Ibu dan Paman Shikadai

10.1K 668 29
                                        

Ketika hari sudah menjelang pagi, dan matahari mulai menempati tempatnya, Shikadai, Shikamaru,Inojin,Sai, Cho-Cho, Karui dan Omoi sudah bangun sejak tadi, mereka akan segera pergi mencari Naruto,Boruto dan Sarada. Lalu kembali ke desa Konohagakure.

"Kalian tau, ini jauh lebih melelahkan jika harus terus melompat dan berlari untuk sampai ke tempat tujuan. Aku lelah dan kehausan, perutku juga sudah lapar."

"Dasar, gemuk. Padahal kau baru makan 4 ekor ikan bakar tadi."

"Akan lebih bagus, jika dimasa ini sudah ada stasiun kereta. Iyakan?"

"Aku sih netral, aku juga tidak terlalu sering menaiki kereta jika itu masih dekat dengan area rumahku. Tapi yah, masa ini memang masih kolot, di masa ini bahkan belum ada cat warna."

"Hei, bisa kalian cepat sedikit?"

"Ibu, Bisa kita beristirahat dulu? Lagi pula pasti sekarang Boruto dan Sarada sudah ada bersama dengan Nanadaime."

"Hoi, rambut nanas...." Panggil Karui

Orang dengan julukan baru itu adalah Shikamaru. Tentu saja meskipun mereka sudah mengobrol, tetapi Karui sama sekali belum mengetahui namanya. Ia hanya akan berbicara jika memang sedang dalam obrolan. Selebihnya, Karui hanya mengikuti para Shinobi Konoha.

"Aku Shikamaru, jangan panggil aku rambut nanas lagi."

",Hah, mendokusein. Ayo cepat, lagi pula didepan nanti sudah perbatasan antara Konoha dan desa lainnya.." lanjut Shikamaru.

"Ayah, mengapa kita kesana? Bukankah kemarin Boruto dan Sarada jatuhnya bukan disana?"

"Hanya ada satu goa di sekitar lokasi kejadian, dan itu dekat dengan perbatasan antar desa. Mereka mungkin ada disana."

"Baiklah, aku rasa tak apa jika kita terus bergerak ke sana. Semakin cepat menemukan .mereka, semakin bagus kan,Shika?"

"Hu'um..."

"Pelankan gerak kalian, ku rasa ada yang datang dari depan."

Mereka memelankan laju gerak mereka sesuai dengan instruksi Sai. Ia sudah membuat satu klon miliknya untuk ia tugaskan mengamati sekitar, selama mereka menuju ke lokasi tujuan. Setelah tak lama, mereka akhirnya sampai di perbatasan.

Bertepatan dengan itu pula, ketiga Shinobi yang datang dari arah yang berbeda juga tiba secara bersamaan. Ah ralat, seorang dari mereka adalah pemimpin muda dari desa Sunagakure.

"Ibu, siapa laki-laki berambut merah itu?"

"Kenapa?"

"Dia sangat tampan, mengapa ibu tidak menikah dengannya saja?"

"Apa kau pikir dia termasuk tipeku?"

"Ah, benar juga. Tipe ibu kan pria gemuk seperti ayah."

"Hush, sudah. Sekarang kau diam saja."

Cho-Cho masih mengagumi sosok tampan berambut merah, yang ada di hadapan mereka sekarang. Berbeda dengan Shikamaru dan Shikadai, ekspresi dari ayah dan anak itu terlihat sangat berbeda.  Shikamaru dengan wajah malasnya, karena bagi dirinya perempuan paling merepotkan dalam hidupnya adalah Temari.

Ia bahkan masih tidak percaya bahwa kelak wanita yang akan ia nikahi adalah gadis itu, namun bukti nyata sudah ada di depan matanya. Sepertinya hidup Shikamaru tidak akan pernah lepas dari Temari, gadis itu adalah satu-satunya yang dekat dengannya selain Ino teman satu timnya dan teman gadisnya saat di akademi dulu, Sakura dan Hinata.

Tentu sja dibandingkan dengan Ino yang cerewet, Sakura dan Hinata mungkin jauh lebih baik, mereka tidak banyak bicara, terutama Hinata. Gadis itu terlalu pendiam,  ia bahakan lupa berapa kali mereka ngobrol, sepertinya bisa di hitung dengan Jari.

FROM FUTURE ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang