•••
Ucapan itu seolah menjadi sugesti ajaib seorang Min Yoongi. Dia benar-benar ingin melindungi anak kecil itu.
Benar Yoongi mengantarkan sampai rumahnya. Lalu, membiarkannya turun.
"Terima kasih" ucapnya.
Yoongi hanya tersenyum. "Jadi, siapa namamu?"
"Buat apa? Kita belum tentu ketemu lagi" ucapnya sinis.
Ya, Rae Na memang bukan orang yang mudah memperkenalkan diri.
"Buat ku cacat di otakku"
Ada rasa risih mendengar jawaban itu. Tapi, peduli apa?
"Aku jamin kita akan ketemu lagi. Bukannya kita sudah bertemu tiga kali tanpa sengaja?"
Anak itu terlihat berpikir.
"Jangan melupakanku. Kita pertama kali bertemu di toko dekat jembatan"
"Oh, kamu orang yang sok akrab itu? Ch!"
Setelahnya, Rae Na membuka pagar rumah. Sudah tidak ingin berurusan dengan orang aneh itu lagi.
"Aku jamin setelah ini kamu akan selalu mengingatku. Nanti, kalo kita ketemu lagi. Aku akan minta nama dan nomormu. Ingat itu"
Yoongi berucap diiringi senyum.
"Percaya diri sekali" gerutunya tanpa berbalik.
Benar, kata pria aneh bernama Yoongi itu. Sudah seminggu dia jadi dihantui pria itu. Bukan, bukan karena ketampanannya.
Eh, tunggu! Tampan?
Aishh! Abaikan!
Tapi, karena ucapannya yang akan minta nama dan nomornya. Tapi, tetap, kan dia mengingat orang aneh itu?
Bagaimana jika benar bertemu?
Aiishh! Memikirkannya membuat tidurnya selalu malam.
Sial memang pria bernama Yoongi itu.
Bahkan dia mengingat jelas nama itu. Biasanya dia akan segera melupakan orang yang tidak dikenalnya.
"Rae, kamu kenapa, sih? Tiap keluar dari area sekolah selalu celingukan?"
Ini pulang sekolah. Dan sudah semingguan ini Rae Na selalu aneh.
"Takut ada teroris"
"Teroris? Jangan ngada-ada, deh, na?"
"Sshh! Udahlah. Sana pulang!"
"Kamu?"
"Aku dijemput ayah dari kerja"
"Ooh, oke"
Selamat,
Sudah seminggu tidak bertemu. Berarti pria aneh itu bohong. Sok, sih jadi peramal. Kalo seminggu tidak bertemu berarti setelahnya juga nggak akan ketemu.
Sesekali memang Rae Na masih memikirkan bagaimana jika tiba-tiba bertemu? Tapi, langsung ditepisnya. Tidak mungkin.
"Hai?"
"Astaga!"
"Tidak melupakanku, kan?"
Di toko buku. Tepat hari ke-12 mereka dipertemukan. Sial! Rae Na terkejut setengah mati.
"Cari buku apa?"
"Apapun!"
Siap pergi. Namun, tangannya ditahan. "Buku apa? Ku carikan"
"Aku bisa cari sendiri, iih! Siapa, sih kamu? Sok kenal banget!"
"Aku yakin kamu ingat jelas namaku. Jadi siapa namamu?"
"Nggak penting. Ya, ampun!"
"Berapa nomormu?"
"Lepas! Nanti ada orang salah paham!"
Oke, Yoongi mengalah. Tangan itu dilepas. Dibiarkan dia pergi. Lagi-lagi Yoongi tersenyum lihat anak itu.
Baiklah. Yoongi sudah jatuh cinta sejak lama.
Rae Na siap menyeberang. Namun, langkahnya langsung dihalangi oleh sebuah motor.
"Naik. Ku antar saja!"
"Aku bisa pulang sendiri"
"Tapi, aku nggak bisa lihat anak kecil pulang sendiri"
"Aku udah besar, ya. Tolong!"
"Kalau sudah besar, berarti nggak akan nyia-nyiakan kebaikan orang"
"Nyebelin, ya kamu. Siapa sih kamu?!"
"Aku pelindungmu. Calon pacarmu"
"Pede!"
Walaupun tak dipungkiri pipi Rae Na memanas mendengar itu.
"Naik. Janji, ku antar sampai rumah lagi"
"Oke!"
Entahlah, katakan Rae Na sudah gila. Karena berhasil di bujuk orang aneh bernama Yoongi itu.
Tapi, bagaimanapun itu. Jika bukan karena sudah jalan cintanya tidak mungkin akan terjadi.
Berlanjut••
Ku lgsung dabel. Takut nanti gak bisa up lagi.
Lavyu
Ryeozka
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY LOVE (END)
ContoApa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata CRAZY LOVE? Mual? Muntah? Mabuk? Atau yang lainnya. Mari buat cerita sedikit berbeda dengan tokoh utama kita. Jadikan dia sosok pria idaman setiap perempuan. Mari buat cerita sedikit berbeda, dimana cer...
