“Kamu tahu persamaan kamu sama gula apa? Sama-sama manis takut diabetes.”
Bevan Deonandra Fernandes
Kini sang bulanlah yang berada di atas langit, menggantikan posisi sang surya dengan ditemani bintang yang berkelap-kelip di atas sana. Seperti biasanya Alena tengah berdiam diri di balkon seraya mendongak ke atas langit. Tak ada senyum yang mengembang dan terukir di bibirnya.
Alena melihat ada seekor kupu-kupu terbang mengelilingi balkon. Alena sangat menyukai kupu-kupu, apalagi kupu-kupu berwarna putih dan kuning. Pepatah mengatakan, jika ada kupu-kupu terbang di dalam rumah tandanya ada tamu yang akan datang. Tahayul namanya, tapi terkadang itu benar. Mungkin memang sudah takdirnya seperti itu.
Seorang lelaki mengendap-endap memasuki pekarangan rumah dengan sebuah gitar di genggamannya. Alena mengernyitkan keningnya bingung. Lelaki itu mendongak ke atas seraya memberikan isyarat agar dirinya untuk tidak panik. Karena pasti di pikirannya seorang pengamen jalanan.
Lelaki itu mengambil tangga lipat yang berada di samping, lalu mendirikan tangga lipat itu. Perlahan-lahan lelaki itu menaiki anak tangga dan berhasil sampai di atas balkon.
Kini senyum Alena mengembang dengan sempurna memancarkan cahaya kecantikannya. Matanya menoleh ke bawah melihat gitar yang berada di genggaman lelaki itu. Yang menjadi pertanyaannya, untuk apa Bevan membawa gitar ke rumahnya?
Dengan menatap mata Alena, Bevan mengerti apa makna dari tatapan itu. Bevan duduk di teras balkon. Matanya menoleh ke samping mengisyaratkan agar Alena duduk di sampingnya. Alena pun mendudukkan pantatnya di teras balkon bernotabene di samping Bevan. Bevan memetik senar gitar seraya bernyanyi mengikuti alunan nadanya.
Ku rasaku sedang jatuh cinta
Karena rasanya ini berbeda
Oh apakah ini memang cinta?
Selalu berbeda saat menatapnya
Ohh
Mengapa aku begini hilang berani dekat denganmu
Inginku memilikimu tapi aku tak tahu
Bagaimana caranya?
Bevan menghentikan bermain gitar. Pandangannya beralih pada Alena seraya mengangkat kedua alisnya. Bevan selalu saja menggodanya yang membuat pipi Alena memerah bak kepiting rebus.
"Mau berapa lagu lagi neng?" sindir Bevan sengaja.
Alena terkekeh pelan. Bevan kembali memetik senar gitarnya seraya bernyanyi mengikuti alunan nadanya.
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini ku tuliskan untuknya
Namanya selalu ku sebut dalam doa
Sampai aku mampu
Ucap maukah denganku
Di sisi lain, seorang pria keluar dari rumah untuk mencari udara segar sekejap. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Pria itu berhasil menangkap sebuah pemandangan yang aneh. Siapa yang mendirikan tangga itu tepat di kamar Alena? Apakah ada maling yang menyelinap masuk ke kamar Alena?
Tanpa berpikir panjang pria itu pun langsung menuju tangga lipat itu didirikan. "Alena," teriak Ayah Alena dari bawah.
"Oh shit," umpat Bevan seraya menepuk jidatnya. Bevan dan Alena saling melontarkan pandangannya satu sama lain. Bagaimana kini nasibnya yang sudah di ujung tanduk.
Alena segera beranjak berdiri di depan pagar pembatas balkon. Sementara Alena menyuruh Bevan untuk mengumpat di balik tirai dan menyuruhnya untuk tidak membuka suara. Alena melihat ke bawah yang kini terdapat Ayahnya di sana. “Iya ada apa Yah?" tanya Alena.
"Kamu baik-baik aja kan di sana?" tanya balik Ayah Alena dibalas anggukan oleh Alena.
"Yaudah sekarang kamu tidur udah malam,” perintah Ayah Alena seraya menaruh tangga lipat di tempat semula. Sontak hal itu membuat Alena terkejut. Jika tangga lipat itu disimpan di tempat semula. Bagaimana dengan Bevan?
"Kenapa disimpan Yah?" tanya Alena panik.
"Takut ada maling yang masuk ke kamar kamu," jawab Ayah Alena.
Alena mengangguk pasrah. Tak lama kemudian Bevan keluar dari persembunyiannya, setelah mengetahui bahwa ayah Alena sudah kembali masuk ke dalam rumah. Bevan pun menghampiri Alena.
Bevan terkejut ketika mendapati tangga lipatnya yang sudah disimpan di tempat semula. "Jadi?" tanya Bevan.
Alena menggeleng pelan seraya memajukan bibirnya. Seketika Bevan mengumpat dalam hati, ketika melihat ekspresi Alena yang sangat lucu. " Kamu tahu persamaan kamu sama gula apa?” tanya Bevan.
Alena menggeleng pelan seraya menjawab, “Apa?”
Bevan menambahi, "Sama-sama manis takut diabetes.” Seketika senyum Alena mengembang dengan sempurna. Wajahnya kini memerah bagaikan kepiting rebus.
Bevan tersenyum balik padanya. Bevan menaiki pagar pembatas, lalu meloncat dari balkon. Bukan Bevan namanya kalau dia tidak bisa meloncat dari beberapa ketinggian. Tanpa ada luka, Bevan berhasil mendarat di atas rumput. Lagi-lagi Alena dibuat terkejut olehnya. Bevan ener-bener nekad.
Bevan berjalan dengan gontai seraya membawa gitarnya menuju motor yang terparkir di depan rumah Alena. Bevan menaiki motor ninjanya, lalu menancapkan gasnya membelah jalanan yang sepi.
Ponsel berdering dari dalam saku celana yang menandakan ada panggilan masuk. Bevan menghentikan motornya di samping trotoar, dikarenakan takut ada panggilan penting.
Bevan pun mengambil ponsel dari saku celananya. Tertera dari layar ponselnya panggilan masuk dari Abi. Bevan pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, tanpa menjawab panggilannya. Bevan kembali menancapkan gasnya membelah jalanan.
Motor Bevan terparkir rapih di garasi rumah. Bevan berjalan masuk ke dalam rumah. Terlihat Uminya yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu, seperti tengah menunggu kedatangannya.
Bevan menghampiri Umi seraya mencium telapak tangannya. "Assalamualaikum Umi,” salam Bevan.
"Waalaikumsalam. Gitar? Habis dari mana kamu?" tanya Umi Bevan.
Bevan tersenyum pada Uminya. "Habis dari rumah Bidadari Umi," jawab Bevan.
Umi hanya bisa menggeleng pelan. Putra semata wayangnya kini benar-benar berubah setelah mengenal Bidadari yang barusan ia sebut. “Oya, tadi Abi telepon nanyain kabar kamu,” ungkap Umi Bevan.
Terlihat dari raut wajah Bevan yang mendadak berubah menjadi kesal. "Bevan ngantuk Mi, selamat malam," elak Bevan seraya berlalu pergi, tanpa menanggapi tentang Abinya. Umi mengerti semua perilaku Bevan terhadap Abinya.
•
•
•
•
•
•
TBC
Tinggalkan jejak dengan cara vote dan ramaikan kolom komentar.
Terimakasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Without Love (Revisi)
Ficção Adolescente"Hai Bidadari cantik, gimana udah bangun? Kalau udah jangan lupa bangunin Bevan ya!" Isi surat itu seperti tidak berarti apa-apa. Namun, siapa sangka isi surat itu mengandung makna terdalam. Alena disadarkan oleh sebuah kenyataan yang sangat menyaki...
