22. Mutiara Yang Terbuang

5.9K 660 113
                                        

Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

Alternate Universe Love Story Of Naruto and Hinata


Kelopak mata sewarna bunga lili itu mengerjap pelan, perlahan mutiara keunguan di baliknya mulai mengumpulkan cahaya. Kesadaran mulai memenuhi syarafnya ketika cahaya putih dari lampu memenuhi indera penglihatannya.

Lampu kristal yang mewah menjadi objek pertama yang ia tangkap, mengumpulkan kembali sepenuhnya kesadarannya, Hinata mengalihkan pandangannya pelan, kepalanya masih amat terasa pening. Satu botol infus dengan selang yang tertancap di punggung tangannya membuat ia tersentak.

Ingatannya mundur kebelakang, ia terkapar di depan stasiun setelah uang tabungannya di rampas. Dengan panik pandangannya mengitari ruangan dimana ia terbaring, lemari cokelat rendah dan lemari pendingin menjadi objek selanjutnya yang ia tangkap.

'Aku berada di rumah sakit...' Batinnya bergumam, tersenyum kecut mengingat kejadian yang ia alami sebelumnya, membuatnya semakin yakin tempat dimana ia berada. Dahinya berkerut, dari penglihatannya ia sudah dapat memastikan bahwa ruangan ini adalah kamar VVIP di rumah sakit yang sangat mahal. 'Bagaimana aku mampu membayar kamar ini...'

Tangannya terangkat dari sisi tubuhnya, menggapai bagian tubuhnya yang paling ia khawatirkan. Tangan putih itu menyentuh perlahan perut rata yang terlapisi selimut rumah sakit berwarna tosqa itu, 'maafkan Kaa-chan, nak...' Batinnya berujar lirih penuh sesal, mengingat bagaimana posisi ia terjatuhnya membuatnya takut untuk berharap untuk keselamatan nyawa kecil yang bersemayam dalam rahimnya.

Ia menahan tangis, menengadahkan pandangannya pada langit-langit putih kamar itu. "Mungkin sekarang kau sudah bahagia berada di sisi Kami-sama, nak. Maafkan Kaa-chan yang tak bisa menjagamu...."

Cklek

Suara pintu kamar itu terbuka, Hinata sontak duduk ketika dari jauh pandangannya menangkap sosok dengan jas putih. Sontak membuat Hinata mendudukkan dirinya.

"Berbaringlah, itu bisa membahayakan bayimu...." Ujar pria berjas putih itu dari kejauhan.

Hinata mengerutkan dahinya kebingungan, di satu sisi ia merasakan kata-kata bayi yang diucapkan oleh pria berjas putih itu. Namun di sisi lain, rasa penasaran merajai benaknya. 'Suara itu, terdengar akrab...' Batinnya bertanya, seraya kembali merebahkan tubuhnya.

"Toneri-kun..." Bibirnya bergumam tak percaya saat sosok dokter itu semakin mendekat padanya.

Pria bersurai keperakan itu melemparkan senyum hangat seraya berjalan mendekat ke arahnya, ia diikuti oleh seorang wanita berpakaian putih yang bisa dipastikan adalah perawat.

"Lama tidak berjumpa Hinata..." Pria yang dipanggil Toneri itu berdiri di sisi tubuhnya. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya lembut.

Hinata tersenyum kecut. Ia mengenal Toneri, sepupu jauhnya dari klan berbeda namun masih memiliki garis keturunan yang sama. Ia mengenal Toneri sejak kecil, saat masih bocah ingusan mereka sering bertemu saat Toneri pulang ke Tokyo, namun cinta pertama Hinata pada Naruto membutakannya dari perhatian Toneri yang selama ini ditujukan padanya.

"Seperti yang kau ketahui..." Hinata menjawab lirih, Toneri seorang dokter, ia tentu tahu keadaan Hinata sekarang yang berbadan dua.

Toneri menghela nafas pelan, "Suster tolong....." Ia melirik pada perawat di belakangnya, sang perawat mengerti dengan isyarat yang diberikan sang dokter, lalu maju memutari ranjang pasien, berdiri di sisi lain Hinata, perawat itu melepaskan kancing piama rumah sakit Hinata, di bagian bawah hingga bagian perut rata wanita hamil itu terlihat jelas.

RevengeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang