"Dimana kedua orang itu? Si teme juga pergi kemana?"
Naruto dewasa melompat dari atas pohon tanpa memperhatikan sekitarnya. Ia harus segera mencari keberadaan dirinya, Boruto, dan teme. Namun rasanya sekarang ada yang janggal, sejak kapan posisi tubuhnya menjadi seperti ini?
Tubuh tingginya agak membungkuk sedikit dan bibirnya seperti telah mengenai sesuatu, seperti kulit. Aroma Lavender menusuk Indra penciuman Naruto dewasa, hei dia sangat kenal aroma khas ini. Ketika ia membuka matanya, seorang gadis remaja sedang berada di depan matanya.
Wajah gadis itu memerah, bibirnya ikut bergetar seperti tubuhnya. Saat merasakan ada sesuatu yang sedang lengket di dahinya. Dengan perlahan ia membuka matanya, untuk melihat siapa yang sudah menabrak dirinya tadi.
Pria bermata biru safir dengan garis di wajahnya, berambut kuning dengan keterkejutan yang sama dengannya. Ia tahu siapa pria ini, karena mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Hei, siap kau? Apa yang kau lakukan pada Hinata? Kurang ajar...." Seseorang berteriak dari belakang Naruto dewasa, disusul dengan lemparan Kunai.
"Menjauh lah dari ibuku..." Disusul dengan suara seorang anak laki-laki.
Sekarang Naruto sadar siapa kedua orang yang sedang berdiri di belakangnya. Dalam hitungan detik Naruto sudah berada tepat di belakang Boruto, tangannya langsung menjewer telinga putranya. Hinata masih diam tak berkutik, mungkin jika hanya berhadapan dengan Naruto versi dewasa ia tak akan tumbang. Tapi ini, 3 orang dengan umur yang berbeda dengan penampilan yang hamoir sama persis.
"Ayah... Maaf aku tidak tau itu kau -ttebasan. Ibu tolong aku...." Boruto agak merengsek sekarang.
"Naruto-kun" gumam Hinata sebelum Brukkk...
"Ah, ibu... Mengapa kau pingsan lagi sebelumnya sudah tidak pernah -ttebasan. Setidaknya tolong anakmu dulu bu."
"Astaga...Hime. kenapa ini terjadi padamu lagi."
"Hei, dia itu gadis 16 tahun bukan 19 tahun -ttebayo" celetuk Naruto remaja.
Apa-apaan pria masa depan itu, beraninya dia melakukan itu pada Hinata. Cemburu dengan dirinya sendiri? Ya, mungkin. Lagi pula istrinya ada di masa depan bukan di masa sekarangkan?!. Naruto menggendong tubuh mungil Hinata, ia menatap wajah damai gadisnya itu agak lama sebelum suara putranya kembali mengusik gendang telinganya.
"Ayah, apa yang kau lakukan? Cepat baringkan ibu di papan sana."
"Aku tau -ttebayo. Jangan memerintah aku ini ayahmu, Dasar anak nakal ini."
"Dasar anak nakal ini.... Memangnya kenakalanku ini turunan dari siapa kalau bukan ayah."
"Apa katamu?!" ucap kedua Naruto
"Tidak usah berlebihan seperti itu -ttebasan."
Jujur saja Boruto masih kesal setelah mengetahui sebagian kecil rahasia papanya. Tadi ia pergi dengan tiba-tiba meninggalkan Ayahnya, yah meskipun ia juga disusul oleh ayah remajanya.
"Hnm..." Perlahan Hinata mencoba membuka matanya.
"Ah, ibu. Kau sudah sadar -ttebasan."
Puing...
"Are...are.... Ibu jangan pingsan lagi."
Cukup, sudah terlambat. Hinata kembali pingsan saat melihat ketiganya sedang berjejeran tepat didepan matanya. Dengan posisi yang membentuk tangga dengan Naruto remaja yang ada di tengah. Yah, meski sudah terlambat untuk Naruto dewasa namun tentu ia juga terkejut dan gemes dengan Hinata, kenapa ia baru sadar kalau Hinata remaja dulu sangat menggemaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FROM FUTURE ✅
Fanfiction👤Karakter milik MASASHI KISHIMOTO dan MIKIO IKEMOTO. 🖼️Pinteres "Mana ada Ninja yang bisa menciptakan Alat seperti itu -ttebayo, kau jangan membohongi aku Bocah" Uzumaki Naruto "BAKA Otou-san!!! Aku serius -ttebasa. aku anakmu di masa depan" Uzum...
