Waktu Bersama

20K 1.4K 21
                                        

Di sebuah ruangan terlihat dua orang bersurai kuning saling menatap, tepatnya anak remaja berumur 16 tahun itu yang menatap kearah bocah laki-laki dengan mimik wajah cemberut.

Anak laki-laki yang di beri tatapan seperti itu hanya menghela napas malas, menanggapi gelagat ayah masa depannya ini.

"Kenapa aku harus membawa mu kemari, -ttebayo"

"Sudah ku bilang aku anakmu, -ttebasan. Tentu saja aku harus ikut bersamamu,tidak mungkin aku pergi bersama ibu. Aku tidak mau bertemu dengan kakek Hiashi, dia menyeramkan"

Mendengar itu, Naruto setuju jika ayah Hinata adalah orang yang menyeramkan dengan mata putih khas klan mereka namun yang masih belum ia percaya adalah Boruto anaknya dari masa depan,bukankah itu sangat mustahil. Shinobi mana yang bisa menciptakan alat seperti itu.

Jika ada, Naruto juga ingin melakukan perjalanan waktu ke masa dia belum lahir untuk mengetahui siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya.

"Huh, yasudah. Bagaimana aku di masa depan? dan apakah aku berhasil membawa Sasuke kembali?"

"Ayah menyebalkan, hanya karena ayah menjadi Nanadaime ayah sudah tidak lagi memperhatikan keluarga, ayah bahkan menggunakan bunsin pada ulang tahun ku dan ulang tahun Hima. Ayah berhasil membawa kembali paman Sasuke"

"Syukurlah. Eh, tadi kau bilang Nanadaime? Maksudmu aku adalah Hokage ke-7. Lalu siapa Hima?" 

"Himawari adikku, yang artinya dia adalah Putrimu"

"Hah, jadi aku punya dua orang anak"

"Tentu saja, -ttebasan"

"Begitu,yah"

"Hn, kau terlihat seperti tidak suka -ttebasan"

"Eh, bukan begitu. Aku hanya tidak menyangka bahwa akan menikah dengan Hinata. Sejak kami di akademi, dia sangat aneh dan selalu pingsan ketika berhadapan denganku"

"Bibi sakura memang benar, ayah bukan pria yang Peka. Untung saja, ayah bisa cepat sadar, kalau tidak ibu sekarang pasti sudah menjadi milik orang lain"

Deg

Jantung Naruto berdetak tidak karuan mendengar perkataan anak dari masa depannya itu. Ada rasa tidak telah yang muncul jika membayangkan Hinata bersama dengan orang lain.

Memori kecilnya kini kembali, dimana ia bersama dengan Hinata dan juga Kiba serta Akamaru menjalankan misi, tepat di taman bunga dimana mereka istirahat sejenak. Naruto pertama kali memuji masakan Hinata dengan berkata " Hinata, kau adalah calon istri yang baik"

Naruto tidak menyangka jika perkataannya itu justru benar-benar menjadikan Hinata sebagai istrinya. Mungkin benar ia bukan orang yang peka, namun sekarang sepertinya ia akan belajar untuk sedikit peka terhadap perasaan gadis bersurai indigo itu.

🍜

Ditempat Shikamaru

Shikadai dan Shikamaru sedang duduk di teras, mereka berhadapan dengan Shikaku, ayah dan kakek dari kedua Shika itu.

Shikadai menatap intens kearah kakeknya, ini kali pertama untuknya bertemu dengan ayah dari ayahnya itu.

"Ekhm, jadi kau adalah anak Shikamaru dari masa depan"

"Ya, kakek"

Shikaku mengangguk tanda mengerti, Hanay dengan melihat Shikadai saja ia sudah bisa tahu. Shikadai mencopy semuanya dari Shikamaru ketika masih genin dulu, hanya saja yang membedakan adalah mata bocah laki-laki itu.

"Lalu, siapa ibumu?"

"Ibuku adalah Temari dari desa Sunagakure"

"Ah, gadis kipas itu. Shikamaru, bukankah dia yang menjadi lawan mu saat final ujian Chunin dulu"

"Mendokusei, ayah tidak perlu mengingat itu lagi"

Shikaku tersenyum tipis, ia jadi ingat tentang masa kecil Shikamaru, saat misi penyelamatan Sasuke, gadis kipas yang bernama Temari itulah yang menolong putranya.

Ia juga ingat ketika final ujian Chunin dulu, putranya juga berhadapan dengan gadis itu. Ketika pertarungan selesai, Shikamaru dengan sifat malasnya menyerah dan memberikan kemenangan telak pada Temari.

Ia tidak menyangka jika Shikamaru kelak akan bersama dengan gadis kipas itu dan memiliki seorang anak yang jenius seperti Shikadai.

🍜

Di tempat Chouji

Cho-Cho dan Chouji sedang berada di ruang makan bersama dengan Chouza Akimichi. Sama seperti Shikadai tadi Cho-Cho juga kali pertamanya bertemu dengan kakeknya.

Mata Cho-Cho berbinar bahagia melihat rupa sang kakek yang terlihat berisi khas klan Akimichi.

"Kakek, aku sudah lama ingin bertemu denganmu"

"Kau siapa?"

"Aku Cho-Cho, cucumu di masa depan"

Chouza beralih menatap kearah putarannya itu, meminta penjelasan.

"Ceritanya panjang ayah, yang penting sekarang aku tahu di masa depan nanti aku akan menikah dan memiliki seorang anak"

Chouji ingat ketika masih genin dulu, ia sempat tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya karena melihat teman-teman perempuannya berbondong-bondong melakukan diet hanya untuk menarik perhatian  Sasuke. Ia juga ingat dulu ia juga sering di ejek karena tubuhnya yang gemuk.

Tetapi sekarang, ia percaya bahwa di dunia ini masih ada perempuan yang akan menerima bobot tubuhnya berkat kedatangan Cho-Cho dan teman-temannya

"Siapa nama ibumu?"

"  ibuku bernama Karui, dia berasal dari Kumogakure"

"Desa Kumo,yah"

Chouza maklum, pantas saja warna kulit cucu masa depannya itu berbeda dengan warna kulit klan Akimichi.

🍜

Di tempat Ini

Inojin sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan Ino dan  Inoichi. Toko bunga milik Yamanaka itu, lebih cepat tutup hari ini setelah Inoichi melihat Inojin datang bersama dengan putrinya.

"Ayah, dia terlihat maniskan?"

"Hn, tentu saja. Siapa namamu?"

"Aku Inojin Yamanaka kakek, dan ibu aku ini anak laki-laki bukan anak perempuan"

"Oh, ayolah. Apa salahnya jika aku katakan itu, lagipula aku adalah ibumu di masa depankan"

"Huh"

"Lalu siapa nama ayahmu?"

"Nama ayahku Sai. Dia adalah anak yang di asuh oleh Shimura Danzo, mantan anbu Be dan mantan anggota tim 7 yang menggantikan posisi Paman Sasuke untuk sementara waktu"

"Aku penasaran bagaimana rupa orang bernama Sai itu"

"Ibu akan segera bertemu dengannya"

"Ah baiklah"

🍜

Ditempat Hinata

Gadis bersurai indigo itu sedang berlatih seperti biasa dengan Neji saudara sepupunya. Pikirannya masih saja terus terarah pada bocah laki-laki yang mengatakan jika dia adalah anaknya dan Naruto.

Lelaki pirang yang sudah lama ia suka sejak masih kecil dulu, lelaki yang menolongnya dari gangguan para anak laki-laki. Dan lelaki yang mengajsrkan dia untuk tidak menyerah.

"Hinata, sepertinya kau terlihat sedikit tidak fokus"

"Maaf, kak Neji"

Neji memilih duduk di teras seraya menikmati secangkir teh dan cemilan yang sudah di sediakan sejak tadi. Sedangkan Hinata masih saja terus memikirkan kejadian hari ini.

Bagaimana dirinya nanti akan berhadapan dengan Naruto jika ia sudah tahu sekarang bahwa kelak ia akan menjadi istri dari seorang Uzumaki Naruto, sedangkan menatap wajah lelaki pujaannya itu saja ia sudah merona dan berakhir dengan tidak sadarkan diri.

Tbc

Lanjut gak nih....

FROM FUTURE ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang