Bab Tiga Puluh

2.5K 178 14
                                        

Abi berusaha sekuat tenaga untuk membujuk Anya. Kakinya terus melangkah ke arah parkiran, sebelum Anya benar-benar pergi dengan Angga.

"Abi, aku..."

Abi sudah berada di parkiran motor. Tepat sesuai dengan perkiraannya. Walaupun Anya tidak bilang ia berada di parkiran mana, tapi Abi tahu, kalau Angga pasti membawa motor.

Anya terbelalak kaget begitu melihat Abi ada tak jauh darinya. Padahal baru saja Anya akan menjawab keputusannya, yaitu membatalkan pergi dengan Angga.

Abi tersenyum membuat seluruh hati Anya menghangat. Senyumnya hampir lepas.

"Anya, pulang ya?" pinta Abi yang kini berada di hadapannya.

Anya mengangguk pelan dua kali. Ia berbalik dan menghadap ke Angga yang kini menatapnya dengan tatapan kecewa.

"Angga, maaf gue harus pulang. Lain kali ya?" Raut wajah Anya menunjukkan penyesalan yang mendalam.

Angga memang kecewa. Tapi ia mengerti posisi Anya. Lagipula Angga hanya sahabatnya. Tidak bisa ia memaksa kehendak juga. Kecuali...

"Ya udah, pulang sama Abi. Lain kali aja kita pergi. Gue bisa cari sepatunya sendiri kok sekarang," jawab Angga tersenyum.

Abi mendecak kesal begitu melihat dua insan itu saling tersenyum satu sama lain. Abi meraih tangan Anya dan menggenggamnya, membuat sang pemilik tangan menoleh.

"Sorry, gue sama Anya harus pulang," ujar Abi datar.

Angga tersenyum masam. "Silahkan."

Abi menggandeng tangan Anya, menariknya dan berjalan menuju ke parkiran mobil. Anya hanya menurut tanpa perlawanan.

"Masuk," gumam Abi datar saat mereka sampai di depan mobil, sambil membukakan pintu mobil untuk Anya.

Anya masuk ke mobil tanpa sepatah kata pun. Setelah Anya masuk, Abi kembali menutup pintu mobil itu, dan segera naik di kursi kemudi.

"Kamu kenapa ngelarang aku pergi sama Angga?" tanya Anya memecah keheningan.

"Aku laper. Mau makan masakan kamu," jawab Abi tanpa menoleh ke arahnya. Ia tetap fokus menyetir, melesat pergi meninggalkan kampus.

Anya tersenyum kecil. "Kamu mau makan apa Abi?"

"Apa aja, aku tau masakan kamu enak."

Anya hanya mengangguk, lalu membuang pandangannya ke luar jendela mobil.

"Sampe kapan kita ada jarak kayak gini Anya?"

Pertanyaan Abi membuat Anya memutar pandangannya, dan beralih menatap Abi. Disaat lampu lalu lintas menyala berwarna merah, Abi menghentikan mobilnya dan balas menatap Anya. Menatapnya rindu.

"Aku kangen meluk kamu."

Anya meremas ujung bajunya saat Abi mengatakan hal itu. Jantungnya berdegup kencang. Hal yang sama ia rasakan pada Abi. Anya pun sangat rindu dengan kehangatan yang Abi berikan.

"Aku butuh waktu," jawab Anya.

Lidah Anya seketika membeku. Seharusnya bukan kata-kata itu yang terlontar dari mulutnya.

"Aku ngerti." Abi mengelus kepala Anya dengan lembut.

Sesaat kemudian, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Abi melajukan mobilnya kembali. Abi sudah bertekad. Ia akan meninggalkan Rachel. Meninggalkan semua masa lalunya. Ia akan membuktikan pada Anya.

Sesampainya di apartement...

"Aku duluan yang ganti baju ya Bi," kata Anya sambil berjalan ke arah kamar.

BIG [Completed] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang