Bab Delapan

2.4K 246 33
                                        

"Nya... Anya..." Abi panik. Ia terus menepuk-nepuk pipi Anya. Bahkan bisa dibilang hampir setengah menampar.

"Sakit Abiiii!" Anya terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali.

"Ih udah sampe apartement ya?" tanya Anya tak berdosa sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.

"Lo tidur?" tanya Abi datar.

Anya tersenyum tidak enak. "Hehehe. Ngantuk."

Abi berkacak pinggang dan menghembuskan napasnya kasar. "Cepetan keluar," ujar Abi dengan raut yang kesal.

Anya perlahan keluar dari mobil, merasa tak enak karena tidurnya terlalu nyenyak. Abi benar-benar kesal karena tadi sempat panik takut Anya kenapa-kenapa.

Sesampainya di dalam apartement...

"Bi marah ya?"

Abi hanya meliriknya sinis. Anya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia berusaha mendekati Abi dan menyusulnya masuk ke kamar. Ia langsung membuka pintunya tanpa mengetuk,

"Abi... Maaf ya Anya tadi ketidu---IH ABI!" Belum sempat Anya menyelesaikan omongannya, ia melihat Abi sedang membuka bajunya. Memperlihatkan dada bidangnya.

Anya dengan sigap menutup mata karena malu. Ia langsung berlari ke ruang tengah.

"Astaghfirullah. Gue malah liat pemandangan kayak gitu." Anya mengibaskan tangannya di depan wajahnya. Berusaha mengatur napas.

Abi keluar kamar tanpa menggunakan bajunya lagi. Hanya menggunakan celana panjang.

"Kenapa Nya?"

Anya menoleh dan mendapati Abi mendekatinya, tapi masih dengan penampilan seperti tadi.

"Jangan deket-deket! Stop disitu."

Abi menahan tawanya. "Kenapa? Nggak kuat ya liat Abi sexy kayak gini?" Tatapannya sekarang lebih ke menggoda.

"Abi mesum ih. Bodo ah hus hus!" Anya berlari ke ruangan rekamannya dan menutup pintu itu.

Abi senang dengan suasana ini. Menjahili Anya sampai kesal. Tapi ini lebih baik daripada tadi. Ya, Abi menyadari mata Anya yang sembap. Tapi Abi tidak mau menanyakan hal itu dulu, sampai suasananya lebih baik.

Malam telah tiba...

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Anya masih sibuk di ruangannya, mengerjakan pengeditan untuk konten youtube-nya. Hari ini ia harus upload satu rekamannya, sesuai dengan jadwal.

Ttokk ttook

Pintu ruangan diketuk dari depan.

"Masuk Bi," kata Anya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

"Masih sibuk?" tanya Abi yang kini berdiri di belakang Anya.

"Lumayan. Tapi sebentar lagi sih ini. Mau makan apa?" Anya masih menatap layar laptopnya.

"Nggak usah. Belum laper."

Anya memutar kursinya. Kini ia menghadap ke Abi sekarang. Ia tidak mengerti dengan sikap Abi saat ini. Ia menatapnya heran,

"Oke tunggu sebentar. Mau buat pengumuman aja dulu di youtube. Duduk aja dulu nanti pegel." Anya kembali berputar menatap layar laptopnya.

Ia mengetik sesuatu agak lama...

"Udah selesai. Yuk, Anya masakin," ajak Anya yang kini beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu.

Abi masih tidak mengerti Anya mengetik apa barusan. Abi mengecek ponselnya, lalu membuka laman youtube. Ia melihat pengumuman dari Anyaya disana.

BIG [Completed] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang