PROM 23

1.7K 152 1
                                        

PROM 23

Bel pulang berbunyi yang menandakan kegiatan pembelajaran selesai untuk hari ini. Dengan kompaknya murid-murid SMA Angkasa keluar kelas dan berjalan memenuhi koridor menuju parkiran sekolah. Hari ini cukup melelahkan untuk anak kelas XII karena beberapa jam tambahan dan simulasi mulai memenuhi jadwal mereka.

Adara dan Raga berjalan dengan sesekali bercanda yang membuat tawa keduanya pecah. Hal tersebut mampu menyita perhatian murid yang masih berjalan dikoridor. Tatapan iri dan kagum secara bersamaan terpancar jelas dari para murid SMA Angkasa yang melihat dua most wanted mereka semakin hari semakin nempel layaknya lem dan kertas.

"Tau nggak denger kamu ngomong pake aku-kamu tuh lucu tau." Adara terkekeh sendiri ketika mendengar Raga yang akhir-akhir ini mengganti kosa kata mereka.

"Katanya biar romantis. Gimana sih?" Gerutu Raga dengan mengacak rambut gadis itu gemash.

"Nggak aku-kamu juga udah romantis." Ucap Adara dengan polosnya.

"Masa sih?" Goda Raga yang seketika membuat pipi cewek itu merona.

"Kamu tuh romantis dengan cara kamu sendiri. Nggak perlu cara orang lain." Ucap Adara dengan bijak menutupi semburat dipipinya.

"Uh. Makin sayang.." Raga berucap gemash dan mencubit pipi Adara.

"Sakit Ragaa!" Rengek Adara dengan mengusap pipinya.

"Mana yang sakit?" Tanya Raga dengan serius.

"Inii.." Tujuk Adara tepat dipipi kanannya yang dicubit cowok itu.

Cup!

Satu kecupan mendarat dipipi gadis itu yang membuat Adara seketika mematung ditempat dengan wajah terkejutnya. Raga yang melihatnya terkekeh sendiri dan mengacak rambut gadis itu sebelum berlari meninggalkannya ia sempat berbisik tepat ditelinga Adara.

"Gimana langsung sembuhkan?" Bisik Raga jahil yang membuat kedua mata gadis itu melotot.

Raga pun tertawa terbahak dan langsung lari meninggalkan gadis itu yang sudah siap dengan teriakkannya.

"RAGAA!!"

****

Kini setelah pulang sekolah dan membersihkan diri dikamar mandi yang terletak disudut kamarnya. Raga keluar dengan kaos hitam polos dan celana jeans pendek yang senada dengan warna kaosnya. Raga berjalan menuju sofa panjang yang ada dikamarnya dan mengambil gitar akustik kado ulang tahunnya tahun lalu.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Raka adiknya yang masuk kedalam kamar tanpa permisi. Tidak lupa bocah SMP itu langsung merebahkan tubuhnya dengan seragam basket dan sepatu yang masih melekat ditubuh dan kakinya.

"Numpang ngadem ya gue. AC kamar gue rusak kayaknya." Ucap Raka yang hanya dibalas gumaman dari kakaknya.

Keheningan pun melanda kedua kakak beradik itu, sampai akhirnya suara Raka kembali terdengar dengan ia yang mulai mengubah posisi tidurnya yang dari tengkurap menjadi terlentang dan menatap langit-langit kamar Raga.

"Gue kangen Bang Rangga." Gumam Raka yang masih terdengar oleh Raga yang membuat cowok itu langsung mengalihkan pandang sepenuhnya ke adiknya itu.

"Kenapa lo?" Tanya Raga heran karena tidak biasanya Raka berucap seperti itu.

"Anjir! Tau nggak sih gue rasanya pengen nangis." Umpat Raka dengan menutup wajahnya menggunakan bantal.

"Nih ya, biasanya kalau kita lagi kayak gini. Bang Rangga datang tuh kalau nggak bawain makanan ya dia ngerusuh minta dibawain makanan. Atau apalah yang ngebuat jadi rame." Tutur Raka yang langsung dimengerti oleh Raga.

Raga pun berjalan menuju kasur dan duduk disebelah adiknya.

"Gue juga kangen." Ucap Raga dengan senyum tipisnya.

"Biasanya dia bakal ngerusuh terus ngomelin gue terus sampai mulut dia berbusa gara-gara nilai gue jelek lah kalau nggak bajunya yang gue pinjem nggak gue balikin. Intinya tuh dia bakal ngebuat nih rumah rame kalau perlu sampai tetangga pada dateng." Ucap Raka lagi yang kali ini tidak sadar satu tetes air mata mengalir dipipinya.

"Laki bukan lo. Ngapain nangis?" Ketus Raga yang membuat Raka menghapus air matanya.

"Kalau lo kangen sama dia. Datangin makamnya terus berdoa buat dia. Rangga pasti juga ngerasain apa yang kita semua rasain. Gue emang jarang banget yang namanya ngajak lo ngobrol atau sama kayak apa yang Rangga lakuin dulu ke lo. Tapi, gue Abang lo juga. Sebisa mungkin gue bakal jadi Abang yang baik buat adiknya. Kalau ada apa-apa lo bilang aja sama gue, nggak usah takut. Gue bakal dengerin curhatan menye lo." Ucap Raga dengan menepuk bahu adiknya.

"Iye-iye. Udah ah! Jangan buat gue tambah pengin nangis." Balas Raka yang membuat Raga terkekeh.

"Dasar cengeng." Ejek Raga lalu mengambil gitarnya lagi.

"Adara gimana?"

"Gimana apanya?"

"Aelah! Masa nggak mudeng."

Raga yang mengerti maksud arah pembicaraan adiknya pun menatap Raka yang sedang menaik-turunkan alisnya dan menatapnya jahil.

"Lo nggak lupa kan sama janji lo ke Rangga?" Selidik Raka dengan memincingkan matanya.

"Janji itu bukan cuma janji gue ke Rangga. Tapi, janji buat diri gue sendiri untuk ngebahagiain dia, jagain dia dan selalu ada buat dia." Ucap Raga yang membuat senyuman Raka mengembang.

"Tapi, lo kan bakal pindah ke London buat ngurusin perusahaan Papa dan lanjut kuliah disana. Terus Adara gimana?" Balas Raka yang seketika membuat Raga terdiam.

"Yaelah.. Kenapa punya abang bucin banget sih!" Ucap Raka yang membuat kakaknya menatapnya datar.

"Nggak usah ngatain orang bucin kalau lo sendiri jauh lebih bucin." Sindir Raga yang membuat Raka melotot seketika.

"Santai aja kali mata lo." Ucap Raga tersenyum miring.

"RAGA LO NGEBUNTUTIN GUE JALAN SAMA STELLA?" Teriak Raka heboh yang langsung membuat cowok itu terbahak keras.

"BUNDAA! RAGA NGUNTITAN!" Seru Raka yang lebih tepat teriakkan. Seketika suara Arina terdengar dari bawah yang membuat Raga semakin tertawa.

"Raka biasain manggil pakai abang!" Seru Arina dari bawah.

"Mampus!" Ucap Raga dengan senyum kemenangan.

"Tai lo!" Umpat Raka.

"BUN RAKA NGATAIN ABANG TA-" Ucapnya terpotong ketika adiknya melemparnya menggunakan bantal dan guling.

"Ngaduan! Males gue sama lo." Gerutu Raka yang membuat Raga terkekeh mendengarnya.

"Bang.."

"Apa? Ada maunya kan lo manggil gue abang."

"Bukan.."

"Terus?"

"Itu kayaknya-"

Ucapan Raka terpotong ketika panggilan Arina dibawah yang membuat keduanya terdiam mematung mendengarnya.

"Raga ada Garneta." Ucap Arina dari lantai bawah yang membuat kedua cowok itu diam dengan sorot mata yang hanya mereka berdua yang tahu apa artinya.

****
Yuhuu!

Apa kabar?

Selamat Hari Buku semuaa!!
Semoga nanti Promyana bisa jadi bagian koleksi buku kalian dirumah nyaw!

Happy Reading!
Salam Ciaa!

ADARA [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang