Dahi Delfin berkerut menatap ke arah Angga dan wanita itu bergantian, dia berdiri dan berjalan menuju arah kedua orang itu.
"Fin, lu mau kemana?" Andri memegang lengan Delfin.
"Gue samperin." Sahut Delfin dengan datar tanpa melihat Andri. Delfin yang bertingkah seperti ini, mereka bertiga bertukar tatap kemudian berdiri dan mengikuti Delfin.
Warteg dan caffe hanya terpisah oleh lebarnya jalan raya. Hari ini jalanan cukup sepi, tidak terlalu banyak kendaraan seperti hari biasanya. Lampu lalu lintas berubah merah menandakan segala jenis kendaraan apapun dilarang lewat, Delfin melangkahkan kakinya lebar-lebar dengan harapan dalam satu langkah dia bisa menghampiri Angga.
"Fin, tungguin kita!" Tia berseru, mereka bertiga mencoba menyamakan laju jalan mereka dengan Delfin, tapi jarak mereka terpaut cukup jauh. "Ah elah, ribet banget pake rok." Orang tua Tia menyuruhnya menggunakan rok, dengan patuh Tia mengenakan rok panjang dan lebar, tanpa Andri duga Tia langsung mengangkat roknya tinggi-tinggi.
"EH, JAN-cuk lu."
Andri tidak jadi terkejut, wajahnya yang semula merah malu berubah dingin datar. Di balik rok lebarnya, Tia mengenakan celana panjang jenis track pants. Perempuan itu menatap Andri dengan mata memicing "Apa lia-liat? Buruan jalan! Ngapain berenti ditengah jal-"
"FIN!"
Teriakan Rio yang bersamaan dengan bunyi hantaman mengalihkan perhatian keduanya. Andri dan Tia yang tertinggal cukup jauh langsung menatap Rio, kemudian menatap asal bunyi hantaman yang baru saja mereka dengar.
Wajah keduanya memutih dan bibir mereka bergetar "A-Astaghfirullah! FIN?!" Tia dan Andri langsung menghampiri. Orang-orang segera datang dan berkerumun mengelilingi dua remaja yang berada dalam kondisi berbeda.
"Oy! Cepet panggil ambulance atau bawain mobil. Cepetan!" Rio berbalik menghadap Andri dan Tia dengan ekspresi panik. Andri segera mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi ambulance, sedangkan Tia mencari pinjaman mobil "Pak, Bu, boleh kita pinjam mobilnya? Kita janji waktu balikin bakal bersih dan suci." Tia bertanya kepada semua orang yang ada.
"Dek, pake mobil saya aja, Itu mobil saya yang warna putih." Seorang ibu-ibu segera memberi Tia kunci mobilnya sekaligus menunjukkan letak mobilnya. Tia tersenyum cerah dengan mata berkaca-kaca kepada pasangan suami istri itu, ucapan terima kasih dia ucapkan berulang kali.
"Yo, Gue dapet mobilnya, Andri, bantu Rio angkat Delfin biar gue ambil mobilnya."
Delfin menghembuskan nafas lemah melalui bibir pucatnya yang berhiaskan darah, kepalanya berlumuran cairan merah dan matanya tertutup rapat. Rio memegang bagian atas tubuh Delfin, dan Andri memegang bagian bawah, Tia segera membuka pintu mobil bagian belakang. Kerumunan itu menyebar guna memberi jalan bagi mereka bertiga.
***
Angga duduk dengan punggung lemas dan wajahnya menunjukkan ekspresi datar. Dia sebenarnya ke caffe ini sendirian untuk menenangkan pikirannya, tapi seorang wanita datang tiba-tiba dan duduk di hadapannya.
"Loh, kamu di sini? Lama gak ketemu, Angga. Gimana kabar kamu?"
"Baik" suaranya monoton, terlihat Angga tidak ingin berurusan dengan orang di depannya. Wanita itu memiliki rambut panjang bergelombang berwarna chocolate matcha, bibir berwarna plum segar, bentuk matanya seperti buah almond, di tambah sapuan make up natural membuat yang melihatnya hanya memiliki satu kata, cantik.
"Kamu cuek banget, sih." Bibirnya dikerucutkan dengan pipi menggembung manja. Angga tetap menatap datar wanita di depannya, tidak berniat membuka percakapan lebih.
"Jangan cuekin aku, dong. Aku kangen sama kamu, masa kamu gak kangen sama aku?"
Hembusan nafas malas keluar dari bibir Angga membuat wanita itu kaget. Angga menatap tepat ke mata "Gina, kita gak ada hubungan apa-apa lagi, jadi buat apa aku kangen kamu?" Setelah mendengar jawaban itu, wajah Gina sedikit muram, tapi ekspresi ceria tetap dia pertahankan. Dia mencoba membuka topik yang sedang hangat diperbincangkan massa demi bisa mengobrol lama dengan Angga. Dari bencana alam sampai kasus selebriti dia ceritakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILKY
Novela JuvenilLelaki itu tidak punya rahim, tidak bisa mengandung, tidak bisa menyusui tentu saja. Angga, berusia 27 tahun, entah bagaimana dadanya mengeluarkan cairan laktasi. Bagaimana bisa? Apalagi ini terjadi saat dia seharusnya sudah menikah atau paling tida...
