Gadis berambut gulali itu sedang berdiri di dekat pohon besar, sejak tadi setelah ia terbangun sakura selalu melirik ke arah belakang, disana masih ada Sasuke yang tertidur pulas. Sepertinya pemuda itu terlalu lelah sekarang. Ia tidak tahu apa yang sudah di lakukan oleh pemuda itu sehingga jadi seperti ini.
Sasuke dulu tidak seperti ini.
Dulu ia adalah seorang laki-laki yang aktif, waktu miliknya ia pergunakan sebaik mungkin untuk berlatih dan sisanya ia habiskan di kediamannya. Ya tentu jika tidak ada hal penting, seperti misi atau hal lainnya Sasuke tidak akan pergi keluar.
"Dulu maupun sekarang, dia masih saja terlihat tampan."
Sakura masih tidak menyadari kalau ada Sasuke lain yang sedang mendengar ucapannya, ini mungkin karena Sasuke yang ia kenal ada di dekatnya. Di atas pohon Sasuke dewasa sudah menunduk, mendengar pujian dari Sakura remaja membuatnya agak malu. Sarada yang melihat papanya seperti itu langsung mengejek dengan senyum meremehkan.
"Cih, baru di puji tampan saja sudah seperti ini. Bagaimana kalau mama tiba-tiba memeluk atau mencium papa."
"Cukup Sarada. Jangan bicara lagi, aku akan pergi sekarang."
"Papa mau kabur, ingat perintah Nanadaime."
"Ck, Ushuratonkachi. Jadi sekarang apa?"
"Ayo kita pergi bertemu mama, dia pasti akan kaget."
"Baiklah."
Sepasang ayah dan anak itu pun pergi menghampiri Sakura, sebenarnya Sasuke sangat tidak ingin terlalu dekat dengan Sakura dimasa ini, karena memori buruknya akan selalu terngiang. Ia ingat bagaimana perjuangan Sakura selama ini, gadis gulali yang tetap setia menunggu dia pulang. Sasuke juga mengingat, sudah ada hampir beberapa kali ia membunuh Sakura dan terutama berapa kali air mata gadis itu jatuh karenanya.
Apa yang paling Sasuke ingat adalah sifatnya yang agak berbeda di depan Sakura. Sepanjang ia hidup, Sasuke hanya pernah mengucapkan 'Terima kasih' pada Sakura. Selebihnya hanya respon kecil seperti 'Hn' atau 'Ya.' (PS: ini kalau dari alur animenya)
"Mama"
Sakura melirik, " Eh, Sarada...."
"Ah, Kau kan paman yang bersama dengan paman berambut kuning tempo hari," angguk Sakura sambil mencoba mengingat lagi.
'Paman,yah?' batin Sarada, ia tertawa dalam hati melihat respon mamanya.
Dahi Sasuke berkerut, namun kembali ia mengingat perbedaan umur mereka di masa ini memang tidak ada yang salah. Sakura berusia kisaran 16/17 tahun sedangkan ia yang berasal dari masa depan sudah berumur 30 tahunan. Terlalu tua bukan jika dilihat dari zaman ini.
"Haha, mama. Paman ini adalah papaku."
"Eh?! Maksudmu dia Sasuke-kun?"
"Iya benar. Papa dan Nanadaime datang untuk menjemput kami Kemabli."
"Nanadaime? Maksudmu pria yang aku temui tempo itu adalah Naruto?"
"Benar sekali."
"Astaga, aku sampai tidak mengenali mereka berdua. Naruto aku masih agak familiar, tapi tidak dengan Sasuke-kun. Aku rasa ini karena rambutnya yang panjang. Jadi menutupi sebagian wajahnya."
"Ya, papa punya alasan sendiri untuk rambut panjangnya."
"Begitu,yah?"
"Hn."
"Papa, katakan sesuatu selain hn, papa sangat irit bicara. Aku heran kenapa mama bisa tahan dengan papa."
Sasuke ngeri sendiri melihat putrinya. Ia seperti Naruto saja yang dulu muda membuatnya kesal sendiri. Gadis ini tidak tahu saja kalau Sasuke sekarang sedang canggung, ah tidak. Lebih tepatnya Sasuke bingung ingin mengatakan apa pada Sakura yang masih remaja.
KAMU SEDANG MEMBACA
FROM FUTURE ✅
Fanfiction👤Karakter milik MASASHI KISHIMOTO dan MIKIO IKEMOTO. 🖼️Pinteres "Mana ada Ninja yang bisa menciptakan Alat seperti itu -ttebayo, kau jangan membohongi aku Bocah" Uzumaki Naruto "BAKA Otou-san!!! Aku serius -ttebasa. aku anakmu di masa depan" Uzum...
