Ciko berjalan menyusuri Gramedia. Ciko benar-benar disuguhkan oleh buku-buku yang menarik, seperti halnya buku antalogi puisi. Ciko sangat menyukai puisi ketimbang buku novel lainnya.
Ciko menghampiri buku yang berada di ujung ruangan. Ciko pun mengambil buku yang tidak terbungkus plastik, membaca beberapa halaman. Ciko sangat menyukainya, diambil buku itu olehnya. Yang menjadi tujuan pergi ke sini bukan untuk mencari buku antalogi puisi, melainkan untuk mencari buku pelajaran. Ayah yang menyuruhnya untuk membeli buku pelajaran juga membelikannya buku tentang seputar bisnis.
Ciko mengambil beberapa buku untuk ia beli. Ponselnya bergetar di dalam saku belakang celananya, tanpa sepengetahuannya dompetnya terjatuh saat bersamaan Ciko mengambil ponsel. Ciko mengangkat panggilan masuk dari Ayahnya. Didekatkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa Yah?."
"..."
"Iya udah Ciko beli, ada lagi?."
"..."
"Yaudah Ciko mau bayar dulu."
Orang bilang kalau orangtua itu cerewet lebih tepatnya seorang Ibu. Namun, di kehidupan Ciko berbanding terbalik, justru Ayahnya yang lebih cerewet dibanding Ibunya.
"Permisi," ucap seorang gadis. Ciko berbalik badan menghadap ke sumber suara. "Dompetnya jatuh,” sambung gadis itu.
Ciko melihat ke bawah lantai yang kini terdapat dompetnya tergeletak di sana. Dengan cepat Ciko mengambil dompetnya. Kemudian, Ciko kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku celana. "Terimaka ...." Belum sempat Ciko mengucapkan terimakasih. Namun, gadis itu sudah pergi.
Sepertinya Ciko pernah bertemu dengan gadis itu, tapi entah dimana. Ciko berusaha mengingat kembali. Ciko menepuk jidatnya. "Oh shit, Bevan," umpat Ciko seraya berlari menuju tempat kasir untuk membayar terlebih dahulu buku yang ia beli, sebelum Ciko memutuskan untuk mencari gadis itu.
"250 ribu," ucap petugas kasir.
Ciko mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Ciko mengambil tiga lembar uang bernilai seratus ribu. Ciko memberikan uang itu pada petugas kasir. "Ambil aja kembaliannya," kata Ciko.
Ciko kembali berlari keluar dari Gramedia. Ciko melihat gadis itu tengah memasuki lift. Ciko berlari menuju lift. Namun, sayang liftnya tertutup. Banyak orang yang mengantri di depan lift. Jalan satu-satunya untuk menghidari hal ini dengan menuruni anak tangga. Karena bagi Ciko tidak ada waktu lagi untuk menunggu.
Ciko berlari menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Saking terburu-buru, Ciko tidak melihat di depannya ada orang. Sehingga, membuat barang belanjaannya terjatuh karena tersenggol. Ciko pun mengambil kantung plastik berisikan buku-buku yang tergeletak di lantai. Ciko kembali belari menuruni anak tangga.
Terlihat dari jauh gadis itu tengah keluar dari Mall dengan dikawal oleh bodyguardnya. Sudah tidak salah lagi, gadis itu merupakan gadis yang sama yang pernah Ciko temui. Sebuah mobil putih berhenti di depan gadis itu. Pengawal membuka pintu mobil itu untuknya. Lalu gadis itu pun masuk ke dalam mobil.
Ciko berlari dengan kencang keluar dari Mall berusaha mengejarnya. Namun, mobil itu sudah melaju menjauh. Ciko berhenti tepat di depan Mall dengan napas tersengal-sengal. Ciko pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Berusaha untuk menelpon Bevan, mengabarinya tentang gadis yang ia temui.
Di sisi lain, Bevan tengah berbaring di kasurnya seraya menatap langit-langit kamar bernuansa biru. Ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas laci. Bevan pun menekan tombol hijau, mengangkat panggilannya. Didekatkan ponselnya ke telinga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Without Love (Revisi)
Teen Fiction"Hai Bidadari cantik, gimana udah bangun? Kalau udah jangan lupa bangunin Bevan ya!" Isi surat itu seperti tidak berarti apa-apa. Namun, siapa sangka isi surat itu mengandung makna terdalam. Alena disadarkan oleh sebuah kenyataan yang sangat menyaki...
