3

599 79 148
                                        

Selain bising, jahil, dan tukang gombal, ternyata ada sisi lain yang membuat Yura hampir memuji Kenan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selain bising, jahil, dan tukang gombal, ternyata ada sisi lain yang membuat Yura hampir memuji Kenan.

Pintar.

Seperti tadi, setelah jam bahasa indonesia selesai, dan langsung disambung dengan pelajaran matematika. Hebatnya masih hari pertama masuk sekolah baru, Kenan bisa menjawab soal matematika dari Bu Sita yang bahkan juara kelas saja tidak bisa menjawab.

Ingat, ya, Yura hanya hampir memuji! Hampir.

Bu Sita itu suka sekali memuji anak yang bisa menjawab soal yang dia berikan, bahkan ketika Citra, murid dari kelas sebelah, bisa menjawab soal, Bu Sita selalu bercerita bagaimana cepatnya Citra mengerjakan soal, dan itu diulang selama hampir satu bulan. Layaknya anak kesayangan. Bayangkan betapa bosannya seluruh pelajar kelas sebelas IPA dua, mendengar kalimat yang sama setiap pelajaran matematika.

Ibaratnya, wejangan mama kalian setiap hari kalau kalian mau bawa kendaraan. "Hati-hati di jalan. Bawa motornya pelan-pelan, biarin aja orang bawa motor laju. Jangan lupa lihat kiri kanan."

Pasti pernah, kan? Seperti itulah Yura dan kawan-kawan. Mereka sampai hapal sekali apa yang akan dikatakan guru matematikanya, ketika masuk ke kelas mereka.

Setelah dipuji layaknya dewa, Kenan malah jadi sok tebar pesona ke Yura yang malah geli melihatnya. Saat jam istirahat pun, Yura tidak berhenti bersungut-sungut tentang Kenan di depan Keisha.

"Udahlah Yur, memang dasarnya dia pinter kok," tutur Keisha sambil berjalan di koridor kelas.

Yura yang masih kesal melihat kejadian tadi merengut. "Gue ga peduli dia pinter atau gak. Yang bikin kesel, pasti minggu depan Bu Sita bangga-banggain dia. Bukannya belajar, malah sibuk ceramah kayak lagi pengajian."

"Lebay, lo! Saran gue, mending lo minta diajarin Kenan aja, kan dia tetangga lo. Kasian nilai rapor lo pas kkm mulu."

"Lo juga kkm, ya, Kei."

"Ya, kalo rumah gue sebelahan sama Kenan juga, pasti gue minta diajarin dia biar nilai gue gak kkm. Udahlah belajar bareng aja. Kapan lagi coba dapet tetangga pinter dan tampan?" desak Keisha.

Kemudian satu suara berat menyahut. "Gue, sih, mau aja ngajarin Yura."

"Gue yang gak mau diajar sama lo," ujar Yura sambil menepis tangan Kenan yang merangkul bahunya akrab.

"Sama calon suami gak boleh gitu, ih!" Kenan berujar dengan nada yang dilebay-lebaykan.

Yura menatap kesal pada Kenan. "Heh?! Remahan peyek! Jangan kebanyakan halu, lo."

"Halu dari mana, sih, sayang? Kamu tuh, harusnya bangga punya calon suami kayak aku yang ganteng, baik dan pinter ini," ujarnya percaya diri membuat Yura mendecak. "Yang ada gue gak tenteram kalau punya calon kaya, lo."

"Udah-udah lu berdua berisik banget. Gue mau ke kantin, nih, kalian mau kemana?" kata Keisha.

"Gue mau ke perpus , lo pergi aja." Mendengar itu Keisha mengangguk paham, akan kebiasaan sahabatnya dan langsung berjalan menuju kantin.

TROUBLE MAKER (OPEN PO)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang