[Sudah Terbit. Open PO]
Bagaimana pendapatmu, jika kamu mempunyai tetangga yang menyebalkan?
Risih?
Kesal?
Geram?
Jengah?
Pasti semua itu benar adanya. Dan, seperti itulah perasaan Yura pada tetangganya. Ralat, bukan pada tetangga nya. Tapi, pada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kini Yura dan Dimas sudah sampai di warung bubur kacang hijau terenak di Jakarta. Suasananya memang tidak terlalu ramai. Dan itu membuat Yura sedikit nyaman berada di sana. Dengan duduk di lesehan dan meja yang pendek membuatnya betah.
"Pak, bubur kacang hijaunya dua porsi, ya," pinta Dimas pada pemilik warung kecil ini.
Setelah itu, keheningan terjadi. Apalagi pada Yura. Pikirannya menjelajah luas memikirkan sosok Kenan. Bahkan sudah beberapa kali Yura menghela nafas.
"Lo kenapa, Yur?" tanya Dimas penasaran. Lamunan Yura pun buyar seketika.
Yura menggeleng. "Serius? Kalo lo gak nyaman disini, kita pindah aja," usul Dimas.
"Nggak papa. Cuman, ya, gue kepikiran Kenan aja, Dim. Akhir-akhir ini dia kayak ngejauh gitu, tapi pas gue tanya dia jawab, kalau dia nggak mau berharap lebih sama gue."
Seketika, Dimas mengubah raut wajah nya menjadi masam. "Em, Kenan suka sama lo berarti."
"Suka? Ya, nggak mungkinlah, Dim–"
"Apanya yang nggak mungkin, Yur? Dia kan cowok, masa iya dia nggak ada rasa sama lo. Atau mungkin, lo yang ada rasa sama dia?" tanya Dimas menyela.
Dahi Yura mengernyit. "Jangan ngaco, deh, Dim. Mana mungkin gue suka sama Kenan? Alasannya apa coba?"
"Yur, cinta nggak butuh alasan. Kayak gue, gue cinta sama lo. Meski lo selalu nolak–"
"Misi, ini pesanannya." Tiba-tiba pemilik warung itu datang dengan membawa nampan berisikan dua porsi bubur kacang hijau.
Yura dan Dimas pun menerimanya dan mengucap terimakasih pada pemilik warung itu.
"Yur?" panggil Dimas disela-sela acara memakan buburnya.
"Hm?" sahut Yura menatap Dimas.
"Nggak jadi, deh," ucap Dimas diangguki oleh Yura.
"Oh iya, Dim, lo tau nggak, kalau gue sama Kenan ikut bantu nanem pohon kurma di taman sekolah?" Seketika, pergerakan Dimas berhenti dan berakhir tidak jadi memakan sesuap bubur.
"Oh, ya?"
"Iya. Sumpah, ya, Dim gue seneng banget. Karena dari situ, gue bisa naikin nilai gue. Ajib nggak, tuh?" tanya Yura dengan riangnya.
Dimas tersenyum kecil, lalu mengangguk membenarkan ucapan Yura.
____
Pagi hari di hari Minggu memang sangat menyenangkan. Selain bisa bersantai, Yura juga bisa berkumpul dengan keluarganya.
Apalagi, katanya sepupu kecilnya akan datang. Dan karena itu juga, sedari tadi Yura tengah berkutat di dapur bersama mamanya untuk membuat kue bolu dan kue lainnya.
"Ma, kapan Meysha sampai?" tanya Yura seraya mengambil kue bolu yang sudah matang.
"Paling, sebentar lagi," balas mamanya seraya melihat kearah arlojinya. Yura pun membalas dengan anggukan.