Janji
Sudah 1 bulan lamanya semenjak Naruto bertemu dengan ayah sang kekasih hubungan mereka menjadi semakin erat. Bahkan saking eratnya keluarga kedua belah pihak pun sudah sering bertemu tanpa sepengetahuan sepasang kasih itu.
Dan hari ini kedua keluarga itu tengah berkumpul di sebuah Restoran bintang lima di pusat kota.
"Jadi bagaimana menurutmu Minato?" Tanya Hiashi
"Hmm menurutku menunangkan mereka secepat mungkin itu lebih baik" Sahut Minato
"Apa itu tak terlalu cepat?" Ujar Kurama kurang setuju.
"Mempersatukan mereka terlalu cepat tentu saja bisa berdampak buruk, namun aku rasa itu tak akan terjadi pada putraku dan putrimu. Mereka sudah kenal satu sama lain jadi kita tak perlu terlalu mengkhawatirkan hal itu" jelas Minato
Naruto dan Hinata yang menjadi bahan perbincangan hanya diam menjadi pendengar propesional(?). Masalahnya mereka kurang paham dengan apa yang mereka bicarakan. Yang mereka mengerti hanyalah bahwa mereka akan bertunangan secepatnya.
"Lalu bagaimana dengan menurut kalian berdua? Sedari tadi kalian hanya diam tak bersuara?" Tanya Hiashi pada Naruto dan Hinata
"Aku setuju saja dengan saran Tousan karna cepat atau lambat kami akan tetap dipersatukan bukan?" Sahut Naruto santai.
"Lalu bagaimana denganmu Hinata?" Tanya Hiashi kini pada putrinya sendiri a.k.a Hinata
"Aku satu pemikiran dengan Naruto-kun tousama" sahut Hinata tak kalah santai.
"Baiklah karna kedua belah pihak sudah sepakat jadi sekarang kita tinggal menentukan kapan hari itu akan digelar"
Perbincangan pun terus berlanjut hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukan hampir pukul 10 malam.
"Jadi acara itu akan digelar 3 bulan lagi?"
"Benar dan aku sangat berharap kalian berdua bisa mengambil libur dihari itu"
Naruto dan Hinata hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah acara pertemuan kedua keluarga tersebut. Mereka pun pamit undur diri dikarenakan waktu yang memang sudah semakin malam.
Dalam perjalanannya kini menuju kediaman Namikaze Naruto benar-benar terdiam tak bersuara entah karena apa. Keluarganya yang melihat si kapten muda ini hanya terdiam entah memikirkan apa tentu saja dibuatnya Khawatir.
"Apa kau baik-baik saja Naru?" Tanya Sang ibu a.k.a Kushina lembut
Naruto yang diajak bicara pun menjawabnya dengan nada pelan.
"Ya aku baik" sahut Naruto.
*@*@*
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan kini sudah sebulan sejak pertemuan keluarga itu. Dan kini tinggal 2 bulan lagi hingga akhirnya mereka bisa saling terhubung dengan ikatan yang lebih kuat yakni pertunangan sebelum akhirnya mereka menikah.
Dan selama sebulan itu pula hubungan Naruto dan Hinata pun kian hari kianlah dekat.
Seperti sekarang ini. Dihari libur mereka kini mereka memilih untuk sedikit bersantai sembari piknik dibawah pohon rindang dekat danau di sebelah selatan kota.
Suasana yang sepi nan tentram pun membuat perasaan mereka menjadi lebih tenang.
"Tinggal 2 bulan lagi ya" gumam Naruto
"Ya, tinggal 2 bulan lagi dan jari maniskan terselip cincin pemberianmu" balas Hinata.
Naruto hanya tersenyum menanggapi. Diremasnya halus jemari Hinata yang entah sedari kapan berada didalam genggamannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend Is Captain
RandomNaruhina Kisah cinta rumit antara seorang kapten dari salah satu kesatuan militer angkatan darat jepang dengan seorang dokter spesialis bedah. Seperti apa kisahnya? Silahkan kunjungi saja dan baca kisahnya.
