"Good morning my love!"
Yura pun ikut tersenyum. "Too my neighbor!" balasnya lalu berlari mendahului Kenan.
Kenan yang mendapati balasan Yura yang seperti itupun tercengang tiba-tiba. Yura pasti balas dendam padanya. Pikir Kenan. Lalu, dia pun berlari sembari mensejajarkan kakinya dengan Yura.
"Lo bales dendam ya, Ra?" tanya Kenan pada Yura. Tapi, Yura tak menanggapi. Padahal earphone milik Yura sudah terlepas dan tidak di sumpal lagi ke kedua telinganya. Tapi, Yura malah tetap diam. Apa dia marah?
"Ra, lo kok diem, sih?" tanya Kenan membuat Yura menoleh.
"Gue lagi lari, bukan diem," jawab Yura lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Sejak kapan lo bisa ngelawak?" tanya Kenan asal.
Dan, lagi-lagi Yura menoleh pada Kenan. "Kapan gue ngelawak?"
"Oh, nggak ngelawak, ya?" beo Kenan.
Yura pun berhenti berlari. Kenan pun mengikuti. "Lo sakit atau apa? Kok tiba-tiba jadi nggak jelas?"
"Lo bales dendam sama gue, ya, Ra?"
Dahi Yura mengernyit. "Bales dendam? Soal apa?" tanya Yura.
"Kemarin dan barusan," jawab Kenan. Tapi, lagi dan lagi dahi Yura malah makin mengernyit tak paham. "Ucapan selamat malam dan slamat pagi. Lo mau bales dendam kan karena kemarin gue ngucapinnya sebagai tetangga?"
"Ya, ... kita kan memang tetanggaan, kan? Apa salahnya?" alibi Yura. Padahal dalam hatinya dia kembali mati-matian menahan malunya. Mau ditaruh dimana wajah Yura? Coba bayangkan seorang Yura menjadi buciners? Bahkan mengucapkan selamat malam pada Kenan dengan embel-embel 'my love'. Sangat memalukan!
"Iya, sih." Setelah itu terjadilah keheningan. Tapi, bukan Kenan namanya jika mengunci mulutnya. "Lo sibuk gak siang ini?" tanya Kenan setelah keheningan tadi terjadi.
"Kayaknya enggak. Kenapa?" tanya Yura balik.
"Mau hang out bareng, nggak? Ada Radit, Dimas, Ares, Raka, Keisha, dan Celin."
"Nggak kurang satu orang, Ken?" sindir Yura pada Kenan.
Mengerti arah pembicaraan Yura, Kenan tersenyum simpul. "Mana mungkin gue ngundang seseorang yang bakal buat lo menjauh dari gue buat kesekian kalinya?"
Mendengar penuturan Kenan, membuat Yura tanpa sadar merasa lega. "Gue usahain," jawab Yura.
"Mau gue jemput, atau berangkat bareng?" tanya Kenan menaik-turunkan alisnya.
"Sama aja. Ujung-ujungnya juga gue bareng lo," jawab Yura jengah.
Kenan pun seketika terkekeh. Ternyata tidak ada yang berubah dari gadisnya. Gadisnya tetap saja ketus tapi membuat Kenan makin merasa tidak ingin kehilangannya lagi.
"Ya, lo yang tinggal jawab aja. Mau di jemput atau berangkat bareng?"
"Di jemput aja," jawab Yura mengelap peluh di dahinya.
"Kenapa? Kenapa gak jawab berangkat bareng?"
"Kalau gue jawab berangkat bareng, berarti gue sama lo barengnya cuman berangkat aja. Tapi, kalau gue jawab di jemput. Otomatis, berangkat dan pulangnya sama lo," jawab Yura panjang lebar.
Kenan kembali terkekeh, "ini beneran seorang Yura sang penyuka kesunyian?" tanya Kenan memastikan.
Yura menoleh. "Memangnya kenapa?"
"Ya, ... nggak apa, sih. Cuman aneh aja, baru kali ini lo ngomong panjang lebar," ujar Kenan tersenyum.
"Lo kebanyakan senyum hari ini, kenapa?" tanya Yura heran. Yura benar-benar takut jika Kenan kemungkinan saja kerasukan roh jahat. Huft, semoga saja tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
TROUBLE MAKER (OPEN PO)
Fiksi Remaja[Sudah Terbit. Open PO] Bagaimana pendapatmu, jika kamu mempunyai tetangga yang menyebalkan? Risih? Kesal? Geram? Jengah? Pasti semua itu benar adanya. Dan, seperti itulah perasaan Yura pada tetangganya. Ralat, bukan pada tetangga nya. Tapi, pada...
