sendiri ketika kau berusia 8 tahun Jung Jaehyun!!”,
“DIAM KAU WANITA JALANG!!... KAU YANG MERENCANAKAN SEMUA ITU UNTUK MENIKAHI AYAHKU!!... AKU-“
“aku akan menyuruh ayah menceraikanmu lalu mengusirmu!!”
“kau tak akan bisa anakku… kau bahkan tak punya hak untuk mengusirku… karena aku akan menghaancurkan ayahmu jika dia menceraikanku”,
Jaehyun terdiam, tiba-tiba saja ada sebuah ingatan yang muncul. Ingatan ketika jaehyun diusia 14 tahun bertengkar dengan ibu tirinya.
“Kenapa kau diam???... Kau pikir kau bisa mengancamku??... Semuanya belum menjadi milikmu dan aku tak akan membiarkan semua itu terjadi!”, jaehyun kembali tersadar dan menatap tajam ibu tirinya.
“Dan aku tidak akan membiarkanmu menghalangiku!.. Aku yang akan berkuasa dan selama itu juga mark dan ji sung dalam kendaliku… jika tidak… semua fasilitas untukmu dan juga kedua anakmu itu akan aku kurangi hingga kau merasakan kemiskinan yang sama seperti sebelum menikah dengan ayahku!!”,
“SIALAN KAU JUNG JAEHYUN!!”, Jaehyun hanya tersenyum sinis dan meninggalkan ibu tirinya dalam kemarahan.
“aku ingin jung jaehyun mati!!”, kesal jung soo yeon setelah panggilannya di terima oleh seseorang.
***#####
Jadi disini author mau ngasih tahu kalau umurnya ji sung mau author rubah...
Karena ternyata ngak masuk akal...
Wkwkwkkwk
Dia lahir 10 tahun setelah jaehyun.. tapi author isi nya ji sung 14 tahun sementara jaehyun kan baru 21 tahun.. jadi itu cuma 7 tahun perbedaan... wkwkkwkwk
Authornya gagal fokus...

KAMU SEDANG MEMBACA
Everything For You
FanfictionAku tahu segalanya tentangmu tapi aku takut kau akan membenciku jika kau tahu semuanya -Jung Jaehyun Hidupku penuh Kemalangan sejak orang tuaku pergi tapi aku mendapatkan kebahagiaan ketika kau datang.... bahkan meski kau hanya orang asing dalam hid...