6. Lamaran

6.9K 419 17
                                        

Haloha Annyeong!
Wuhuw, akhirnya lamaran juga nih!

⚠ Typo, bantu revisi. ⚠
🌟 Vote vote vote! 🌟
Happy reading! 💕💕💕

***

Saat ini Diandra baru saja masuk ke ruangannya setelah rapat dengan Mr. Park. Pertemuan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, membuat Diandra benar-benar telah hanya untuk sekedar duduk. Diandra memukul-mukul bahu untuk mengurangi rasa pegal. Tapi percuma, yang ada tangannya juga ikut merasa tidak nyaman. Mata Diandra bergerak melihat kalender kecil yang ada di di atas meja. Kemudian dia mau tersenyum ketika teringat bahwa malam ini akan terjadi peristiwa sakral dalam hidupnya. Alex akan datang ke apartemen Diandra untuk meminangnya secara resmi.

Karena kebetulan sekarang sudah jam makan siang, Diandra segera keluar dari ruangannya setelah membawa beberapa hal penting. Diandra menghampiri meja kerja Chika, seperti sebelum-sebelumnya, dia selalu berhasil membuatnya terkejut. Chika langsung berdiri begitu mendapati Diandra ada di hadapannya. "Saya mau makan siang di luar. Bisa temani saya?"

Chika tampak berpikir. Memang tidak ada hal yang aneh jika Diandra mau memintanya untuk makan siang bersama. Jika sedang ada pertemuan di luar kantor, mereka juga biasa makan siang dalam satu meja. Tentu saja dengan Diandra membayar tagihan makannya. Tapi ini terlalu tiba-tiba, apalagi ketika melihat wajah Diandra yang berseri-seri seperti sekarang. Chika merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan bosnya itu.

"Saya mau minta tolong kamu untuk pilihkan gaun untuk saya nanti," sambung Diandra membuat Chika tersadar dari lamunannya. Dengan cepat sekretarisnya itu segera bersiap-siap. Keluar dari mejanya, dan mempersilahkan Diandra untuk pergi lebih dahulu. "Kamu sudah punya kekasih?" pertanyaan Diandra memang random. Tidak pernah terbesit sedikitpun di pikiran Chika jika atasannya itu akan menanyakan kehidupan pribadi.

"Belum, Bu. Saya ingin fokus bekerja terlebih dahulu. Kalau masalah asmara biar nanti saja, itu gampang."

Diandra tidak lagi bersuara. Mungkin benar, mendapatkan kekasih memang mudah. Ya, untuk sebagian orang bisa disebut susah juga. Tapi mempertahankan hubungan itu sendirilah yang disebut sulit. Masalah selalu sjaa datang silih berganti, baik yang kecil maupun yang besar. Memperdebatkan masalah sepele sampai bertengkar hebat pasti akan menjadi bumbu hubungan.

Dan sekarang Diandra dan Chika sudah ada di sebuah butik. Diandra tahu butik ini juga dari Bu Tari. Kaki jenjang Diandra terus melangkah menelusuri lantai, memperhatikan setiap baju yang ada di sana. Dari sekian banyak baju yang cantik, mata Diandra tertuju pada sebuah gaun panjang berwarna hitam. Memang, hampir semua baju Diandra berwarna hitam. Pergi ke kantor pun, Diandra seperti hendak melayat keluarga yang berduka karena baru kehilangan. Tapi justru itu membuat pesonanya tidak terbantahkan.

"Ini, bagaimana?" Diandra menunjukkan gaun itu kepada Chika. Dia ingin tampil sesempurna mungkin untuk malam ini. Tidak mungkin selamanya Diandra cuek dengan penampilan. Saat pernikahan Bella dan Suci, Diandra tampil apa adanya, mengikuti dandanan bridesmaid yang lain. Tapi ini untuk acara Diandra sendiri, dia mau Alex sedikit pangling untuk penampilannya nanti malam.

Selera Diandra tinggi juga, pikir Chika dalam hati. Sebuah gaun dengan bentuk A-line, bagian dalamnya terbuat dari satin, sedangkan luarnya dulapisi kain organza. Gaun tanpa bahu itu bisa menampilkan leher jenjang Diandra, lengannya juga hanya sampai sikut. Pokoknya akan sempurna. "Bagus, Bu. Tapi akan lebih baik jika warna yang lain, jangan hitam."

"Oh, ya?" Diandra meperhantikan gaun itu,membolak-balikkannya berulang kali. Sepertinya itu akan cocok dengan tubuh Diandra. "Emangnya kenapa kalau hitam?"

Crazy Lovely Man [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang