9. Kecemburuan

6.9K 393 11
                                        

Haloha Annyeong!
Kenapa nggak nikah-nikah nih dua bocah, thor? Sabar yaa, masih proses kok, wkwk...

⚠ Typo, bantu revisi. ⚠
🌟 Vote vote vote! 🌟
Happy reading! 💕💕💕

***

Pernikahan Diandra dan Alex sudah ditentukan oleh kedua belah pihak keluarga. Tanggal 1 Mei, mereka semua sepakat tanggal itulah yang akan menjadi tanggal sakral dalam hidup diandra dan Alex. Itu artinya terhitung dua minggu lagi mereka menyandang gelar sebagai suami istri. Semakin dekat mereka ke hari itu, bukannya semakin lengket, justru semakin banyak godaan menghampiri mereka. Contohnya masalah pertukaran kabar. Jika biasanya mereka mengerti dan enjoy-enjoy saja ketika pasangan tidak memberi kabar di jam kerja, kini justru saling melontarkan tuduhan yang tidak-tidak.

Seperti kemarin. Alex tiba-tiba merajuk karena Diandra yang tidak mengirim pesan saat jam makan siang. Dia bilang Diandra tidak lagi menyayanginya, tapi lebih menyayangi klien-kliennya. Dan lebih merajuk lagi ketika Diandra justru tidak menggubris protesnya. Memang pada dasarnya wanita itu cuek bebek.

Dan saat ini, pria itu sudah ada di ruang kerja Diandra. Duduk di kursi kebesaran Diandra sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Alex tersenyum bangga mendapati foto mereka berdua terpajang di meja kerja kekasihnya itu. Akhirnya, Alex tahu bukan hanya dirinya yang menjadikan Diandra sebagai motivasi untuk bekerja keras. Alex menoleh ketika terdengar deritan pintu menandakan seseorang masuk. Dan tentu saja itu bukan orang lain, melainkan Diandra, wanita yang sangat dicintainya.

"Kok nggak bilang mau ke sini?" ucap Diandra begitu mendapati Alex ada ada di ruangannya. Dia membanting beberapa berkas ke atas meja kemudian berjalan ke sofa dan membaringkan tubuh di sana. Dia benar-benar lelah.

Alex bangkit dari duduknya, menghampiri Diandra. "Kok malah tidur sih, Di? Buruan siap-siap." Alex jengkel saat Diandra tidak menggubris perkataannya. Dengan usil, pria itu colek-colek pipi Diandra. "Di, buruan ah. Gue masih harus mengurus banyak hal."

Kali ini Diandra membuka matanya. Dia melirik Alex yang sudah tersenyum lebar, mengangkat alis tinggi-tinggi yang justru membuat Diandra kesal. Dia ingin tidur, sebentar saja. Tapi Alex sepertinya tidak akan membiarkan Diandra terlelap. Dengan kesal, diandra memposisikan tubuh untuk duduk. "Emang kita mau kemana?"

Senyum lebar Alex luntur seketika. Kini giliran dia yang membanting tubuhku ke atas sofa. Tidak kalah sengit dengan tatapan Diandra, Alex bahkan Sudah memicingkan matanya. "Tuh kan! Emang faktanya lo lebih sayang sama klien lo dibandingkan sama gue! Padahal jelas-jelas gue ini calon suami lo!" ketus Alex sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Emang seganteng apa sih klient lo, Di, sampe bikin lo lupa sama gue?!"

Diandra memijat keningnya yang sudah berdenyut. Demi apapun, dia sudah sangat kelelahan dengan meeting yang baru saja dihadiri. Jangan ditambah dengan celoteh tidak penting dari Alex. Diandra membuang nafas panjang, perkataan Bu Tari kembali diingatnya.

"Menjelang pernikahan, pasti ada banyak sekali cobaannya. Biasanya calon pengantin menjadi lebih sensitif. Kalo itu terjadi dengan Alex, kamu harus banyak bersabar. Saling mengerti dan saling percaya adalah kunci keberhasilan hubungan kalian."

Kini kepala Diandra tegak memandang Alex yang sudah cemberut di sampingnya. "Gue lagi banyak kerjaan, jadi pikiran gue lagi kemana-mana. Lo tinggal bilang aja sih, Ndro, kita mau ke mana?"

Melihat wajah lelah Diandra lantas membuat Alex melunak. Perlahan tapi pasti, kini ekspresinya kembali seperti biasa. Mereka tidak punya banyak waktu, urusan mereka kali ini harus diselesaikan secepat mungkin. Sudah cukup pekerjaan saja yang membuat mereka pusing tujuh keliling, jangan ditambah dengan pertengkaran menjelang pernikahan. "Kita mau booking gedung buat resepsi, Di."

Crazy Lovely Man [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang