39

162 13 1
                                        

Happy reading

"Kenapa lo ninggalin gue?"

Nafas Yura tercekat. Matanya memanas menahan tangis. Bukan Kenan saja yang merasa rindu. Tapi Yura pun begitu.

"Ra," panggil Kenan menyentuh bahu Yura. Dan membawa Yura untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kenan. Tapi, Yura masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Jawab pertanyaan gue, Ra," pinta Kenan mengangkat dagu Yura perlahan. "Tatap gue, Ra." Perlahan, Yura pun membalas tatapan Kenan.

Dapat Kenan lihat dalam sorot mata Yura yang memancarkan kerinduan sepertinya. Dapat Kenan lihat mata Yura yang berkaca-kaca. Kenan tahu, sangat tahu dan sangat paham. Bahwa Yura pun memendam segala kerinduan padanya.

Perlahan tapi pasti Kenan merengkuh tubuh mungil Yura. Membuat Yura bisa merasakan hangat di tengah dinginnya malam. Membuat Yura bisa merasakan kenyamanan yang setahun lalu menghilang. Yura terisak begitupula Kenan.

Mereka sama-sama melepaskan rindu yang telah bersemayam lama di relung hati mereka. Dan kini, Rindu itu terbayarkan sudah. Pertemuan itu sudah membuat segala perasaan rindu yang dulu hanya dipendam, sekarang membuat rindu itu memancarkan sinarnya.

"Gue selalu rindu sama lo, Ra. Gue selalu berharap lo kembali. Gue selalu minta sama Allah, supaya lo bisa gue genggam lagi." Yura yang mendengarkan penuturan Kenan semakin membuatnya mempereratkan pelukan rindu itu.

"Please, jangan pergi lagi," pinta Kenan mengendurkan pelukan itu. Dan menatap Yura lekat. Lalu, diusapnya bekas air mata yang jatuh di pipi mulus Yura.

Yura pun mengangguk pasti dan kembali memeluk Kenan. "Gue juga begitu. Gue juga rindu sama lo." Lalu, Yura pun mengendurkan pelukan itu. Lalu, mengusap bekas air matanya kasar.

"Gue bakal jawab semua pertanyaan lo. Bisa lo ulangi lagi kan pertanyaannya?" kekehnya di sela-sela permintaannya.

Kenan pun terkekeh dan mengusap lembut kepala Yura. "Lo catet makanya kalau dapet pertanyaan itu. Kita duduk dulu, gak mungkin kan lo jawab pertanyaan gue sambil berdiri?"

Yura mengangguk lagi, lalu Kenan membawanya duduk di bangku yang tersedia disana. Setelah duduk, bukannya bertanya, Kenan malah menatap Yura terus-menerus.

"Katanya mau nanya?"

"Gue masih rindu sama wajah cantik lo," jawab Kenan sukses membuat pipi Yura memblushing.

"Apaan, sih. Itu bukan pertanyaan," elak Yura.

Kenan menyunggingkan senyumnya. "Oke, gue mulai pertanyaan pertama. Kemana aja lo selama ini?"

"Gue, ... dirawat di rumah sakit lain," jawab Yura. Tapi, jawaban itu seakan-akan belum bisa membuat Kenan puas. Dia butuh penjelasan yang lebih detail.

"Jawab sedetail-detailnya, Ra." Yura pun menghela nafasnya.

"Papa dipindah tempatkan kerjanya. Di Yogyakarta. Dan, kebetulan Tante Fani, Mamanya Meysha juga bekerja sebagai dokter di rumah sakit yang ada di Yogyakarta."

"Terus?" tanya Kenan penasaran dengan lanjutan cerita dari Yura.

"Gue, koma selama tiga bulanan, maybe. Terus selama 9 bulan gue ikut home schooling."

Kenan mengernyitkan dahinya, bingung. "Kenapa harus home schooling? Lo bisa sekolah umum, kan?" tanyanya pada Yura.

"Iya, harusnya begitu. Tapi, fisik gue masih lemah. Jadi, sering pingsan. Sebenernya gue pernah sekolah umum. Tapi cuma dua minggu. Terus, akhirnya gue berakhir dengan home schooling, deh."

TROUBLE MAKER (OPEN PO)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang