Sementara di sisi lain Gio sedang gelisah. Pasalnya ia takut akan dimarahi oleh Ayahnya, ketika Ayah tahu nilai hasil ulangannya. Setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi, tidak semua anak bisa mengabulkan keinginan orangtua.
Ayah Gio selalu berpegang prinsip bahwa anaknya harus masuk peringkat tiga besar. Hal itu membuat Gio tertekan, apalagi dirinya tidak terlalu pandai. Bukan tidak pandai hanya saja malas. Di dunia ini tidak ada manusia yang bodoh.
Keadaan rumah sepi seperti tidak ada tanda kehidupan. Gio berjalan dengan langkah lambat. Matanya menjelajah ke setiap penjuru rumah dengan harapan tidak ada kehadiran Ayahnya saat ini. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga pertama ketika seseorang memanggilnya. Suara siapa lagi kalau bukan Ayahnya.
“Gio,” panggil Ayah Gio seraya berjalan menghampiri Gio. Namun, yang dipanggil malah mematung di sana, sama sekali tidak berbalik badan.
“Ayah mau lihat hasil ulangannya,” pinta Ayah Gio yang berada di belakangnya.
Gio menelan air liurnya, mendadak tenggorokannya terasa kering. Gio masih tidak berani menghadapnya, apalagi menatapnya.
“Gio dengar Ayah gak?” tanya Ayah Gio.
Gio menghela napasnya sejenak bersikap pasrah. Gio pun berbalik badan menghadap Ayah. Kemudian, Gio membuka tasnya untuk mengambil hasil lembar ujian yang terselip di dalam bukunya. Dengan ragu Gio memberikan lembar ulangan itu kepada Ayah. Gio kembali menundukkan pandangannya.
Ayah mengambil hasil lembar ulangan Gio. Dilihat dengan teliti hasilnya. Sontak Ayah terkejut ketika mendapati nilai Gio yang tertera di kertas dengan pulpen merah. Dimana merah menandakan bahwa nilai di bawah lima puluh.
Ayah melempar kertas tepat di wajah Gio. Darahnya mendidih, dadanya bergemuruh. Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Gio. “Anak gak berguna,” geram Ayah Gio.
Gio meringis kesakitan dengan pandangan masih menunduk.
“Mangkanya lain kali belajar, jangan main gadget mulu,” bentak Ayah Gio.
“Gio minta maaf Ayah,” kata Gio.
“Ayah gak butuh maaf kamu. Malam ini kamu tidur di sofa!” perintah Ayah Gio seraya berlalu pergi menaiki anak tangga.
Itulah Ayahnya, kejam. Bukan pertama kalinya Gio dimarahi bahkan sampai diperlakukan tidak pantas oleh Ayahnya. Ini sudah kesekian kalinya, tapi Gio masih bersikap diam tidak bertindak apapun. Karena dirinya sadar bahwa ia salah.
Gio hanya bisa pasrah jika menyangkut Ayahnya yang mendidik dirinya dengan keras. Terkadang Gio merasa iri kepada kedua sahabatnya yang mendapatkan Ayah yang baik tidak seperti dirinya, tapi apalah dirinya. Gio hanya bisa menerima takdir, bahwa dirinya harus menderita. Tidak semua anak yang dididik dengan keras akan membuat semangatnya kian meningkat, justru terkadang membuatnya tertekan dan terbebani.
Gio berjongkok seraya mengambil kertas hasil ujiannya. Gio tersenyum menatap hasil ujiannya yang terpampang nilai tiga puluh dengan tanda merah. "Lo hidup gak guna Yo," lirih Gio.
•
•
•
•
•
•
TBC
Tinggalkan jejak dengan cara vote dan ramaikan kolom komentar.
Terimakasih ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Without Love (Revisi)
Fiksi Remaja"Hai Bidadari cantik, gimana udah bangun? Kalau udah jangan lupa bangunin Bevan ya!" Isi surat itu seperti tidak berarti apa-apa. Namun, siapa sangka isi surat itu mengandung makna terdalam. Alena disadarkan oleh sebuah kenyataan yang sangat menyaki...
