Typo bertebaran
¤¤¤
"Ray! Keluar, aku minta maaf!" teriak Noel. Sudah hampir tiga jam ia berdiri di depan pintu rumah Ray, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana.
Tubuh Noel merosot, ia membiarkan tubuhnya diguyur air hujan yang sangat deras. "Ray, maafin gue," lirihnya.
"Bangun!" Noel mendongak dan mendapatkan Sita yang sedang berdiri di hadapannya sambil menatapnya tajam. Gadis itu menutupi tubuh Noel dari guyuran hujan dengan payung yang dipegangnya. Sita menatap Noel kasihan. Bajunya basah kuyup dan wajahnya yang terlihat begitu sembab.
"Bangun!" titah Sita. Noel segera bangkit dan menatap Sita penuh harap, ia berharap Sita mau memberi tahu di mana keberadaan Ray.
"Ikut gue!"
Di luar gerbang rumah Ray sudah ada Caesar yang menunggu di dalam mobilnya. Caesar menurunkan kaca mobilnya saat melihat Noel dan Sita mendekat ke arahnya.
Caesar langsung mengambil handuk kecil yang sudah ia persiapkan di jok belakang. Setelah Sita berada di samping mobilnya ia memberikan handuk tersebut pada Sita.
"Nih!" ucap Sita ketus. Noel menerima handuk tersebut dan mengeringkan wajah dan rambutnya yang basah.
"Ikut gue!" Noel hanya bisa menurut dan masuk ke dalam mobil Caesar. Caesar melirik Noel yang berada di jok belakang. Ia merasa kasihan dengan sahabatnya satu ini, wajahnya penuh keputusasaan.
"Gak usah bodoh jadi orang!" ketus Sita. Noel mendongakkan wajahnya dan tersenyum miring pada Sita.
"Emang gue bodoh, gak ada yang ngasih tau tentang penyakit Ray sama gue," ucap Noel. Sita mendengkus kesal. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Noel.
"Kalo bukan Ray yang suruh gue juga bakal bilang ke lo!" ucap Sita kesal, "dan lo punya hp kan? Ya telepon kek, SMS kek, lo nya aja yang gak punya otak."
Noel terdiam membenarkan perkataan Sita, kenapa ia bodoh sekali? Dengan cepat ia mengeluarkan handphone nya dan menelepon Ray. Telepon tersambung, tapi tidak dijawab oleh si pemilik. Berkali-kali juga ia mengirimkan pesan untuk Ray, tapi juga tidak ada balasan.
"Gak di angkat," lirih Noel. Ia menatap handphone nya putus asa. Sita berdecih kesal.
"Bukannya sekarang teknologi udah canggih? Kenapa lo gak lacak posisinya Ray pake hp lo!" ucap Sita kesal. Sita memberengut kesal.
"Kenapa lo gak kasih tau aja sekalian ke gue di mana Ray?" tanya Noel. rahangnya mengeras, ia yakin sita pasti tau Ray ada di mana saat ini.
Sita berdecih. "Cih, kalo gue tau juga bakal bilang ke lo bego!" sembur Sita.
Noel menatap Sita tidak percaya. "Masa lo sahabatnya gak tau Ray di bawa ke mana?" sindir Noel.
"Yang gue tau Ray mau di bawa ke luar negeri," ucap Sita datar.
"Ya udah ayo ke luar negeri!" ucap Noel semangat.
Sita mengerang kesal. "Lo pikir negara cuma satu atau dua? Di dunia ada berapa negara? Banyak! Lo mau keliling dunia buat cari Ray?!" bentak Sita kesal.
"Sttt, jangan emosi," ucap Caesar menenangkan. Sejak tadi ia hanya melihat perdebatan anatara Noel dan sita.
"Gue udah bilangkan, lacak posisinya! mumpung nomernya aktif!" kesal Sita.
"Pacar lu yang bisa!" ucap Noel. Sita melirik Caesar yang fokus pada jalanan. Merasa diperhatikan ia menolehkan wajahnya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Ya udah, ke rumah gue," ucap Caesar pasrah.
¤¤¤
Kondisi Ray sudah mulai stabil, ia sudah boleh ke luar ruang inapnya. Seperti saat ini, ia sedang berjalan-jalan menggunakan kursi roda di taman rumah sakit untuk menghilanglan kejenuhan dan juga menghindari telepon dan pesan dari Noel. Anak itu terus saja meneleponnya dan mengirimkan pesan padanya. Ray menjadi curiga kalau Noel sudah tau semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rayna(Completed)
Novela Juvenil[REVISI BERJALAN] Setiap cerita pasti akan berakhir bahagia, bahagia dengan caranya sendiri. Ada yang harus bersama ada juga yang harus berpisah. Tapi perpisahan bukan berarti akhir yang menyedihkan. Sama seperti kisah kita, Noel. ~Ray Setiap pertem...
