***
Hina sedang membantu jaemin mengemasi barang-barangnya, hari ini jaemin pulaang dan sebentar lagi ayahnya akan datang untuk menjemput.
“kau tidak masuk sekolah??”, tanya jaemin ketika menyadari jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi tapi hina masih di rumah sakit.
“anio… aku akan ikut mengantarmu pulang”, jawab hina santai lalu memasukkan baju jaemin kedalam tas.
“kau tidak boleh begitu… seharusnya kau masuk sekolah… nilaimu bisa turun gara-gara aku”, omel jaemin.
“kau tenang saja… aku bisa mengejar ketinggalan… aku tahu aku tak sepintar dirimu tapi aku bisa bekerja keras”, kata hina berusaha meyakinkan jaemin.
“hina-ya”, panggil jaemin ragu. Hina menoleh dan menunggu apa yang akan jaemin katakan selanjutnya.
“renjun…. Apa dia punya teman disekolah??”, hina terkejut dengan pertanyaan jaemin. Bukankah jaemin membencinya, kenapa tiba-tiba menanyakan renjun??
“aku tidak tahu secara pasti, kau tahu sendiri aku lebih sering bersamamu dan jeno… tapi dia sering bicara dengan dae han dan juga hyun jin… tapi aku rasa mereka hanya teman bicara bukan teman dekat seperti kita”, jaemin hanya mengangguk pelan. Entahlah, tiba-tiba dia ingin tahu bagaimana kabar renjun, dia sangat mengenal sifat renjun yang pemalu dan sedikit bicara karena itu dulu renjun hanya memiliki jaemin sebagai sahabatnya.
“tapi beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah… kudengar kakaknya masuk rumah sakit”, lanjut hina lagi. Jaemin ingat renjun pernah bilang jika dia memiliki kakak perempuan tapi jaemin lupa siapa namanya.
“selamat pagi sayang”, pintu ruangan jaemin tiba-tiba terbuka dan menampilkan senyum manis ayah jaemin, jung yoon ho.
“selamat pagi paman”, sapa hina tak kalah hangat.
“pagi ayah”, yoon ho memeluk putranya sebentar dan tidak lupa memberikan kecupan di keningnya.
“kau sudah siap??”,
“paman siwon bilang, paman dan jaemin harus menemuinya dulu sebelum jaemin pulang”, kata hina menyampaikan pesan siwon saat tadi memeriksa jaemin sekali lagi dan melepaskan selang infus jaemin.
“arraseo... hina, supir kami changmin akan mengambil barang-barang jaemin disini,.. kau tunggu disini.. nanti ikutlah dengan changmin ya”,
“ne..”, sahut hina patuh.
“ayo sayang”, yoon ho membantu jaemin turun dari tempat tidurnya lalu mengajaknya pergi ke ruangan siwon.
-
Setelah bertemu dengan siwon, yoon ho membawa jaemin pulang kerumah yang dulu pernah dia tinggali. Rumah yang dia tinggali bersama mi ri setelah menikah, rumah yang menjadi saksi kebahagiaan keluarga jung dan juga saksi ketika kehancuran itu datang.
“Dulu kita tinggal disini??”, tanya jaemin sambil memperhatikan rumah dengan halaman luas dan bangunan yang cukup besar.
“iya… kita dulu tinggal disini… ayah, ibu, jaehyun dan kau”, yoon ho turun dari mobil terlebih dahulu lalu membantu jaemin turun dari mobil.
“tapi.. bagaimana dengan barang-barangku di apartemen ayah??”, tanya jaemin polos.
“ayah sudah mengambil semuanya dan membawanya kesini… kau tidak perlu khawatir”, jaemin mengangguk pelan. Tapi perhatiannya teralihkan ketika yoon ho sedikit berjongkok membelakangi jaemin.
“apa yang ayah lakukan??”, tanya jaemin bingung.
“Naiklah kepunggung ayah.. kau akan kelelahan karena kamarmu ada dilantai 2”,
“ania… aku bisa berjalan sendiri ayah… aku kan sudah besar… bagaimana jika punggung ayah sakit??”, tolak jaemin. Dia tak setega itu membiarkan ayahnya menggendong tubuhnya yang berat.
“tidak apa-apa… aku bahkan tak sempat melakukannya saat kau kecil”, jaemin terdiam. Sebenarnya jika diingat, ayahnya pernah menggendong jaemin dulu. Mungkin saat jaemin berusia 10 tahun, saat itu jaemin terjatuh dan kakinya terluka. Na Jun Ki tidak bisa menjemput jaemin saat itu jadilah ayahnya yang menjemputnya ke sekolah dan membawanya kerumah sakit.
“Ini sedikit memalukan ayah”, bisik jaemin sambil menenggelamkan wajahnya dibalik ceruk leher yoon ho. Yoon ho terkekeh lalu menatap hina yang tersenyum menatap jaemin yang sedang yoon ho gendong.
“apa jaemin terlihat lucu hina??”, tanya yoon ho bermaksud menggoda jaemin.
“ne??.. ah… bukan lucu paman… tapi menggemaskan”, kata hina jujur dan jaemin semakin menyembunyikan wajahnya. Dia sangat malu mendengar ucapan hina.
“kau menggemaskan sayang.. kenapa malu?”, goda yoo ho lagi.
“Ayahhhh”, renggek jaemin dan yoon ho hanya bisa tertawa kecil. Putra keduanya sudah remaja, dia sudah merasakan ketertarikan pada lawan jenisnya. Sungguh yoon ho merasa waktu berjalan terlalu cepat.
-
Yoon ho menurunkan jaemin ketika mereka sampai dikamar jaemin. Kamar yang sangat luas, dengan nuansa warna putih dan gold. Tempat tidur dengan ukuran king size, meja belajar lengkap dengan peralatan komputernya, satu rak buku pelajaran, lemari pakaian, tapi ada satu hal yang begitu menarik perhatian jaemin.
“omma”, yoon ho sengaja memasang foto keluarganya dengan ukuran besar dikamar jaemin. Dia ingin jaemin tahu keluarga utuhnya. Jaemin melangkah perlahan mendekati foto itu dan matanya mulai berlinang lagi.
“itu foto keluarga terakhir yang kita miliki”,
“jaemin sangat menggemaskan difoto itu paman”, gemas hina.
“berapa usiaku saat itu ayah??”, yoon ho terdiam sebentar, rasanya menyakitkan ketika ingat foto itu diambil 1 bulan sebelum yoon ho mengusir miri dan jaemin.
“itu bulan februari.. beberapa hari setelah ulang tahun jaehyun… kau berusia 2,5 tahun saat itu dan jaehyun berusia 8 tahun”, jaemin menatap haru foto keluarga itu. Ibunya memegang kedua pundak jaehyun sementara jaemin digendong oleh ayahnya. Rasanya menyakitkan ketika menyadari keluarga utuhnya harus hancur.
“ayah aku ingin melihat foto-foto keluarga kita dulu”, kata jaemin memohon.
“tentu saja…. Tapi kau harus beristirahat dulu… nanti saat jaehyun datang, kita akan melihatnya bersama”, jaemin mengerucutkan bibirnya lucu dan hina tak bisa untuk tidak gemas. Sejak ingatannya kembali, hina sering melihat jaemin bersikap manja dan menggemaskan dan jujur saja itu sangat bertolak belakang dengan sikap dinginnya dulu.
“hina kau sudah sarapan??”, tanya yoon ho dan hina menggeleng pelan. Tadi sebelum berangkat dia hanya menyuapi jaemin dan membantunya minum obat.
“sarapan dengan paman ya… nanti kau bisa beristirahat di kamar tamu atau kau bisa menemani jaemin disini”,
“ya paman”, hina keluar dari kamar jaemin terlebih dahulu lalu yoon ho menyusul setelah membantu jaemin berbaring dan mencium keningnya.
***
Jaehyun menyuapi mark dan membantunya minum obat hari ini. Tadi malam, jaehyun mengijinkan ko eun pulang agar dia bisa pergi ke sekolah hari ini. Dia sudah mengambil ijin terlalu banyak untuk mengurus mark.
“apa tidak apa-apa hyung disini??”, tanya mark ragu.
“tidak… hari ini jaemin pulang dengan ayah”, mark mengangguk pelan. Jaemin pulang ketempat yang seharusnya dan itu berarti mark sudah tidak punya tempat lagi dirumah itu.
“kondisimu sudah lebih baik, taeyong bilang kau bisa pulang sore ini jika kau tetap stabil”, pulang, kemana mark harus pergi??.. dia hanya punya ko eun.. ani bahkan tidak punya siapapun. Dia tidak mungkin menyusahkan ko eun lagi.
“barang-barangmu sudah dipindahkan… kau tidak perlu khawatir”, mark menatap jaehyun tak percaya. Dia benar-benar diusir oleh keluarga jung. Dia tak punya hak dan tempat lagi untuk tinggal disana.
“ayah… ani… ayah hyung benar-benar akan menceraikan mom??”,
“ya”, jawab jaehyun singkat. Meskipun jaehyun memaafkan mark, dia bersikap lebih tegas dan dingin pada mark tak seperti sikapnya yang manis dan lembut dulu.
“apa mom juga sudah pergi dari rumah??”,
“dia tidak akan pernah mau meninggalkan rumah itu jadi kita yang akan pindah”,
“kita??”, mark tak mengerti. Bukankah dia dan ibunya akan diusir dari rumah keluarga jung kenapa jaehyun berkata mereka akan pindah??
“iya… ayah dan aku memutuskan untuk kembali tinggal di rumah kami yang lama… Kita akan tinggal disana mulai sekarang… Ayah, Aku, Jaemin, Kau dan Ji sung”,
“tapi-“,
“Apa kau berniat tinggal dengan ibumu itu??”,
“Anio.. “, jawab mark tegas. Dia tidak akan tinggal dengan ibunya, dia tak mau menjadi monster seperti ibunya.
“bagus…jika kau mengkhawatirkan jaemin, tenang saja… kau tahu sendiri, jaemin tak pernah membencimu… dia sangat senang jika kau mau menganggapnya sebagai saudaramu juga”, mark tertunduk. Rasanya benar-benar malu mendengar jaemin yang dia sakiti mau memaafkannya.
“aku tak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih pada kalian.. rasanya aku tidak pantas-“
“Jangan mengatakan hal itu… aku tidak suka mendengarnya”, jaehyun meletakan mangkuk bubur mark yang sudah bersih lalu memberikan air untuk mark.
“hmm… kau sudah tahu jika kau dikeluarkan dari sekolah??”, mark hanya mengangguk pelan.
“untuk sementara kau akan fokus pada pengobatanmu dan belajar pembentukan karaktermu lagi… setelah itu baru kita pikirkan pendidikanmu.. sebenarnya aku dan ayah sudah memutuskannya… tapi kami ingin mendengar keputusanmu juga”, mark hanya mengangguk pelan. Dia sudah tidak punya hak untuk membantah ataupun memilih, cukup disayangi dan diberi maaf saja sudah beruntung bagi mark.
***
Yoon ho tersenyum haru ketika menonton kembali video pernikahannya dengan mi ri. Dia menyimpannya dengan sangat baik karena dia ingin anak-anaknya tahu. Jaemin bosan berada didalam ruangan jadi setelah bangun tidur, yoon ho dan hina menemani jaemin berjalan-jalan dihalaman rumahnya yang luas. Yoon ho tak ingin putranya kembali sakut jadi dia hanya mengijinkan jaemin berjalan-jalan sebentar sebagai gantinya yoon ho mengajak jaemin menonton video pernikahannya dengan miri di ruang tamu.
“apa itu kakek ayah??”, tanya jaemin sambil menunjuk orang yang ditampilkan dilayar tv.
“iya… itu kakekmu”,
“apa omma tak punya orang tua??”, hina dan yoon ho terdiam, pertanyaan jaemin terdengar lucu tapi disaat yang bersamaan rasanya menyakitkan.
“tentu saja punya… tapi… kakek dan nenekmu sudah meninggal sebelum kami menikah”, jaemin mengangguk pelan lalu kembali menonton. Jaemin membenahi posisi kepalanya yang ada diatas pangkuan ayahnya dengan sebuah bantal ditengahnya agar luka jaemin aman.
Ting Tong, bel rumah mereka berbunyi dan mmengalihkan perhatian yoon ho, jaemin dan hina. Pembantu rumah mereka Lee Se Mi membuka pintu dengan tergesa. Jaemin mendudukan dirinya perhalan untuk melihat siapa yang datang. Senyuman diwajah jaemin merekah begitu indah ketika melihat kakaknya lah yang datang.
“Jaehyun Hyung!!”, Jaemin terlalu bersemangat hingga dia lupa jika kepalanya masih terluka. Jaemin melonjat dari atas sofa hanya untuk berlari dan memeluk kakaknya.
“Jaemin!!”, Yoon ho dan jaehyun berteriak panik. Hampir saja jaemin terjatuh jika saja jaehyun tak berlari untuk menangkap tubuh adiknya.
“hehehehe”, kekeh jaemin setelah jaehyun menangkap tubuhnya.
“Kau masih terluka jaemin… kenapa berlari??”, omel jaehyun. Jantungnya masih berdetak tak karuan karena takut terjadi hal buruk pada adiknya lagi.
“aku merindukan hyung”, bahkan jaehyun tidak meninggalkannya selama 1 hari penuh tapi jaemin benar-benar merindukannya.
“aku juga”, jaehyun memeluk tubuh adiknya begitu erat dan mencium keningnya pelan.
“ah..”, jaehyun memekik, jaemin mendongak dan menatap kakaknya bingung. Jaehyun merenggangkan pelukkannya pada jaemin lalu menoleh kebelakang. Jaemin mengikuti arah pandang jaehyun, dan betapa terkejutnya dia. Mark sedang berdiri diluar pintu masuk dengan wajah yang masih lebam dan kepalan tertunduk.
“Sunbae..”, mark sebenarnya mendengar panggilan jaemin tapi dia malu untuk menatap jaemin.
“Mark masuk… kenapa berdiri disana?”, Mark melarikan pandangannya kesana kemari dan melangkahkan kakinya ragu-ragu kedalam rumah.
“bibi lee bawa tas mark ke lantai atas.. kamar mark ada disebelah kamar jaehwan”, perintah yoon ho.
“ne tuan”, bibi lee merupakan pembantu yoon ho sejak awal dia menikah dengan mi ri, dia mengingat nama putra kedua yoon ho Jung Jaehwan, yoon ho belum memberi tahunya jika putra keduanya berganti nama.
“Mark… ayah antar ke kamarmu… ikutlah.. kau pasti lelah”, mark hanya mengangguk dan mengikuti yoon ho. Dia sama sekali tak mau menatap siapapun, dia hanya terus menunduk, dia terlalu malu dan menyesal untuk menatap jaemin.
“Mark akan tinggal bersama kita… tidak apakan??”, tanya jaehyun pada jaemin. Jaemin menoleh dan menatap jaehyun bingung.
“tentu saja… kenapa hyung bertanya padaku??... mark sunbae adalah anak ayah juga”,
“aku hanya tidak ingin kau merasa tidak nyaman-“
“apa hyung akan mengusir mark sunbae jika aku bilang aku tak nyaman??”, jaehyun ternengun mendengar pertanyaan jaemin.
“jika iya.. aku akan melakukannya”, kata jaehyun sedikit ragu.
“waeyo??”, jaehyun tak mengerti kenapa jaemin bertanya lagi.
“tentu saja aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu… kau adalah prioritasku sekarang… kau adik kandungku”, tegas jaehyun.
“tapi aku tidak punya hak dirumah ini”, jaehyun membelalakan kedua matanya, dia tidak terima dengan ucapan jaemin. “aku mungkin adik kandung hyung dan putra ayah… tapi didalam keluarga ini aku bukan siapa-siapa lagi.. aku masih anak dari na jun ki… orang yang memiliki hak didalam keluarga ini adalah mark sunbae dan ji sung… aku mohon jangan lupakan itu hyung… aku tahu hyung sangat mencintaiku, begitupun aku… tapi ada batasan-batasan yang sudah terbangun diantara kita”, jaehyun terdiam. Dia tahu hal itu tapi dia tidak mau ambil pusing, dia hanya berpikir jika jaemin sudah mengingat semuanya maka jaemin akan kembali kedalam keluarganya seperti dulu.
***
Yoon ho membiarkan mark duduk di pinggir tempat tidurnya sebelum dia juga mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan mark.
“kau bisa sakit leher jika terus menunduk”, mark mencuri pandang sebentar tapi dia kembali menunduk. Selama dirumah sakit, saat yoon ho datang mereka tak pernah bicara. Mark takut, bahkan ketika mark dulu berpikir jika dia adaalah putra yoon ho mereka tak pernah dekat. Dia pikir memang ayahnya tipe yang cuek sehingga tidak terlalu peduli pada ketiga putranya.
“ceoseonghaeyo”, kata mark pelan dan ragu. “maaf karena aku melukai putra anda”, yoon ho tersenyum miris. Mark sudah tidak memanggilnya dengan ayah lagi, dia pasti sangat takut dan berpikir yoon ho akan memukulnya.
“angkat kepalamu mark…kau harus menatap lawan bicaramu saat bicara”, kata yoon ho sedikit tegas dan mark dengan sisa keberaniannya mengangkat kepalanya untuk menatap yoon ho.
“aku tidak bisa mengatakan padamu jika aku tidak marah atas semua perbuatanmu pada jaemin… aku tidak bisa membenarkan itu… tapi… aku tahu alasannya… aku mengerti… semua ini salahku juga… aku tidak pernah melihatmu… dan tidak memperhatikanmu… tapi aku berharap kau mau berubah dan belajar menjadi orang yang lebih baik… jangan menyesal hanya karena jaemin adalah putraku atau adik kandung jaehyun… menyesalah karena kau mengerti jika jaemin terluka dan tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu”, mark mengangguk ragu dan dia masih tetap menatap yoon ho dengan takut.
“terima kasih sudah memaafkanku”, kata mark lagi.
“kenapa tidak memanggilku dengan ayah lagi??”, mark menggeleng pelan.
“aku tidak pantas memanggil anda ayahku… kenyataannya memang bukan”, jawab mark lirih.
“iya… kau perlu waktu untuk menyesuaikan diri… bahkan aku tak pernah mendekatimu untuk menjadi sosok ayah untukmu… aku memang tidak pantas-“,
“bu-bukan itu maksudku”, sanggah mark ragu.
“aku tahu…sebaiknya kau beristirahat lagi”,
“itu-“, yoon ho baru saja beranjak ketika mark menahan tangannya dengan tatapan penuh harap.
“kau perlu sesuatu??”, mark menggeleng.
“bolehkah aku bertanya satu hal??”, yoon ho mengangguk ragu. “Ayahku… apakah anda mengenal ayah kandungku??”, yoon ho terdiam. Apakah sudah saatnya memberi tahu mark tentang ayah kandungnya??#######

KAMU SEDANG MEMBACA
Everything For You
FanfictionAku tahu segalanya tentangmu tapi aku takut kau akan membenciku jika kau tahu semuanya -Jung Jaehyun Hidupku penuh Kemalangan sejak orang tuaku pergi tapi aku mendapatkan kebahagiaan ketika kau datang.... bahkan meski kau hanya orang asing dalam hid...