Kami telat dateng gak, nih? semoga enggak, ya, hehe 😅
Happy Reading
"Gimana kalau kita ...."
___
Rencana yang diberikan Dimas, disetujui oleh Ares. Dan di sinilah mereka sekarang. Mengendap-endap bak orang yang ingin mencuri dibalik hamparan bunga yang sudah tumbuh menjulang.
"Yakin lo jam segini penjaganya pada keluar?" tanya Dimas.
Ares mengangguk, "iya, jam segini gue suka lewat dan ruangannya kosong. Gak ada orang."
"Ya udah, ayo masuk!" Keduanya pun bangkit dan hendak masuk ke ruang cctv.
Namun, sialnya, saat mencapai pintu, seorang penjaga cctv hendak keluar. Sontak saja Dimas dan Ares lari terbirit-birit bersembunyi lagi.
"Tiarap, Dim, tiarap," titah Ares mendorong paksa Dimas untuk berbaring. Badan sejangkung mereka akan mudah terlihat jika tidak tiarap di tanah.
"Sakit, woy!"
"Udah, diem!"
Seorang penjaga keluar disusul salah seorang lainnya. "Hari ini cuaca kurang mendukung," kata penjaga yang pertama.
"Iya. Sekarang kita cari makan aja. Keburu hujan, sudah terlalu gelap." Penjaga yang pertama keluarga mengangguk membenarkan. Ia menengadah ke atas.
Langit biru cerah, kini diselimuti gumpalan awan hitam gelap disertai gemuruh yang berlomba-lomba menunjukkan seberapa nyaring dan menggelegarnya mereka.
Sedangkan Dimas dan Ares tidak berhenti menggerutu. Sudah tahu akan hujan, tapi kenapa lama sekali perginya?
"Ayo, Pak!" ajak salah satunya dan mereka pergi meninggalkan ruangan cctv.
"Kita disini saja, tunggu hujan turun dan reda. Saya tidak kuat dingin," balas temannya.
"Ya sudah, mari masuk lagi, Pak."
Melirik kanan-kiri guna memastikan keadaan aman, Dimas dan Ares bangkit dan menepuk-nepuk tangan dan baju mereka, yang terbalur tanah.
"Cepet, Res. Keburu ada yang lihat."
"Ar, bukan Res. Kebiasaan lo, bocah." Ares memasang muka paling datarnya melihat temannya yang selalu lupa.
"Jadi gimana? bapaknya gak jadi keluar tuh."
Dimas berpikir sejenak cara apa yang ampuh. "Lo beli kopi sana! Terus ambil obat tidur di kantung tas gue," suruh Dimas pada Ares yang langsung mengangguk dan beranjak mengambil kopi di kantin.
___
Kemudian keduanya melangkah pelan tanpa menimbulkan decitan sepatu mereka yang bertemu lantai ruangan.
"Permisi, Pak!" sapa keduanya sambil membawa dua cangkir kopi dengan campuran obat tidur didalamnya.
Kedua penjaga menoleh. "Oh kopinya untuk kita?" Ares dan Dimas mengangguk meletakkan kopi itu dan keluar.
Kedua penjaga itu meneguk seperempat kopi dan lima menit kemudian, obat itu bereaksi pada keduanya hingga tertidur pulas.
Dimas dan Ares, pun, masuk. "Lo ngerti gak, cara main komputer?" tanya Ares menaikkan sebelah abisnya yang dibalas toyoran Dimas. "Gila aja gue nggak ngerti. Yang ada elo tuh yang gak ngerti."
"Eh gue ngerti, ya. Sensi amat, dah, kayak ibu-ibu hamil."
Dimas yang mengotak-atik komputer itu menoleh cepat. "Mau ditabok?" tanyanya sarkas membuat Ares cepat-cepat menggeleng sambil membuat tanda silang dengan kedua tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TROUBLE MAKER (OPEN PO)
Fiksi Remaja[Sudah Terbit. Open PO] Bagaimana pendapatmu, jika kamu mempunyai tetangga yang menyebalkan? Risih? Kesal? Geram? Jengah? Pasti semua itu benar adanya. Dan, seperti itulah perasaan Yura pada tetangganya. Ralat, bukan pada tetangga nya. Tapi, pada...
