"Le, Ayah rasa hari ini kamu gak sekolah dulu," ucap Ayah Alena.
"Alena gak kenapa-napa kok Yah," elak Alena. Dirinya merasa bahwa ia lebih baik dari sebelumnya.
"Yakin?" tanya Ayah Alena dengan dibalas anggukan olehnya.
Alena senang ketika Ayahnya perhatian terhadapnya, tapi ada sedikit yang mengganjal di hatinya. Saat hendak keluar rumah, Ayah dan Alena dibuat terkejut dengan kehadiran Bevan. Untuk apa dia datang ke rumahnya?
Bevan membungkukkan badannya memberikan hormat pada Ayah Alena. "Assalamualaikum Om," salam Bevan.
"Waalaikumsalam. Sepertinya saya pernah melihat kamu," kata Ayah Alena seraya mencoba mengingat kejadian yang telah lalu.
"Bukannya kamu pengirim piz ..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Bevan malah memotong ucapannya. Memang tidak sopan bukan memotong pembicaraan orangtua.
"Al ayo nanti kesiangan. Yaudah Om, Bevan sama Alena pamit, assalamualaikum," pamit Bevan seraya berjalan dengan langkah cepat menuju motor.
Alena yang melihat tingkah Bevan yang mulai aneh hanya bisa menggeleng pelan. "Ayah Alena pamit, assalamualaikum," pamit Alena seraya mencium telapak tangan Ayahnya. Kemudian, Alena berjalan menghampiri Bevan. Alena mengambil helm yang diberikan oleh Bevan, lalu ia memakaikannya di kepala.
"Yang tadi Bevan atau pengantar pizza ya?" tanya Ayah Alena bermonolog.
Alena sangat menikmati setiap perjalanan dengan menggunakan motor tua milik Bevan. Kebanyakan dari para perempuan pada umumnya gengsi, jika bepergian dengan menggunakan motor vespa, tapi tidak dengan Alena.
Kini Bevan dan Alena menjadi pusat perhatian, bahkan pertama kali masuk gerbang sampai masuk kelas. Bagi Bevan itu sudah menjadi hal biasa, tapi bagi Alena itu rasanya risih sekali.
Saat hendak Alena mau menuju mejanya. Tiba-tiba Bevan memanggilnya. Sontak Alena menoleh ke belakang tepat padanya. "Al," panggil Bevan yang tengah duduk di kursinya. "Duduk di sini aja," sambung Bevan.
Tak lama kemudian Reza datang memasuki kelas. Bevan yang menyadari kehadiran Reza langsung menghampirinya. Dirangkul pundaknya oleh Bevan seraya berkata, "Za, lo pindah tempat aja ya di bangku Alena," pinta Bevan.
Bukannya menjawab Reza malah pergi begitu saja. Reza ini bisa dibilang irit bicara. Terlihat dari tampangnya saja dingin seperti balok es. Bevan sudah pasrah dan ia rasa Reza tidak akan menuruti kemauannya. Namun, hal yang membuatnya aneh ketika Reza duduk di kursi belakang, dimana itu kursi yang Alena tempati sebelumnya.
Bevan menjerit keras dalam hati, ketika dirinya berhasil meluluhkan hati Reza yang beku. Bevan kembali duduk di kursinya. "Al sini," ajak Bevan. Alena tersenyum menanggapinya seraya duduk di kursi bernotabene di samping Bevan.
Seorang gadis memasuki kelas seraya menyemprotkan parfum ke tubuhnya beberapa kali, sehingga membuat aromanya menyengat. Siapa lagi kalau bukan Wardah yang selalu berpenampilan cantik. Sudah jelas namanya saja wardah sama seperti produk kecantikan. Wardah merupakan salah satu teman dekatnya Bianca, jadi wajar saja jika dia bersikap berlebihan.
"Gila wangi banget," gerutu Gio seraya mengendus-endus, mencium aroma parfum.
Bevan hanya bisa menggeleng pelan. Bevan tidak mengerti sama sekali kepada orang-orang yang selalu bersikap berlebihan. Bukankah bersikap berlebihan tidak dianjurkan dalam agama Islam?
"Kalau lo pakai parfum banyak-banyak bisa-bisa lapisan ozon makin tipis. Gimana kalau bumi kita gak ada lapisan ozon? Lo mau kulit lo yang bening, glowing itu terpapar sinar ultraviolet? Lo mau kanker kulit?" cerca Bevan.
Wardah memutar matanya ke atas. Seketika ia bergidik ngeri membayangkannya. "Oh no!" teriak Wardah seraya membuang parfum ke tong sampah dekat pintu.
Gio membelalakkan matanya terkejut ketika parfum senilai satu juta rupiah masuk ke dalam tong sampah. Gio tidak bisa membiarkan hal itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun berlari menghampiri Wardah yang berada di dekat pintu.
Gio mengambil parfum itu, tak peduli ia harus menyentuh sampah lainnya. Yang terpenting baginya, ia harus menyelamatkan barang berharga. "Ayah menyelamatkanmu Nak," kata Gio seraya mencium parfum itu, tanpa ia sadari parfum itu sudah masuk ke dalam tong sampah.
"Iw," kata Wardah melihat tingkah Gio yang berlebihan.
Kali ini Bevan yang mengantarkan Alena pulang karena ia sudah izin pada Ayah Alena. Dan Ayah Alena memberikan izin padanya. Sesekali Bevan melirik Alena dari kaca spionnya. Terlihat Alena kini tengah tersenyum yang membuatnya terlihat lebih cantik. Di perempatan jalan Bevan menghentikan motornya tepat di penjual balon gas helium.
"Mau beli balon berapa jang?" tanya Penjual.
"10 bang." Penjual balon menyodorkan sepuluh balon gas kepada Alena. Bevan pun menyodorkan uang padanya. Bevan pun kembali menancapkan gasnya membelah jalanan.
"Buat apa balon sebanyak ini?" tanya Alena yang tengah memegang balon.
Bevan menoleh ke samping seraya bertanya, "Buat kamu. Suka gak?"
"Suka," jawab Alena.
"Suka warnanya gak?" tanya Bevan lagi.
"Suka," jawab Alena.
"Suka aku gak?" tanya Bevan seraya menggoda Alena.
"Suk ...." ungkap Alena. Seketika Alena tersadar, ia hanya bisa menundukkan pandangannya. Alena tidak tahu apakah kini wajahnya mulai memerah atau tidak.
"Suk apa?" sindir Bevan sengaja. Bevan melirik pada kaca spionnya. Terlihat raut wajah Alena yang kini mulai memerah bak kepiting rebus. Di saat seperti ini Bevan rasa ingin terus menggodanya. Karena ia terlihat lucu ketika sedang malu. Sementara Alena tak berkutik sama sekali.
•
•
•
•
•
•
TBC
Tinggalkan jejak dengan cara vote dan ramaikan kolom komentar.
Terimakasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Without Love (Revisi)
Teen Fiction"Hai Bidadari cantik, gimana udah bangun? Kalau udah jangan lupa bangunin Bevan ya!" Isi surat itu seperti tidak berarti apa-apa. Namun, siapa sangka isi surat itu mengandung makna terdalam. Alena disadarkan oleh sebuah kenyataan yang sangat menyaki...
